Perburuan Bradley Barcola memang membuat suporter Liverpool gelisah menjelang penutupan bursa transfer, tetapi kesepakatan terbesar musim panas ini justru terjadi di ruang pemilik. Masuknya 1892 Holdings berpotensi mengubah struktur kekuasaan Liverpool jauh melampaui kedatangan satu pemain bintang.
Dilansir GOAL, Fenway Sports Group pertama kali mengumumkan minat konsorsium pimpinan Amit Bhatia pada 21 Juli 2026, lalu mencapai perjanjian definitif kurang dari sebulan kemudian. Transaksi itu membuat pertanyaan tentang masa depan FSG kembali menguat di sekitar Anfield.
Liverpool secara resmi mengumumkan pada 14 Agustus bahwa FSG menjual saham minoritas kepada 1892 Holdings, dengan transaksi masih menunggu persetujuan regulator yang dapat memakan waktu hingga 90 hari. Klub menegaskan FSG tetap memegang kepemilikan mayoritas sekaligus kendali operasional Liverpool.
Dalam pernyataan resminya, klub menyebut para mitra konsorsium akan bekerja bersama FSG dan pimpinan Liverpool untuk mengevaluasi peluang pertumbuhan di dalam maupun luar lapangan. Artinya, investasi ini dirancang melampaui sekadar suntikan modal atau belanja pemain.
Laporan awal menyebut 1892 Holdings membeli sekitar 30 persen saham senilai £1,65 miliar, tetapi perkembangan berikutnya menunjukkan porsinya lebih besar. The Guardian dan The Times kemudian melaporkan kepemilikan sekitar 38 persen dengan nilai transaksi melampaui £2 miliar.
Angka terbaru itu secara implisit menempatkan valuasi Liverpool di kisaran £5,5 miliar, sebuah lonjakan luar biasa dibanding harga pembelian FSG pada Oktober 2010. Ketika John Henry dan mitranya datang, klub dibeli sekitar £300 juta dalam kondisi finansial yang sangat bermasalah.
FSG mengambil alih Liverpool setelah era Tom Hicks dan George Gillett berakhir melalui sengketa hukum yang keras ketika klub berada di ambang krisis. Hasil penjualan saham minoritas saja kini bernilai lebih dari lima kali harga pembelian awal mereka.
Kesepakatan itu juga tiba ketika Liverpool masih mengejar Barcola dari Paris Saint-Germain setelah pembicaraan transfer berlangsung lebih dari sebulan. Bahkan jika The Reds akhirnya memecahkan rekor transfer Inggris, perubahan kepemilikan tetap memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih besar.
Mengapa Liverpool Membuka Pintu untuk 1892 Holdings?
Kebijakan menerima investor baru sebenarnya bukan perubahan mendadak bagi FSG karena mereka telah membuka pintu pendanaan eksternal sejak tekanan finansial pandemi. Pada 2021, RedBird Capital Partners menginvestasikan $735 juta untuk memperoleh 11,5 persen saham Fenway Sports Group.
Pada 2023, setelah sempat muncul laporan mengenai kemungkinan penjualan klub secara penuh, FSG kembali memilih jalur investor minoritas. Dynasty Equity kemudian mengambil sekitar tiga persen saham Liverpool dengan nilai yang dilaporkan mendekati $150 juta untuk memperkuat posisi finansial klub.
Presiden FSG Mike Gordon ketika itu menegaskan komitmen jangka panjang pemilik terhadap Liverpool tidak berubah, tetapi mereka akan menerima mitra investasi yang tepat. Prinsipnya adalah memperkuat ketahanan finansial klub sekaligus menyediakan fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang di dalam maupun luar lapangan.
Skala kesepakatan dengan 1892 Holdings jauh lebih besar daripada dua transaksi sebelumnya dan memberikan keuntungan modal luar biasa bagi FSG. Dalam sekitar 16 tahun, aset yang dibeli £300 juta telah berkembang menjadi Liverpool bernilai miliaran pound dan kembali menjadi juara Inggris serta Eropa.
Joshua Robinson dari Wall Street Journal menilai transformasi tersebut membutuhkan investasi sangat besar, sehingga masuknya mitra baru masuk akal dari perspektif bisnis. Dana baru dapat membantu struktur kepemilikan, menopang valuasi, dan pada akhirnya membuka jalur keluar bagi FSG apabila mereka memilih menjual.
Apakah Liverpool Sedang Menuju Pengambilalihan Penuh?
Pertanyaan terbesar sekarang bukan sekadar siapa pemegang saham minoritas, melainkan apakah transaksi ini menjadi tahap pertama pergantian penguasa di Anfield. Sejumlah laporan menyebut konsorsium Bhatia memperoleh jalur untuk mengambil saham pengendali dalam periode 12 bulan mendatang.
Namun, klausul tersebut belum diumumkan dalam pernyataan resmi Liverpool dan FSG tetap menegaskan mereka mempertahankan kontrol mayoritas serta operasional. The Guardian melaporkan mekanismenya memberi 1892 Holdings hak prioritas apabila FSG memutuskan menjual saham pengendali dalam jangka waktu tersebut.
Robinson menilai struktur seperti itu secara logis dapat menjadi langkah awal menuju pengambilalihan, meski belum berarti FSG sudah memutuskan pergi. Karena itu, ketidakpastian terbesar bukan masuknya investor baru, melainkan seberapa jauh kepemilikan mereka akan berkembang setelah persetujuan regulator.
Tokoh utama konsorsium adalah Amit Bhatia, pengusaha Inggris-India berusia 46 tahun yang telah berkecimpung dalam sepak bola Inggris sejak Desember 2007. Ia masuk dewan QPR mewakili Lakshmi Mittal ketika klub juga melibatkan Bernie Ecclestone serta Flavio Briatore.
Bhatia kemudian menjadi ketua QPR pada 2018 setelah bertahun-tahun membangun hubungan dengan pendukung di Loftus Road, sebelum meninggalkan jabatan pada 21 Juli 2026. Ia mengalihkan sahamnya kepada pemilik mayoritas Ruben Gnanalingam ketika keterlibatannya bersama Liverpool mulai memasuki tahap serius.
Dalam struktur Liverpool yang baru, Bhatia diproyeksikan menjadi wakil ketua sekaligus penghubung utama konsorsium dengan FSG dan manajemen klub. Di belakangnya terdapat Mittal Family Trusts, EE Capital milik Elaine dan Eduardo Saverin, serta K5 Sports yang didukung Jeff Bezos.
Saverin merupakan salah satu pendiri Facebook dan sebelumnya terlibat dalam kelompok yang gagal mengambil alih Chelsea ketika Roman Abramovich meninggalkan Stamford Bridge pada 2022. Bezos menjadi nama paling mencolok, dengan artikel sumber memperkirakan kekayaannya sekitar $269 miliar.
Meski demikian, peran Bezos dirancang pasif dan ia tidak dijadwalkan duduk langsung dalam jajaran dewan klub setelah transaksi disetujui regulator. Bryan Baum dari K5 Global akan mewakili kepentingan kelompok tersebut, sedangkan Bhatia serta Elaine Saverin masuk dalam struktur kepemimpinan yang diperluas.
Investasi Liverpool Bukan Tiket Belanja Tanpa Batas
Kehadiran Bezos dan sederet miliarder segera melahirkan fantasi suporter tentang Kylian Mbappe atau rangkaian transfer £100 juta, tetapi asumsi itu terlalu sederhana. Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menekankan uang pembelian saham pada dasarnya masuk kepada FSG sebagai penjual.
Artinya, investasi Liverpool tidak otomatis berubah menjadi tambahan anggaran transfer karena pemilik lama tetap menentukan apakah sebagian hasil penjualan akan disuntikkan kembali. Struktur finansial Liga Inggris juga membatasi kemampuan klub mengubah kekayaan pemegang saham menjadi pengeluaran pemain tanpa batas.
Mulai musim 2026/27, Squad Cost Ratio Liga Inggris membatasi biaya skuad pada 85 persen dari pendapatan sepak bola dan hasil bersih transfer. Bagi Liverpool ketika tampil di kompetisi UEFA, aturan Eropa lebih ketat dengan rasio biaya skuad maksimal 70 persen.
Maguire menggunakan Newcastle sebagai contoh bahwa kekayaan pemilik tidak otomatis menghapus pembatasan finansial, sementara pengalaman Bhatia di QPR juga menawarkan pelajaran serupa. Kehadiran investor besar tidak pernah menjamin sebuah klub mendadak menjadi kekuatan dominan di pasar transfer.
Karena itu, Ian Doyle dari Liverpool ECHO tidak memperkirakan strategi transfer klub berubah menjadi pesta belanja agresif dalam semalam. Menurutnya, Bhatia telah berdialog dengan FSG hampir setahun dan kemungkinan besar memahami model pengelolaan yang selama ini diterapkan di Anfield.
Peluang terbesar justru mungkin muncul di sektor komersial karena anggota konsorsium memiliki jaringan kuat di Amerika Serikat, teknologi, investasi, dan Asia. Penguatan merek Liverpool, sponsorship, pengalaman suporter, serta proyek non-skuad dapat lebih mudah dikembangkan dibanding membeli pemain tanpa kendali.
Mengapa Jeff Bezos Tertarik kepada Liverpool?
Motivasi Bezos tetap menjadi bagian paling misterius karena ia bukan pemegang saham pengendali Liverpool maupun 1892 Holdings dan tidak membutuhkan investasi kecil untuk memperbesar kekayaannya. Michael Silverman dari Boston Globe melihat langkah tersebut mungkin sebagai pintu masuk Bezos menuju bisnis olahraga.
Bezos sebelumnya pernah dikaitkan dengan kemungkinan pembelian tim NFL seperti Washington Commanders dan Seattle Seahawks, tetapi tidak pernah menyelesaikan transaksi semacam itu. Karena itu, keterlibatan melalui K5 Sports dapat menjadi cara relatif rendah risiko untuk mempelajari industri kepemilikan olahraga elite.
Daya tarik Liga Inggris memang semakin besar bagi modal Amerika karena klub-klubnya memiliki warisan lokal kuat sekaligus pasar internasional sangat luas. Sumber GOAL mencatat kepentingan Amerika hadir di 11 dari 20 klub, setelah keluarga Glazer menjadi pionir di Manchester United pada 2003.
Laporan tahunan Liga Inggris memberikan gambaran skalanya dengan menyebut kompetisi tersedia di 189 negara dan diikuti sekitar 1,9 miliar orang secara global. Angka resmi itu sedikit berbeda dari narasi 195 negara dalam sumber awal, tetapi tetap menunjukkan jangkauan Liverpool yang luar biasa.
Meski popularitasnya masif, memiliki klub sepak bola elite bukan bisnis yang otomatis menghasilkan laba operasional besar karena biaya transfer dan gaji menghabiskan banyak pendapatan. Nilai utamanya justru dapat muncul ketika hak siar, pendapatan komersial, dan valuasi aset meningkat bertahun-tahun kemudian.
Perbandingan valuasi olahraga semakin ekstrem setelah Los Angeles Lakers mencapai kesepakatan penjualan senilai $12,5 miliar pada Agustus 2026, sebuah rekor olahraga Amerika. Waralaba NBA juga memiliki pendapatan lebih terprediksi karena tidak menghadapi degradasi atau risiko kehilangan kompetisi Eropa.
Liverpool menawarkan karakter berbeda karena sejarah, basis suporter global, dan prestise sepak bola membuat klub tersebut menyerupai aset trofi bagi miliarder. Robinson bahkan menilai jangkauan sosial klub dapat menyaingi atau melampaui banyak waralaba Amerika meskipun struktur bisnis sepak bola lebih berisiko.
Maguire menggambarkan logika tersebut seperti memiliki karya seni bernilai tinggi karena prestise dapat sama pentingnya dengan arus keuntungan tahunan. Dalam konteks Bezos, keterkaitan dengan Liverpool juga menawarkan citra berbeda dari reputasi bisnis Amazon yang selama ini sering menimbulkan perdebatan.
Kekhawatiran Suporter Liverpool: Jangan Ubah Anfield Menjadi Disneyland
Bagi sebagian pendukung, persoalannya bukan seberapa banyak uang yang masuk, tetapi apakah investor baru memahami hubungan klub dengan masyarakat Merseyside. Liverpool tumbuh dari kota pekerja dengan identitas lokal sangat kuat, sehingga komersialisasi berlebihan selalu menjadi isu sensitif di Anfield.
Maguire mengingatkan kekhawatiran lama mengenai tiket yang semakin mahal dan kemungkinan semakin banyak kursi diarahkan kepada pengunjung kaya daripada suporter tradisional. Ia menyebut risiko “Disney-fikasi” sebagai ancaman terhadap sejarah, warisan, atmosfer, dan identitas yang membuat pertandingan kandang Liverpool berbeda.
Spirit of Shankly sudah meminta kejelasan sebelum transaksi diumumkan, termasuk mengenai hak investor, kursi dewan, alasan penjualan, kemungkinan penjualan lebih luas, dan proses uji tuntas. Kelompok yang berperan melawan Hicks dan Gillett itu memandang kepemilikan sebagai persoalan mendasar bagi klub.
Lima pertanyaan tersebut belum mendapatkan jawaban penuh sebelum FSG mengumumkan perjanjian definitif dengan 1892 Holdings pada 14 Agustus. Situasi itu memperbesar rasa tidak pasti, meskipun Spirit of Shankly memilih meminta transparansi lebih jauh daripada langsung menghakimi para investor baru.
Setelah kesepakatan diumumkan, Spirit of Shankly menyatakan akan berkomunikasi dengan regulator independen, anggota, serta basis suporter untuk memahami konsekuensi jangka panjangnya. Mereka juga memperingatkan spekulasi liar mengenai belanja transfer tidak membantu pembahasan mengenai tata kelola dan keberlanjutan Liverpool.
Anggota parlemen Liverpool West Derby, Ian Byrne, ikut menyerukan penguatan suara kolektif suporter agar warisan klub tetap terlindungi dalam setiap perubahan kepemilikan. Pesannya menekankan bahwa pendukung mungkin tidak dapat memilih pemilik, tetapi mereka dapat memperkuat pengaruh terhadap arah klub.
FSG memang pernah membuat keputusan kontroversial, tetapi beberapa di antaranya dibatalkan setelah mendapat penolakan keras dari suporter, sehingga hubungan tersebut belum sepenuhnya kehilangan kepercayaan. Liverpool juga memenangkan dua gelar Liga Inggris dan satu Liga Champions selama periode kepemilikan mereka.
Ian Doyle menilai suporter berhak mengetahui lebih banyak tentang investor dan rencana mereka, tetapi belum ada alasan untuk langsung menekan tombol panik. Bezos tidak duduk di dewan dan operasional sehari-hari masih berada di bawah kendali FSG bersama manajemen Liverpool.
Karena itu, investasi Liverpool dari 1892 Holdings belum layak dibaca sebagai revolusi instan ataupun ancaman otomatis terhadap identitas klub. Ujian sesungguhnya adalah bagaimana Bhatia, Bezos dan mitra lainnya memperlakukan tata kelola, suporter, serta tradisi ketika pengaruh mereka mulai terlihat.
Untuk saat ini, Bradley Barcola mungkin tetap menjadi nama yang paling ramai dibicarakan menjelang penutupan bursa, tetapi persoalan kepemilikan jauh lebih menentukan masa depan Anfield. Jika porsi 1892 Holdings berkembang menjadi mayoritas, Agustus 2026 bisa dikenang sebagai awal berakhirnya era FSG.



