Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Dari Klub Amatir ke Liga Champions, Como Kini Ancam Big Four Serie A?

Dari Klub Amatir ke Liga Champions, Como Kini Ancam Big Four Serie A?

  • Agustus 19, 2026

Serie A 2026/27 belum dimulai, tetapi Como sudah menjadi salah satu klub yang paling membuat penasaran setelah perjalanan mustahil mereka musim lalu. Dari tim amatir kurang dari satu dekade lalu, pasukan Cesc Fabregas kini bersiap mencicipi Liga Champions untuk pertama kalinya. 

Kisah itu semakin menarik karena Como tidak berhenti pada euforia finis empat besar, melainkan langsung memperkuat skuad untuk mempertahankan posisi di antara elite Italia. Reuters bahkan memasukkan mereka sebagai salah satu tim yang patut diperhatikan menjelang Serie A bergulir pada 22 Agustus 2026. 

Pencapaian tersebut terasa lebih mencolok karena AC Milan dan Juventus justru gagal mendapatkan tiket Liga Champions pada musim yang sama. Untuk pertama kalinya dalam hampir 35 tahun, dua raksasa tradisional Italia itu sama-sama tidak berada di kompetisi antarklub paling bergengsi Eropa. 

Di tengah keguncangan para penguasa lama, Como justru memanfaatkan momentum dengan pendekatan yang terukur, agresif, dan berorientasi pada pemain muda. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah mereka mampu bertahan di Serie A, melainkan seberapa jauh mereka dapat mengganggu peta kekuatan tradisional.

Como: Dari Serie D Menuju Liga Champions

Perjalanan modern Como dimulai dari titik yang jauh dari gemerlap Liga Champions, setelah masalah finansial membuat klub harus memulai kembali dari Serie D pada 2017/18. Situs resmi klub mencatat SENT Entertainment mengambil alih pada April 2019 dan mulai membangun fondasi finansial serta infrastruktur. 

Setelah itu, grafik mereka meningkat secara konsisten dengan menjuarai Serie D, naik ke Serie C, kemudian memperoleh promosi ke Serie B pada 2021. Tiga tahun berikutnya, Como kembali ke Serie A pada 2024, mengakhiri penantian lebih dari dua dekade di kasta tertinggi.  

Kecepatan kenaikan tersebut membuat proyek Como sulit disebut sekadar keajaiban satu musim, sebab perkembangan organisasi berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tim. Investasi pemilik memberi ruang bagi klub membangun skuad, sementara Fabregas memberikan identitas sepak bola yang jelas dan mudah dikenali.

Musim 2025/26 menjadi ledakan terbesar ketika Como finis di posisi keempat dan meraih tiket Liga Champions setelah baru dua musim berada di Serie A. Reuters menggambarkan pencapaian itu sebagai kebalikan dari krisis yang sedang menimpa kekuatan tradisional di Milan dan Turin.  

Fabregas menjadi pusat dari perubahan tersebut karena ia tidak hanya membawa reputasi sebagai mantan gelandang elite, tetapi juga gagasan sepak bola yang progresif. Como berusaha menguasai bola, menekan tinggi, menciptakan kelebihan jumlah di sisi lapangan, lalu menyerang ruang di antara lini lawan.  

Pendekatan itu membutuhkan pemain yang nyaman menerima bola dalam tekanan dan mampu mengambil keputusan cepat, sehingga perekrutan mereka tidak semata mengejar nama besar. Struktur inilah yang membuat perkembangan Como terlihat berkelanjutan, bukan sekadar hasil dari belanja besar tanpa arah teknis.

Nico Paz Jadi Mesin Permainan Como

Tidak ada simbol proyek ini yang lebih kuat daripada Nico Paz, gelandang serang Argentina yang berkembang menjadi pusat kreativitas tim musim lalu. Opta Analyst mencatat Paz menghasilkan 12 gol dan enam assist dari 35 laga Serie A 2025/26 pada usia 21 tahun.  

Dengan 18 keterlibatan gol, Paz hanya berada di bawah trio Inter Federico Dimarco, Lautaro Martinez, dan Marcus Thuram dalam klasifikasi tersebut. Ia juga merebut bola 26 kali di sepertiga akhir, menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak berhenti ketika Como sedang menguasai bola. 

Lega Serie A kemudian memilih Paz sebagai gelandang terbaik kompetisi 2025/26 setelah penampilannya menjadi salah satu fondasi keberhasilan Como menembus Liga Champions. Statistik lain juga menunjukkan 46 tembakan tepat sasaran, jumlah tertinggi di liga, meskipun ia bukan penyerang murni. 

Nilai terbesar bagi Como pada musim panas ini mungkin bukan mendatangkan bintang baru, melainkan mampu mempertahankan Paz ketika Real Madrid dikaitkan dengan kepulangannya. Reuters pada 18 Agustus melaporkan pemain Argentina tersebut tetap berada dalam proyek Fabregas menjelang musim baru. 

Keputusan mempertahankan Paz memberi sinyal bahwa Como tidak ingin memasuki Liga Champions hanya untuk menikmati pengalaman, karena mereka menjaga pemain paling menentukan dalam sistem. Di saat bersamaan, klub menambah pengalaman level tertinggi melalui kedatangan bek Inggris Trevoh Chalobah dari Chelsea. 

Trevoh Chalobah, Sinyal Ambisi Baru Como

Chalobah dikontrak selama lima tahun setelah Como menyelesaikan transfernya pada Agustus 2026, dengan nilai yang dilaporkan media Inggris mencapai sekitar 30 juta euro plus bonus. Bek berusia 27 tahun itu membawa pengalaman lebih dari 150 pertandingan bersama Chelsea di berbagai kompetisi. 

Transfer tersebut penting karena tantangan terbesar Como musim ini bukan hanya menaikkan kualitas sebelas pemain utama, tetapi memperdalam skuad untuk jadwal Eropa. Liga Champions akan menambah tekanan fisik dan taktis, sesuatu yang belum pernah dialami sebagian besar anggota tim secara bersama-sama.

Di sinilah Chalobah dapat menjadi investasi strategis karena ia terbiasa menghadapi pertandingan dengan tuntutan tinggi, mampu memainkan beberapa posisi bertahan, dan nyaman membawa bola. Karakter itu cocok dengan Fabregas yang membutuhkan bek berani menjaga garis tinggi sekaligus ikut memulai serangan. 

Kedatangan pemain Inggris tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan posisi tawar klub di pasar transfer, karena mereka kini mampu menarik pemain dengan pengalaman kompetisi elite. Como bukan lagi sekadar tempat berkembang pemain muda, tetapi mulai menawarkan proyek yang mempunyai panggung Liga Champions.  

Bisakah Como Mengganggu Big Four Serie A?

Namun, membicarakan Como sebagai penantang Big Four membutuhkan ukuran yang realistis karena Inter tetap memasuki musim baru sebagai favorit juara menurut Reuters. Nerazzurri memang menjalani regenerasi skuad, tetapi mereka masih memiliki fondasi juara serta duet Lautaro Martinez dan Marcus Thuram di lini depan. 

Napoli, AC Milan, dan Juventus juga tidak mungkin dikesampingkan meski masing-masing menjalani perubahan setelah musim yang tidak stabil. Milan mengganti Massimiliano Allegri dengan Ruben Amorim, Napoli kini ditangani Allegri, sementara Juventus mempertahankan Luciano Spalletti untuk memimpin pembangunan ulang mereka.  

Dalam konteks analisis ini, istilah Big Four digunakan untuk menggambarkan empat kekuatan mapan yang memiliki sumber daya lebih besar dan ekspektasi tinggi. Como memang belum berada pada level finansial maupun pengalaman mereka, tetapi posisi keempat musim lalu membuktikan hierarki tersebut bisa diganggu.

Situasi itu justru menciptakan celah yang dapat dimanfaatkan Como, sebab beberapa raksasa memulai musim sambil menyesuaikan struktur permainan dan komposisi pemain. Tim Fabregas memiliki keuntungan berupa kontinuitas, identitas yang sudah mapan, serta kepercayaan diri setelah membuktikan mereka mampu finis empat besar. 

Secara taktis, ancaman Como terletak pada kemampuan memancing lawan keluar dari posisinya sebelum mempercepat serangan melalui kombinasi pendek dan perpindahan arah. Paz menjadi penghubung paling penting karena pergerakannya dapat menciptakan kelebihan jumlah di sayap sekaligus membuka jalur ke area antar lini. 

Model seperti itu sangat berbahaya melawan klub besar yang gemar mengambil inisiatif, karena ruang di belakang gelandang mereka dapat dimanfaatkan melalui transisi cepat. Reuters menggambarkan Paz sebagai titik fokus transisi Fabregas yang membantu menciptakan overload di sisi lapangan dan membuka ruang di tengah. 

Data musim lalu juga memperlihatkan bahwa permainan menyerang mereka bukan sekadar menarik secara estetis, tetapi mampu menghasilkan efektivitas yang tinggi. Menjelang akhir musim, Lega Serie A mencatat hanya Inter yang menghasilkan gol lebih banyak daripada Como, menunjukkan ancaman ofensif mereka sudah berada di level elite. 

Ancaman Terbesar Como: Jadwal Liga Champions

Tetapi Liga Champions juga dapat menjadi jebakan jika rotasi tidak dikelola dengan baik, terutama karena intensitas pertandingan akan berbeda dibanding musim sebelumnya. Como harus membagi energi antara target domestik dan Eropa tanpa kehilangan agresivitas yang selama ini menjadi identitas utama permainan mereka.

Pengalaman klub-klub kejutan di berbagai liga menunjukkan bahwa mempertahankan performa setelah sukses besar sering lebih sulit daripada menciptakan kejutan pertama. Lawan kini memiliki lebih banyak data untuk membaca pola Como, sementara status mereka telah berubah dari tim yang diremehkan menjadi sasaran penting.

Karena itu, keberhasilan musim kedua di papan atas tidak harus selalu diukur dari apakah Como mampu kembali finis empat besar atau mengejar Scudetto. Menjaga konsistensi di zona Eropa sembari kompetitif dalam debut Liga Champions sudah akan menjadi bukti kuat bahwa proyek mereka memiliki fondasi.

Faktor lain yang menguntungkan adalah keberanian manajemen mempertahankan inti tim sambil menambahkan pemain yang sesuai kebutuhan, bukan melakukan perubahan ekstrem setelah keberhasilan besar. Pendekatan tersebut memberi Fabregas kesempatan mengembangkan sistem yang sudah berhasil tanpa harus memulai eksperimen dari awal. 

Secara psikologis, Como juga memasuki musim dengan tekanan yang berbeda dibanding Milan atau Juventus yang dituntut segera kembali ke Liga Champions. Fabregas memiliki ruang lebih besar untuk mengambil risiko, sedangkan para pemainnya dapat menggunakan status underdog sebagai energi dalam menghadapi lawan dengan ekspektasi lebih berat.

Inilah alasan Como berpotensi menjadi pengganggu nyata bagi Big Four, meskipun menyebut mereka kandidat juara masih terlalu dini sebelum melihat konsistensi sepanjang musim. Mereka sudah memiliki pelatih dengan ide jelas, playmaker elite, tambahan pengalaman, dan organisasi yang bergerak ke arah sama.

Jika Paz kembali menghasilkan angka seperti musim lalu dan Chalobah mampu memperkuat pertahanan, Como memiliki fondasi untuk menjaga posisi di papan atas. Tantangan sesungguhnya adalah membuktikan kedalaman skuad serta kemampuan beradaptasi ketika jadwal padat, cedera, dan tekanan Liga Champions mulai datang.

Como Bukan Lagi Sekadar Tim Kejutan

Dalam waktu kurang dari satu dekade, Como bergerak dari Serie D menuju panggung sepak bola paling glamor di Eropa, sebuah perjalanan yang hampir tidak masuk akal. Kini cerita mereka memasuki fase berbeda karena kejutan saja tidak cukup, dan konsistensi akan menentukan masa depannya. 

Fabregas telah membawa klub dari tim yang baru mencoba bertahan di kasta tertinggi menjadi peserta Liga Champions dalam dua musim Serie A. Kini pekerjaannya jauh lebih sulit, sebab Como harus membuktikan pencapaian tersebut merupakan awal dari era baru, bukan puncak sesaat. 

Big Four Italia masih memiliki uang, pengalaman, kedalaman skuad, dan sejarah yang jauh lebih besar, tetapi musim lalu membuktikan nama besar tidak menjamin tempat di Liga Champions. Como sudah membuka pintu menuju elite, dan musim 2026/27 akan menunjukkan apakah mereka mampu tinggal di sana.

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.