Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Aleksander Ceferin Tak Akan Tantang Gianni Infantino untuk Kursi Presiden FIFA

Aleksander Ceferin Tak Akan Tantang Gianni Infantino untuk Kursi Presiden FIFA

  • Agustus 24, 2026
Aleksander Ceferin menolak maju menggantikan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin memastikan dirinya tidak tertarik maju sebagai kandidat untuk menggantikan Gianni Infantino sebagai presiden FIFA. Namun, ia memperingatkan pemimpin FIFA itu harus mundur atau bersiap menghadapi penantang dalam pemilihan Maret mendatang.

Tekanan terhadap Gianni Infantino meningkat setelah rencana mencari investasi swasta untuk bisnis turnamen FIFA memicu penolakan luas. Tiga konfederasi kontinental menuding proses tersebut menyesatkan, sementara UEFA sebelumnya bahkan mengancam memboikot kompetisi FIFA jika skema diteruskan.

Nama Aleksander Ceferin sempat dipandang sebagai calon paling kuat untuk menantang Gianni Infantino karena hubungan keduanya memburuk selama kontroversi tersebut. Meski demikian, pria Slovenia berusia 58 tahun itu menegaskan fokusnya tetap bersama UEFA dan tidak mengincar kursi FIFA.

Dalam wawancara dengan podcast The Rest is Politics, Aleksander Ceferin menyebut ada dua alasan mengapa dirinya tidak akan maju. Pertama, ia mengaku mencintai UEFA dan pekerjaannya, sekaligus merasa suatu saat perlu menikmati kehidupan di luar politik sepak bola.

Aleksander Ceferin Pilih Bertahan di UEFA

Alasan kedua berkaitan dengan posisi moralnya ketika mengkritik Gianni Infantino dan arah kepemimpinan FIFA dalam beberapa bulan terakhir. Aleksander Ceferin menilai kredibilitasnya akan jauh lebih tinggi apabila kritik tersebut tidak dibayangi kepentingan pribadi untuk merebut jabatan presiden FIFA.

Konflik antara Aleksander Ceferin dan Gianni Infantino menguat ketika FIFA mengusulkan perusahaan komersial baru untuk mengelola sejumlah hak turnamen. Rencana tersebut mencakup kompetisi terbesar, termasuk Piala Dunia putra dan putri, dengan membuka ruang investasi dari modal swasta.

Proposal itu pada akhirnya dibatalkan setelah mendapat perlawanan kuat dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola internasional. UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia menjadi tiga kekuatan regional yang paling keras mempersoalkan transparansi, proses pengambilan keputusan, dan konsekuensi jangka panjang.

Aleksander Ceferin sejak awal tampil sebagai salah satu figur utama yang menentang langkah Gianni Infantino terkait skema investasi tersebut. Ia menilai persoalannya bukan sekadar uang, tetapi menyangkut siapa yang seharusnya memiliki kendali atas kompetisi dan warisan sepak bola dunia.

Posisi Gianni Infantino sebelumnya dianggap sangat kuat karena dukungan luas yang membawanya memimpin FIFA sejak 2016. Kini Aleksander Ceferin melihat situasinya berubah, terutama setelah muncul penolakan dari federasi, pemain, pelatih, mantan pemain, dan kelompok suporter.

Aleksander Ceferin mengatakan perkembangan politik sepak bola berubah hampir setiap hari dan banyak diskusi baru terus berlangsung di belakang layar. Ia juga mengungkapkan belum berbicara langsung dengan Gianni Infantino sejak kontroversi mengenai rencana investasi swasta tersebut mulai membesar.

Aleksander Ceferin Nilai Gianni Infantino Bisa Ditantang

Menurut Aleksander Ceferin, terdapat dua kemungkinan mengenai masa depan Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya. Pilihan pertama adalah menyadari bahwa dukungan politiknya telah berkurang, bukan hanya dari pemilik suara tetapi juga dari komunitas sepak bola secara luas.

Pilihan kedua adalah Gianni Infantino tetap maju dalam pemilihan Maret 2027 dan menghadapi seorang kandidat penantang. Aleksander Ceferin mengatakan belum mengetahui siapa figur tersebut, tetapi ia meyakini persaingan terbuka akan muncul apabila Infantino memilih mempertahankan jabatannya.

Pemilihan presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada Maret 2027. Tenggat untuk mengajukan kandidat ditetapkan 18 November 2026, sehingga beberapa bulan mendatang menjadi periode penting bagi peta kekuatan politik sepak bola dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Infantino muncul di Republik Dominika pada akhir pekan dan kembali mendapat pertanyaan mengenai masa depannya. Ketika wartawan Sky News James Matthews menanyakan apakah ia akan mundur, Infantino justru menjawab dengan candaan soal penata rambut.

Respons itu menjadi sorotan karena Infantino dan Matthews sama-sama berkepala plontos, sementara pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan krisis kepemimpinan serius. Insiden tersebut menambah perhatian terhadap cara presiden FIFA merespons tuntutan pertanggungjawaban dari sejumlah bagian komunitas sepak bola.

Tekanan yang dibahas Aleksander Ceferin juga berpotensi bergerak ke jalur institusional karena UEFA, CONCACAF, dan AFC dilaporkan mempertimbangkan mosi tidak percaya dalam Kongres FIFA. Langkah tersebut akan semakin memperbesar ketidakpastian mengenai kemampuan Gianni Infantino mempertahankan dukungan menuju pemilihan presiden berikutnya.

Meski Aleksander Ceferin meningkatkan tekanan, peta kekuatan belum sepenuhnya berbalik melawan Infantino karena dukungan dari Afrika dan Amerika Selatan masih terlihat. Konfederasi Sepak Bola Afrika serta CONMEBOL sejauh ini dipandang tetap menjadi dua basis penting bagi keberlanjutan kepemimpinannya.

Hubungan Aleksander Ceferin dan Gianni Infantino Berubah Drastis

Hubungan antara Aleksander Ceferin dan Gianni Infantino sebenarnya memiliki sejarah panjang sebelum konflik terbaru ini pecah. Infantino pernah menjadi sekretaris jenderal UEFA dan mendapatkan dukungan besar dari negara-negara Eropa ketika mencalonkan diri menggantikan Sepp Blatter pada 2016.

Ketika itu, pencalonan Gianni Infantino bahkan didukung Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris Greg Dyke yang menyebutnya sebagai figur lugas. Dukungan Eropa menjadi modal penting dalam pemilihan yang akhirnya membawa mantan pejabat UEFA tersebut ke posisi tertinggi organisasi sepak bola dunia.

Situasinya kini sangat berbeda karena sejumlah federasi Eropa telah menarik dukungan mereka terhadap Gianni Infantino setelah kontroversi pasca-Piala Dunia. Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia termasuk di antara asosiasi yang mengubah sikap terhadap kepemimpinan FIFA.

Enam asosiasi sepak bola Nordik juga menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap Gianni Infantino dan meminta peninjauan independen atas tata kelola FIFA. Tekanan tersebut memperlihatkan bahwa penentangan terhadap Infantino tidak hanya datang dari Aleksander Ceferin atau negara-negara besar Eropa.

Aleksander Ceferin Tolak Narasi Eropa Arogan

Aleksander Ceferin turut menolak anggapan bahwa UEFA mengambil sikap keras hanya untuk melindungi kepentingan federasi kaya dan klub besar Eropa. Menurutnya, narasi tersebut digunakan untuk menggambarkan pertentangan sebagai konflik antara Eropa yang makmur dan negara-negara sepak bola lebih kecil.

Ia mengatakan sering mendengar tudingan bahwa Eropa dianggap arogan karena menentang kebijakan FIFA, sedangkan Gianni Infantino diposisikan sebagai pembela negara kecil. Aleksander Ceferin menilai gambaran tersebut terlalu sederhana dan tidak mencerminkan alasan utama perlawanan terhadap rencana investasi FIFA.

Aleksander Ceferin kemudian mengingatkan bahwa Gianni Infantino sendiri berasal dari Eropa dan dahulu mendapatkan dukungan dari UEFA ketika maju memimpin FIFA. Menurut Aleksander Ceferin, bagian sejarah itu tampaknya dilupakan ketika kepemimpinan FIFA sekarang berhadapan dengan oposisi dari sepak bola Eropa.

Sikap Aleksander Ceferin untuk tidak mencalonkan diri membuat pertanyaan berikutnya bergeser kepada siapa yang berpotensi menjadi penantang Gianni Infantino. Presiden CONCACAF Victor Montagliani termasuk nama yang disebut dalam spekulasi, meskipun belum ada deklarasi pencalonan resmi dari figur tersebut.

Keputusan Aleksander Ceferin juga membuat kritiknya terhadap Gianni Infantino sulit dipandang semata sebagai manuver untuk merebut kekuasaan. Presiden UEFA itu memilih mempertahankan posisinya di Eropa sembari mendorong perubahan kepemimpinan atau setidaknya hadirnya kontestasi nyata dalam pemilihan FIFA.

Beberapa bulan menuju Kongres FIFA karena itu dapat menentukan apakah Gianni Infantino mampu membangun kembali dukungan atau justru menghadapi pemberontakan lebih luas. Jika penantang benar-benar muncul, pemilihan Maret 2027 bisa menjadi ujian politik terbesar sepanjang masa kepemimpinannya di FIFA.

3 Rahasia Hull City Kalahkan Man United

3 Rahasia Mengapa Hull City Bisa Mengalahkan Manchester United

24 Agu 2026
Chelsea dan Kutukan Nomor 9: Siapa Terbaik?

18 Pemakai Nomor 9 Chelsea dari Terburuk hingga Terbaik

24 Agu 2026
Bola Gol Tangan Tuhan Diego Maradona di Piala Dunia 1986 terjual US$3,35 juta.

Bola Gol Tangan Tuhan Diego Maradona Terjual Rp59 Miliar di Lelang

24 Agu 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.