Tottenham Hotspur kembali mengambil langkah agresif dalam bursa transfer setelah mencapai kesepakatan untuk Savinho dari Manchester City dengan paket senilai maksimal £85 juta. Nilai sebesar itu langsung memunculkan pertanyaan besar: apakah winger Brasil tersebut benar-benar layak menjadi perjudian mahal terbaru Roberto De Zerbi?
Dilansir dari Opta Analyst, Tottenham bersedia membayar £75 juta di muka ditambah bonus yang dapat mencapai £10 juta untuk pemain berusia 22 tahun tersebut. Angka itu mencolok karena Manchester City merekrutnya sekitar £30 juta dua tahun lalu, sementara perkembangannya justru tersendat musim lalu.
Kesepakatan itu datang ketika Tottenham membutuhkan solusi serangan secepat mungkin karena sejumlah pemain depan mereka terganggu cedera, pilihan alternatif terbatas, dan bursa transfer segera ditutup. Situasi tersebut memperkuat posisi negosiasi Manchester City, terutama karena pemain Brasil itu menjadi penyerang pertama dalam gelombang belanja besar Spurs.
Sky Sports melaporkan £5 juta dari bonus transfer tersebut dinilai nyaris pasti terpenuhi, sehingga City berpeluang menerima sedikitnya £80 juta dari penjualan ini. Reuters juga menyebut kedua klub belum mengumumkan transfer secara resmi, meski kesepakatan prinsip sudah dicapai dan proses kepindahan semakin dekat.
Savinho bahkan hanya akan menjadi rekrutan termahal ketiga Tottenham pada musim panas ini setelah klub menghabiskan dana besar untuk membangun ulang skuad De Zerbi. Pola belanja De Zerbi juga konsisten memilih pemain berpengalaman di Liga Inggris, termasuk Sandro Tonali dan Mateus Fernandes.
Taruhan tersebut terasa semakin berat setelah Tottenham membuka musim Liga Inggris dengan kekalahan 0-3 dari Brentford pada 22 Agustus 2026. Reuters melaporkan Spurs bahkan gagal mencatat tembakan tepat sasaran pada babak pertama, memperlihatkan betapa mendesaknya kebutuhan mereka terhadap tambahan kreativitas dan penetrasi.
Savinho dan Risiko Transfer £85 Juta
Keraguan terhadap Savinho terutama muncul karena menit bermainnya bersama Manchester City menurun sepanjang musim 2025/26, ketika ia hanya memainkan 31 persen menit tersedia di seluruh kompetisi. Di Liga Inggris, proporsinya hanya 24 persen dan kebanyakan kesempatan datang sebagai pemain pengganti pada fase akhir.
Sepanjang musim liga tersebut, winger Brasil itu hanya tiga kali menyelesaikan pertandingan selama 90 menit penuh dan salah satunya terjadi pada pekan terakhir. Laga itu dimainkan ketika persaingan gelar sudah berakhir dengan Arsenal keluar sebagai juara, sehingga kesempatan tersebut tidak menggambarkan kepercayaan penuh pelatih.
Masalah paha yang berulang memang ikut mengganggu kontinuitas Savinho, tetapi cedera bukan satu-satunya penyebab menit bermainnya menyusut bersama Manchester City. Pep Guardiola saat itu tidak memberinya peran lebih besar, sedangkan pelatih baru Enzo Maresca kini juga membuka pintu untuk kepergiannya.
Catatan musim 2025/26 menjadi titik terendah dalam dua tahun Savinho di Manchester karena ia hanya menghasilkan satu gol dan satu assist. Kontribusi tersebut tercipta dalam 821 menit Liga Inggris, angka yang membuat harga maksimal £85 juta terlihat sangat mahal bagi pemain yang belum konsisten.
Meski begitu, menilai Savinho hanya dari satu musim buruk juga berisiko menutup gambaran yang lebih besar mengenai potensi dan kualitas teknisnya. Saat masih menangani Girona pada 2023, Michel bahkan menyebut kemampuan satu lawan satu pemain Brasil itu sebagai salah satu yang terbaik di Spanyol.
Penilaian Michel lahir ketika pemain Brasil tersebut menjadi senjata utama Girona di sisi kiri dan membantu tim tampil mengejutkan. Ia mencetak sembilan gol pada musim 2023/24, yang hingga kini tetap menjadi satu-satunya musim liga dalam kariernya dengan produktivitas tinggi.
Musim pertamanya bersama Manchester City juga memberi alasan mengapa Tottenham berani mengambil risiko, walaupun jumlah golnya tetap sangat rendah. Pada 2024/25, Savinho hanya mencetak satu gol tetapi membukukan delapan assist dalam 1.773 menit dari kemungkinan 3.420 menit Liga Inggris.
Seluruh delapan assist itu lahir dari permainan terbuka, dan hanya lima pemain Liga Inggris yang mencatat angka lebih tinggi pada musim tersebut. Savinho bahkan melampaui Cole Palmer, Bruno Fernandes dan Eberechi Eze yang masing-masing membuat tujuh assist terbuka dengan menit bermain jauh lebih banyak.
Ia juga berada di atas Enzo Fernández dan Morgan Gibbs-White, yang masing-masing membukukan enam assist dari permainan terbuka pada musim tersebut. Setiap pemain dalam kelompok pembanding itu bermain setidaknya 900 menit lebih banyak, membuat efisiensi kreativitas Savinho terlihat jauh lebih menarik.
Dalam hitungan per 90 menit, Savinho menempati posisi ketiga untuk assist dari permainan terbuka dengan rata-rata 0,41 pada musim 2024/25. Untuk peluang yang diciptakan, ia mencatat 2,2 per 90 menit dan hanya kalah dari Mohamed Salah yang memiliki rata-rata 2,3.
Memang ada konteks yang perlu diperhatikan karena tiga dari delapan assist pemain tersebut tercipta menghadapi tim yang kemudian terdegradasi dari Liga Inggris. Namun ia juga menciptakan assist ketika menghadapi Arsenal di kandang dan tandang, menunjukkan kualitasnya tidak semata muncul melawan lawan lemah.
Mengapa Savinho Tetap Menarik bagi Tottenham?
Savinho dikenal sebagai pemain berkaki kiri sehingga posisi winger kanan terlihat seperti peran paling alami untuknya, terutama ketika ia bisa masuk ke area tengah. Namun Tottenham sebenarnya lebih membutuhkan opsi di kiri karena Mohammed Kudus diperkirakan segera kembali sebagai pilihan utama di kanan.
Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu nilai terbesar Savinho karena selama bersama Manchester City ia membagi menitnya relatif seimbang di kedua sisi lapangan. Sebelumnya bersama Girona, ia justru membangun reputasinya hampir secara eksklusif dari sektor kiri dan terlihat sangat nyaman menyerang dari sana.
Ancaman terbesar Savinho muncul ketika bola berada di kakinya dan ia mendapat ruang menyerang bek secara langsung dalam duel satu lawan satu. Pada Liga Inggris 2024/25, ia mencatat 2,6 dribel sukses per 90 menit, hanya kalah dari Jérémy Doku, Kudus, dan Julio Enciso.
Dari sepuluh pemain dengan percobaan dribel terbanyak pada musim tersebut, Savinho membukukan tingkat keberhasilan 51 persen yang menunjukkan efisiensi cukup tinggi. Hanya Jérémy Doku yang memiliki rasio lebih baik dengan 60,5 persen, memperkuat reputasi Savinho sebagai pembawa bola berbahaya.
Savinho juga tidak selalu membutuhkan dribel untuk memajukan serangan karena kemampuannya membawa bola secara progresif menjadi bagian penting dari permainannya. Di antara pemain dengan minimal 1.000 menit, ia mencatat 6,8 progressive carry sejauh sedikitnya 10 meter per 90 menit.
Angka tersebut hanya kalah dari Jérémy Doku yang menghasilkan 11,6 progressive carry per 90 menit pada musim 2024/25. Ia bahkan memimpin Liga Inggris untuk carry yang diikuti penciptaan peluang dengan 1,3 per 90, sebuah indikator penting bagi sistem menyerang De Zerbi.
Dalam kategori carry yang berakhir dengan assist, Savinho mencatat rata-rata 0,25 per 90 menit dan hanya kalah dari Son Heung-min dengan 0,30. Ia juga menghasilkan 28 carry yang berakhir dengan tembakan, setara 1,4 per 90 dan menjadi catatan terbaik ketiga liga.
Masalahnya, tidak satu pun dari 28 rangkaian carry menuju tembakan itu berakhir menjadi gol, kembali menegaskan kelemahan terbesar Savinho. Sepanjang karier seniornya, selain sembilan gol bersama Girona pada 2023/24, ia tidak pernah mencetak lebih dari satu gol dalam satu musim liga.
Dua gol dalam dua musim liga bersama tim sedominan Manchester City tentu menjadi pengembalian yang buruk meskipun menit bermainnya terbatas. Tottenham karena itu tidak sedang membeli pencetak gol mapan, melainkan kreator dan penggerak serangan yang masih membutuhkan peningkatan signifikan dalam penyelesaian akhir.
Savinho Bisa Menjadi Potongan yang Hilang
Ada aspek lain yang dapat membuat Savinho lebih cocok di Tottenham daripada di Manchester City, yakni kebiasaannya melakukan lari tanpa bola ke belakang garis pertahanan. Guardiola lebih sering memintanya menerima bola ke kaki, sedangkan di Girona ia berkali-kali menyerang ruang melalui umpan terobosan.
Beberapa pola tersebut berakhir dengan Savinho masuk ke area berbahaya sebelum mengirim umpan mendatar kepada Artem Dovbyk untuk diselesaikan menjadi gol. Karakter ini penting karena Tottenham kehilangan tipe penyerang yang konsisten berlari ke ruang sejak Son Heung-min dan Brennan Johnson tidak lagi tersedia.
Di antara Kudus, Mathys Tel, Wilson Odobert, Xavi Simons, Mikey Moore dan Dejan Kulusevski, tidak ada yang menjadikan lari di belakang pertahanan sebagai karakter utama. Savinho karena itu menawarkan variasi gerakan yang tidak dimiliki kelompok penyerang sayap Tottenham saat ini.
Bagi De Zerbi, pekerjaan utamanya bukan mengubah Savinho menjadi pemain berbeda, melainkan mengembalikan versi terbaik yang pernah terlihat di Girona dan musim pertamanya bersama City. Pelatih Italia itu sebelumnya mampu meningkatkan performa sejumlah pemain Tottenham dibanding periode pendahulunya, Thomas Frank.
Usia 22 tahun membuat Tottenham masih memiliki ruang besar untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang apabila Savinho kembali berkembang secara konsisten. Kombinasi kemampuan dribel, progresi bola, kreativitas terbuka dan fleksibilitas posisi memberinya fondasi yang cukup kuat untuk menjadi aset penting.
Namun harga maksimal £85 juta berarti waktu adaptasi winger Brasil itu tidak akan pernah benar-benar bebas dari tekanan, terlebih setelah belanja Tottenham melewati £300 juta. Setiap periode tanpa gol atau assist akan memicu perdebatan mengenai apakah Spurs membayar potensi terlalu mahal dibanding produktivitas nyata.
Pada akhirnya, transfer Savinho merupakan taruhan besar tetapi bukan perjudian tanpa dasar, karena data 2024/25 menunjukkan kemampuan menciptakan peluang yang berada di level elite. Risiko terbesar justru terletak pada kebugaran, konsistensi, dan penyelesaian akhir yang membuat kariernya tersendat selama setahun terakhir.
Jika De Zerbi mampu menghidupkan kembali keberanian satu lawan satu dan lari agresif Savinho seperti di Girona, Tottenham bisa mendapatkan senjata yang selama ini hilang. Jika tidak, £85 juta akan menjadi simbol paling mahal dari proyek pembangunan skuad yang terlalu cepat dan penuh tekanan.



