Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Sepak Bola Dunia Terancam Pecah, 3 Konfederasi Lawan Gianni Infantino dan Bahas Kompetisi Tandingan FIFA

Sepak Bola Dunia Terancam Pecah, 3 Konfederasi Lawan Gianni Infantino dan Bahas Kompetisi Tandingan FIFA

  • Agustus 20, 2026

Krisis besar di tubuh sepak bola dunia kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya bagi Gianni Infantino. UEFA, AFC, dan Concacaf bukan hanya meminta presiden FIFA itu mundur, tetapi juga mulai membicarakan kemungkinan kompetisi alternatif di luar agenda FIFA. 

The Guardian melaporkan ketiga konfederasi tersebut mengirim surat terbuka yang menuding kepemimpinan Gianni Infantino telah merusak kepercayaan. Mereka menilai rencana FIFA Forward Enterprise atau FFE bukan sekadar kesalahan komunikasi, melainkan kegagalan penilaian yang menyentuh fondasi tata kelola sepak bola.

Konflik berawal dari proposal kontroversial untuk membentuk perusahaan komersial bernilai sekitar US$20 miliar yang akan mengelola sebagian kepentingan bisnis FIFA. Skema itu dirancang menarik sekitar US$4,2 miliar dari investor dengan melepas lebih dari 20 persen kepentingan komersial Piala Dunia.  

Gianni Infantino akhirnya menarik proposal tersebut pada awal Agustus setelah muncul penolakan keras dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola. Namun, pembatalan itu tidak menghentikan krisis karena UEFA dan Concacaf menilai persoalan utamanya adalah proses pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa konsultasi memadai.  

Gianni Infantino Didesak Mundur, Kompetisi Tandingan Mulai Dibahas

Situasi kemudian berubah menjadi pertarungan politik terbuka ketika UEFA, AFC, dan Concacaf meminta Gianni Infantino meninggalkan jabatannya. Ketiganya juga menuntut peninjauan independen oleh pihak di luar sepak bola untuk menyelidiki bagaimana proposal FFE dirancang dan dijalankan.  

Yang membuat ancaman kali ini berbeda adalah pembicaraan awal mengenai kompetisi baru di luar struktur FIFA. Menurut laporan The Guardian, opsi itu dibahas bersamaan dengan ancaman UEFA memboikot ajang FIFA apabila perubahan tata kelola dan kepemimpinan tidak terjadi.

Piala Dunia U-20 Wanita menjadi salah satu turnamen yang berpotensi terdampak jika ancaman tersebut benar-benar dijalankan. Tim-tim Eropa dapat absen, sementara konfederasi yang berseberangan dengan Gianni Infantino mulai mencari alternatif apabila hubungan dengan FIFA semakin memburuk.  

Ancaman kompetisi tandingan tentu belum berarti FIFA akan langsung kehilangan kontrol atas sepak bola internasional. Namun, keterlibatan UEFA, AFC, dan Concacaf membuat tekanan sangat serius karena ketiga konfederasi itu mewakili bagian besar anggota FIFA dan pasar komersial utama. 

Kevin Lamour Pergi, Krisis Gianni Infantino Makin Dalam

Masalah Gianni Infantino semakin dalam setelah Kevin Lamour meninggalkan posisinya sebagai chief operating officer FIFA pada 17 Agustus. FIFA hanya mengonfirmasi berakhirnya hubungan kerja, tetapi kepergiannya terjadi kurang dari tiga pekan setelah Lamour terbuka mengkritik proyek FFE.  

Associated Press sebelumnya melaporkan Lamour menilai staf FIFA telah dibuat tidak mengetahui secara utuh rencana penjualan kepentingan komersial tersebut. Ia menyebut proyek itu sebagai inisiatif satu orang dan menyatakan siap kehilangan pekerjaan daripada mengorbankan prinsip tata kelola.  

Kepergian Lamour langsung memicu tudingan bahwa lingkungan internal FIFA semakin tidak ramah terhadap perbedaan pendapat. Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan pekerja menilai keluarnya pejabat tinggi tersebut dapat memberi sinyal buruk kepada staf yang ingin menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan.  

Lise Klaveness, presiden federasi sepak bola Norwegia, bahkan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk manajemen berbasis rasa takut. Kritik itu membuat persoalan Gianni Infantino tidak lagi berhenti pada kebijakan komersial, tetapi merambah budaya organisasi dan kebebasan internal FIFA.  

Sebelum Lamour pergi, penasihat senior Carlos Cordeiro juga meninggalkan FIFA setelah menentang proposal bernilai US$20 miliar tersebut. Rentetan keluarnya orang-orang penting memperkuat persepsi bahwa krisis Gianni Infantino telah berubah dari masalah eksternal menjadi keretakan di dalam organisasi. 

Tekanan politik juga terus bertambah setelah Israel menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino pada 18 Agustus. Federasi sepak bola Israel menyebut adanya krisis kepercayaan antara UEFA dan FIFA, menambah daftar asosiasi Eropa yang memilih menjauh dari presiden petahana. 

Gianni Infantino Belum Kehilangan Semua Dukungan

Namun, gambaran politik FIFA jauh dari sederhana karena Gianni Infantino masih memiliki kantong dukungan yang besar. CAF telah menyatakan dukungan terhadapnya, sementara OFC juga mengambil posisi serupa meskipun Selandia Baru memilih menarik dukungan dan meminta evaluasi independen. 

Enam federasi Arab, yakni Qatar, Mesir, Lebanon, Maroko, Sudan, dan Mauritania, juga menyatakan dukungan penuh kepada Gianni Infantino. Dukungan itu penting karena menunjukkan sikap para konfederasi tidak otomatis mencerminkan suara seluruh asosiasi nasional yang berada di dalamnya. 

Perpecahan paling menarik justru muncul di Asia setelah Qatar mempersoalkan keputusan AFC ikut menandatangani surat yang menyerang Gianni Infantino. Presiden federasi Qatar Hamad bin Khalifa Al-Thani menyatakan pihaknya tidak pernah dimintai konsultasi sebelum AFC mengambil posisi tersebut. 

Presiden AFC Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa kemudian membalas kritik Qatar dengan mempertahankan sikapnya terhadap Gianni Infantino. Ia menilai pemimpin konfederasi memiliki tanggung jawab bertindak ketika nilai dasar sepak bola terancam, sehingga perselisihan internal Asia semakin terbuka. 

Konflik Qatar dan AFC menunjukkan bahwa perang politik ini tidak bisa dipetakan sekadar berdasarkan enam konfederasi FIFA. Di dalam masing-masing kawasan terdapat negara dengan kepentingan komersial, politik, dan hubungan kekuasaan berbeda menjelang pemilihan presiden FIFA pada 2027. 

Concacaf juga menghadirkan dinamika serupa karena sebagian besar anggotanya mendukung seruan perubahan tata kelola, tetapi Meksiko tetap membela Gianni Infantino. US Soccer dan Canada Soccer bersama organisasi kawasan Karibia serta Amerika Tengah bahkan telah menyerukan perubahan struktural di FIFA.

Victor Montagliani Bisa Menjadi Penantang Gianni Infantino

Di tengah krisis tersebut, nama presiden Concacaf Victor Montagliani mulai muncul sebagai salah satu calon potensial penantang Gianni Infantino. Ia ikut menandatangani surat bersama Aleksander Ceferin dan Sheikh Salman, meski sejauh ini belum mendeklarasikan pencalonan resmi untuk kursi presiden FIFA. 

Batas waktu pengajuan kandidat presiden FIFA ditetapkan pada 18 November 2026, sehingga beberapa bulan ke depan akan menentukan arah konflik. Gianni Infantino sudah menyatakan akan kembali maju dalam pemilihan 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada Kongres FIFA di Maroko. 

Karena itu, pembicaraan mengenai kompetisi tandingan dapat dibaca sebagai instrumen tekanan politik sekaligus skenario darurat. UEFA dan sekutunya memiliki kekuatan kompetitif dan komersial, tetapi mendirikan ekosistem global baru di luar FIFA tetap membutuhkan konsensus, kalender, sponsor, dan legitimasi anggota. 

Risikonya akan jauh lebih besar apabila ancaman tersebut berkembang menjadi boikot terhadap Piala Dunia atau turnamen FIFA lainnya. Perpecahan kalender internasional dapat memengaruhi klub, pemain, sponsor, penyiar, hingga federasi nasional yang bergantung pada distribusi dana dari organisasi sepak bola dunia. 

Masa Depan Gianni Infantino Jadi Pertaruhan FIFA

Bagi Gianni Infantino, titik lemah terbesar saat ini bukan lagi proposal FFE karena rencana tersebut sudah dibatalkan. Persoalan yang tersisa adalah kepercayaan, terutama setelah lawan-lawannya menuduh proses penyusunan proyek tidak transparan dan respons FIFA tidak menyentuh substansi kritik.

Sebaliknya, para pendukung Gianni Infantino masih dapat berargumen bahwa pergantian kepemimpinan harus dilakukan melalui mekanisme statuta dan pemungutan suara. CAF, OFC, sejumlah negara Arab, serta asosiasi lain yang tetap mendukungnya memastikan belum ada konsensus global untuk menjatuhkan presiden FIFA. 

Itulah sebabnya ancaman sepak bola dunia pecah belum dapat dianggap sebagai kepastian, tetapi juga tidak bisa lagi dipandang sebagai retorika biasa. Tiga konfederasi telah membuka pembicaraan alternatif, federasi nasional mulai berpindah kubu, dan pejabat tinggi FIFA terus meninggalkan organisasi. 

Pertarungan sesungguhnya kini bergerak menuju 18 November 2026 ketika calon penantang harus muncul dan menghitung dukungan. Jika kubu oposisi mampu menyatukan kandidat kuat, masa depan Gianni Infantino dan struktur kekuasaan FIFA dapat ditentukan jauh sebelum kongres pemilihan digelar. 

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.