Arsenal memulai musim baru dengan status yang selama lebih dari dua dekade hanya menjadi mimpi di London utara, yakni juara bertahan Liga Inggris. Namun, setelah penantian 22 tahun berakhir, tantangan Mikel Arteta sekarang justru meningkat karena mempertahankan takhta memiliki tekanan berbeda.
The Gunners memastikan gelar Liga Inggris 2025/26 setelah Manchester City kehilangan peluang mengejar mereka pada pekan ke-37, kemudian menutup musim dengan 85 poin. Arsenal akhirnya finis tujuh angka di atas City dan mengangkat trofi liga untuk pertama kalinya sejak era Invincibles 2003/04.
Masalahnya, sejarah memperlihatkan bahwa menjadi juara sekali dan mempertahankan gelar adalah dua pekerjaan yang sama sekali berbeda. Arsenal terakhir berhasil mempertahankan gelar kasta tertinggi Inggris pada musim 1934/35, sehingga Arteta kini mengejar pencapaian yang tidak terjadi selama 91 tahun.
Bahkan tim Invincibles asuhan Arsene Wenger yang tidak terkalahkan sepanjang musim 2003/04 gagal mempertahankan mahkota satu tahun kemudian. Sejak kesuksesan 1935, sembilan gelar Arsenal sebelum musim lalu juga tidak pernah langsung diikuti keberhasilan menjadi juara kembali pada musim berikutnya.
Arteta memahami beratnya tantangan tersebut dan langsung mengirim pesan setelah Arsenal menaklukkan Manchester City 3-0 di Community Shield. Pelatih asal Spanyol itu menegaskan keinginannya merasakan kembali momen menjadi juara, tetapi mengakui dibutuhkan sesuatu yang istimewa untuk melakukannya dua musim beruntun.
Respons pertama para pemain juga terlihat meyakinkan ketika Coventry City datang ke Emirates pada 21 Agustus 2026. Arsenal menang 3-0 melalui Kai Havertz, Bukayo Saka dan Martin Odegaard, sekaligus memberikan pembukaan sempurna bagi perjalanan mempertahankan gelar Liga Inggris.
Arsenal dan Kutukan 91 Tahun yang Belum Terpecahkan
Secara keseluruhan, Arsenal sudah menjuarai kasta tertinggi Inggris sebanyak 14 kali, sebuah catatan yang menempatkan mereka di kelompok elite sepak bola negara tersebut. Namun kemampuan mempertahankan gelar justru menjadi bagian sejarah yang jauh lebih sulit ditaklukkan dibandingkan sekadar memenangkan satu musim kompetisi.
Kesulitannya terlihat semakin jelas jika statistik dipersempit ke era Premier League, yang dimulai pada 1992/93. Hanya Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho dan Pep Guardiola yang pernah membawa tim mereka menjadi juara pada dua musim berturut-turut sejak kompetisi memakai format modern.
Ferguson melakukan pekerjaan tersebut berkali-kali bersama Manchester United, sedangkan Mourinho langsung memenangkan dua gelar pertamanya bersama Chelsea pada 2004/05 dan 2005/06. Guardiola bahkan membawa Manchester City menembus batas dengan empat gelar Liga Inggris berturut-turut antara 2020/21 hingga 2023/24.
Wenger tidak pernah melakukannya bersama Arsenal meskipun tiga kali memenangkan Premier League, sementara Carlo Ancelotti dan Jurgen Klopp juga gagal mempertahankan gelar setelah menjadi juara. Fakta itu memperlihatkan betapa kualitas tim saja tidak menjamin keberhasilan mengulangi pencapaian pada musim berikutnya.
Danny Simpson, anggota Leicester City ketika menjadi juara pada 2016, menggambarkan perubahan psikologis yang muncul setelah sebuah tim memakai lambang juara. Setiap lawan mempunyai motivasi tambahan untuk mengalahkan sang kampiun karena kemenangan tersebut dianggap sebagai bukti mampu menumbangkan tim terbaik.
Leicester menjadi contoh ekstrem karena setelah membuat salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Liga Inggris, mereka hanya finis di posisi ke-12 pada musim berikutnya. Simpson mengingat bagaimana kekalahan awal, rekrutmen yang tidak maksimal, dan tambahan pertandingan Eropa perlahan menghilangkan momentum juara mereka.
Situasi Arsenal memang berbeda karena skuad Arteta sudah terbiasa menghadapi jadwal Liga Champions dan tekanan persaingan papan atas selama beberapa musim. Namun sejarah Leicester tetap menjadi peringatan bahwa keyakinan juara dapat menghilang cepat ketika rangkaian hasil buruk mulai mengubah suasana ruang ganti.
Wes Brown, yang lima kali memenangkan liga bersama Manchester United, menilai ancaman terbesar bagi juara bertahan muncul ketika pemain menganggap standar musim sebelumnya akan cukup. Menurut mantan bek Inggris tersebut, intensitas berlari, determinasi dan fokus harus dipertahankan karena kekalahan tidak terduga selalu bisa datang.
Arsenal Punya Keunggulan yang Tidak Dimiliki Rival
Jika sejarah menjadi lawan Arsenal, kondisi Liga Inggris 2026/27 justru memberi Arteta keuntungan yang cukup besar dibandingkan pesaing terdekat. Premier League mencatat lima anggota kelompok Big Six menjalani proyek baru, sementara sembilan klub memulai musim dengan manajer baru.
Manchester City kini berada di bawah Enzo Maresca, Liverpool memulai era Andoni Iraola, sedangkan Chelsea memasuki proyek baru bersama Xabi Alonso. Manchester United dipimpin Michael Carrick dan Roberto De Zerbi menghadapi musim penuh pertamanya bersama Tottenham, membuat para rival sama-sama beradaptasi.
Arteta berada dalam posisi sebaliknya karena Desember nanti akan menandai tujuh tahun sejak ia mengambil alih Arsenal. Sistem permainan, metode latihan, struktur staf dan tuntutan kepada pemain sudah tertanam, sehingga The Gunners tidak perlu menjalani fase pengenalan seperti mayoritas pesaing.
Stabilitas tersebut menjadi salah satu alasan Arsenal kembali ditempatkan sebagai favorit utama dalam perebutan gelar. Premier League bahkan menilai kepergian Guardiola dari Manchester City dapat membuka peluang Arteta menjadi manajer keempat yang sukses mempertahankan gelar pada era kompetisi modern.
Pembukaan musim juga memperlihatkan ketidakstabilan sejumlah rival karena Manchester United kalah 0-2 dari Hull City dan Tottenham dihajar Brentford 0-3. Liverpool hanya membawa satu poin dari Newcastle setelah bermain 2-2, sementara City membutuhkan dua gol terlambat untuk membalikkan Bournemouth 2-1.
Chelsea memang kemudian memulai musim dengan kemenangan 3-2 atas Fulham, termasuk gol debut Morgan Rogers setelah transfer besarnya dari Aston Villa. Hasil tersebut menegaskan pesaing tetap mempunyai kualitas, tetapi proses adaptasi sistem baru dapat menjadi variabel yang menguntungkan Arsenal.
Aston Villa yang sebelumnya berpotensi menjadi penantang juga menjalani musim panas penuh perubahan setelah kehilangan beberapa pemain penting. Morgan Rogers pindah ke Chelsea, Youri Tielemans menuju Manchester United, Lucas Digne meninggalkan klub, sementara Ezri Konsa akhirnya bergabung dengan Arsenal.
Rekrutmen Arsenal Dibangun untuk Mencegah Rasa Puas
Arteta juga tampaknya memahami pelajaran Ferguson bahwa keberhasilan harus diikuti kompetisi internal baru agar pemain tidak merasa aman. Arsenal mendatangkan Bruno Guimaraes dari Newcastle sebagai salah satu transfer terbesar musim panas, memperkaya lini tengah yang sebelumnya sudah memiliki kualitas tinggi.
Premier League mencatat Arsenal juga merekrut Christos Tzolis setelah winger Yunani itu menghasilkan 17 gol dan 23 assist di liga Belgia musim lalu. Tzolis langsung memperlihatkan dampaknya pada laga pembuka dengan menciptakan peluang yang berujung gol Saka ketika menghadapi Coventry.
Penguatan tidak berhenti di lini tengah dan sayap karena Arsenal menambah Ezri Konsa dari Aston Villa dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai sekitar 55 juta pound termasuk bonus. Bek Inggris tersebut membawa pengalaman 286 penampilan bersama Villa sekaligus kemampuan bermain sebagai bek tengah maupun kanan.
Transfer Konsa menjadi semakin penting karena William Saliba mengalami masalah punggung, sedangkan Jurrien Timber masih terganggu cedera pangkal paha. Arteta dengan demikian memiliki kedalaman lebih besar untuk menghadapi musim panjang ketika Liga Inggris, kompetisi Eropa dan turnamen domestik mulai bertumpuk.
Bruno Guimaraes sendiri sempat diragukan tampil melawan Coventry setelah mengalami masalah kaki pada kemenangan Community Shield atas Manchester City. Situasi tersebut memperlihatkan mengapa Arsenal membutuhkan skuad lebih dalam, sebab mempertahankan gelar tidak mungkin bergantung pada sebelas pemain yang sama sepanjang musim.
Steve Nicol menilai kedalaman skuad Arsenal menjadi pembeda penting dibandingkan pengalaman Liverpool ketika mempertahankan gelar sebelumnya. Mantan pemain Liverpool itu melihat Arsenal mempunyai kemampuan menjaga kualitas perekrutan dan menambah pemain yang membuat skuad lebih kuat, bukan sekadar lebih besar.
Namun kedalaman skuad juga membawa tantangan baru karena Arteta harus menjaga pemain cadangan tetap terlibat tanpa merusak ritme pemain utama. Persaingan posisi dapat mempertahankan standar, tetapi juga membutuhkan manajemen ruang ganti yang lebih rumit ketika pemain internasional menuntut menit bermain reguler.
Tantangan Terbesar Arsenal Justru Ada di Kepala
Ferguson pernah menggunakan trik psikologis setelah Manchester United memenangkan Premier League pertama pada 1993 dengan mengatakan telah menyimpan tiga nama pemain yang akan mengecewakan tim. Belakangan ia mengakui daftar itu tidak pernah ada, karena tujuannya hanya mencegah para pemain merasa nyaman.
Arteta bukan sosok asing terhadap pendekatan motivasi yang tidak biasa, termasuk menghadirkan anjing bernama Win di pusat latihan Arsenal beberapa tahun lalu. Tantangannya sekarang adalah menemukan cara baru agar pemain tetap lapar setelah akhirnya mendapatkan trofi yang mereka kejar selama bertahun-tahun.
Secara taktik, perubahan aturan yang menekan pembuangan waktu dan kontak berlebihan ketika situasi sepak pojok juga dapat memaksa Arsenal melakukan penyesuaian. Tim Arteta selama beberapa musim mempunyai ancaman besar dari bola mati, sehingga lawan dan regulator akan semakin memperhatikan detail permainan tersebut.
Momentum karena itu menjadi sangat penting karena status juara tidak memberikan perlindungan ketika hasil mulai memburuk. Liverpool musim lalu membuka kompetisi dengan enam kemenangan beruntun, tetapi akhirnya hanya finis kelima dan tertinggal 25 poin dari Arsenal ketika musim berakhir.
Arsenal sudah memberi sinyal positif melalui kemenangan Community Shield atas City dan pesta tiga gol terhadap Coventry pada pertandingan pertama liga. Havertz, Saka dan Odegaard langsung mencetak gol, sementara Tzolis menunjukkan bahwa pemain baru dapat memberi dimensi tambahan terhadap struktur serangan Arteta.
Ujian berikutnya akan meningkat karena Arsenal harus bertandang ke Aston Villa sebelum menjamu Chelsea pada awal September, kemudian menghadapi rangkaian lawan dengan karakter berbeda. Jadwal tersebut akan memberikan gambaran awal apakah kestabilan sang juara benar-benar lebih kuat dibandingkan energi baru para pesaing.
Perjalanan mempertahankan gelar masih terlalu panjang untuk ditentukan berdasarkan satu pertandingan, bahkan ketika kemenangan pembuka terlihat begitu meyakinkan. Arsenal sendiri sudah mengetahui pelajaran itu karena keberhasilan satu musim tidak otomatis terbawa ke musim berikutnya ketika tekanan, cedera dan ekspektasi berubah.
Arteta kini mempunyai skuad yang lebih dalam, lingkungan klub yang stabil, pengalaman perebutan gelar, serta rival-rival yang sedang menjalani transisi besar. Semua keuntungan tersebut membuat Arsenal pantas menjadi favorit, tetapi justru status tersebut memastikan setiap lawan akan memperlakukan pertandingan menghadapi mereka seperti final.
Jika berhasil menjadi juara lagi, pencapaian itu tidak sekadar menambah satu trofi ke lemari Emirates, melainkan mengakhiri penantian yang berlangsung sejak 1935. Arsenal juga akan membawa Arteta masuk ke kelompok sangat kecil bersama Ferguson, Mourinho dan Guardiola sebagai pelatih yang mampu mempertahankan gelar Premier League.
Untuk sekarang, tantangan terbesar Arsenal mungkin bukan Manchester City, Liverpool atau Chelsea, melainkan bagaimana menjaga rasa lapar setelah mencapai tujuan yang begitu lama dikejar. Sejarah 91 tahun berdiri di depan Arteta, dan musim 2026/27 akan menentukan apakah generasi ini mampu menulis ulang sejarah klub.



