Panggung sebesar UEFA Super Cup biasanya menjadi tempat pemain mapan membuktikan kelas, tetapi Brian Madjo justru mencuri perhatian ketika baru berusia 17 tahun. Dalam debut kompetitif bersama Aston Villa, penyerang muda itu mencetak gol ke gawang Paris Saint-Germain sebelum turun minum.
Reuters mencatat gol tersebut tidak sekadar menyamakan kedudukan, tetapi langsung memasukkan Brian Madjo ke buku sejarah sebagai pencetak gol termuda sepanjang UEFA Super Cup. Villa akhirnya kalah 1-2, namun malam di Salzburg berubah menjadi perkenalan paling keras yang bisa dibayangkan untuk seorang remaja.
Brian Madjo Tumbuh Jauh dari Akademi Inggris
Brian Djomeni Madjo lahir di Enfield, London, pada 12 Januari 2009 dari keluarga berdarah Kamerun sebelum tumbuh besar di Luksemburg. Perjalanan sepak bolanya dimulai bersama Marisca Mersch dan Racing Union Luxembourg, jauh dari sorotan akademi elite Inggris.
Talenta Madjo kemudian membawanya ke Metz pada 2023, ketika klub Prancis itu melihat kombinasi fisik dan teknik yang jarang dimiliki pemain seusianya. Pada level U-19, ia mencetak 13 gol dalam 26 pertandingan dan membuat proses perkembangannya dipercepat.
Metz memberinya kontrak profesional pertama pada musim panas 2025, lalu menurunkannya sejak awal melawan Strasbourg pada 17 Agustus tahun yang sama. Pada usia 16 tahun 217 hari, ia menjadi starter termuda Metz di Ligue 1 sejak musim 1947/48.
Debut itu sekaligus menjadikan Brian Madjo pemain kelahiran 2009 pertama yang menjadi starter di salah satu dari lima liga top Eropa. Catatan tersebut menunjukkan bahwa reputasinya sebagai wonderkid bukan muncul setelah gol melawan PSG, melainkan telah dibangun sejak di Prancis.
Bukan Sekadar Striker Bertubuh Besar
Secara fisik, Madjo memang sulit diabaikan karena tingginya sekitar 1,93 meter atau 6 kaki 4 inci dengan tubuh yang sudah kuat. Namun, gambaran dirinya hanya sebagai target man akan mengecilkan kualitas teknik yang membuat Metz dan Aston Villa begitu tertarik.
Ligue 1 pernah mengutip direktur teknik federasi Luksemburg, Manuel Cardoni, yang menyebut profil Brian Madjo mengingatkan pada Romelu Lukaku tetapi lebih komplet. Ia dinilai mampu bermain di ruang sempit, menyerang ruang belakang pertahanan, memahami posisi, dan menggunakan kedua kaki.
Menariknya, perkembangan teknik itu tidak terjadi secara kebetulan karena pelatih muda di Luksemburg sempat menempatkannya sebagai gelandang untuk mengurangi keuntungan fisiknya. Pendekatan tersebut memaksanya belajar mengolah bola, membaca ruang, dan membuat keputusan sebelum akhirnya kembali menjadi penyerang tengah.
Aston Villa mengambil langkah besar pada 12 Januari 2026 dengan memboyong Brian Madjo dari Metz dalam transfer yang dilaporkan bernilai sekitar 10 juta poundsterling. Nilai tersebut setara kira-kira 12 juta euro dan terbilang besar untuk pemain yang saat itu baru berusia 17 tahun.
Brian Madjo Sempat Terjebak Sengketa dengan FIFA
Masalahnya, transfer itu justru membuat Brian Madjo terjebak selama berbulan-bulan tanpa pertandingan resmi karena FIFA menolak proses registrasinya. Regulasi FIFA membatasi transfer internasional pemain di bawah 18 tahun, sementara Inggris tidak lagi termasuk wilayah Uni Eropa setelah Brexit.
FIFA menilai kepindahan dari Metz tetap merupakan transfer internasional pemain minor, tetapi Villa berargumen bahwa Brian Madjo lahir di Inggris dan berstatus warga negara Inggris. Sengketa tersebut akhirnya dibawa ke Court of Arbitration for Sport setelah klub tidak menerima keputusan awal.
CAS mengabulkan banding Aston Villa pada 4 Agustus 2026 dan membuka jalan bagi Brian Madjo untuk langsung didaftarkan dalam kompetisi resmi. Keputusan itu datang hanya delapan hari sebelum UEFA Super Cup, setelah penyerang muda tersebut menunggu 212 hari sejak kepindahannya pada Januari.
Masa tunggu panjang itu ternyata tidak membuat Brian Madjo kehilangan ketajaman karena ia mencetak empat gol selama pramusim Aston Villa. Dua gol lahir dalam kemenangan 5-0 atas Walsall, sementara ia kembali mencetak gol ketika Villa menghadapi Real Sociedad.
Brian Madjo Langsung Dihadapkan pada PSG
Kesempatan terbesar kemudian datang karena Unai Emery memilih tidak mengambil risiko terhadap Ollie Watkins yang baru kembali setelah menjalani Piala Dunia. Tammy Abraham berada di bangku cadangan, sehingga Brian Madjo mendapat tugas menjadi penyerang utama melawan juara Liga Champions beruntun PSG.
Keputusan itu terlihat berani karena PSG menurunkan sembilan pemain yang sebelumnya menjadi starter pada final Liga Champions, sedangkan Brian Madjo belum pernah bermain resmi untuk Villa. Namun, pertandingan justru memperlihatkan bahwa sang remaja tidak terlihat gentar menghadapi Marquinhos dan Willian Pacho.
Brian Madjo sempat membuang beberapa peluang, termasuk sundulan bebas dari jarak dekat dan satu tembakan yang melebar sebelum akhirnya menemukan gol. Kegagalan tersebut justru penting karena ia terus mencari posisi berikutnya, bukan menghilang setelah peluang pertama tidak berhasil dimanfaatkan.
Sesaat sebelum turun minum, John McGinn mengirim bola menuju kotak enam yard dan Brian Madjo bertarung dengan Pacho untuk mempertahankan posisinya. Ia kemudian menyambar bola dengan voli ke atap gawang, membalas gol pembuka Khvicha Kvaratskhelia pada menit ke-20.
PSG akhirnya kembali unggul melalui Désiré Doué pada menit ke-61 setelah golnya sempat dianulir karena offside sebelum VAR mengubah keputusan. Villa tidak menemukan gol kedua, dan Brian Madjo kemudian digantikan Tammy Abraham ketika pertandingan menyisakan sekitar 18 menit.
Mengapa Unai Emery Berani Memainkan Brian Madjo?
Bagi Emery, gol bukan satu-satunya alasan Brian Madjo mendapatkan kesempatan karena pelatih asal Spanyol itu menyoroti kerja, disiplin taktik, dan komitmen bertahan. Penilaian tersebut penting sebab pemain muda biasanya baru dipercaya secara reguler jika mampu memenuhi tuntutan tanpa bola, bukan sekadar mencetak gol.
Mantan striker Aston Villa Dion Dublin juga menyoroti keberanian Brian Madjo untuk terus masuk ke posisi mencetak gol setelah gagal memanfaatkan peluang sebelumnya. Kepada BBC Radio 5 Live, Dublin menilai ketahanan mental seperti itu sangat penting bagi striker yang baru berusia 17 tahun.
Kemunculan Brian Madjo juga datang ketika Aston Villa sedang mengalami perubahan besar setelah Morgan Rogers dijual ke Chelsea dan Youri Tielemans pindah ke Manchester United. Kondisi skuad membuat lahirnya opsi internal berkualitas semakin berharga, terutama ketika Villa masih mempertimbangkan tambahan penyerang baru.
Nama Nicolas Jackson sempat dikaitkan dengan Villa, tetapi keberhasilan Brian Madjo memanfaatkan pramusim dan UEFA Super Cup memberi Emery persoalan yang menyenangkan. Ia kini memiliki alternatif muda di belakang Watkins dan Abraham tanpa harus menjadikan setiap kebutuhan lini depan sebagai transaksi mahal.
Brian Madjo dan Perebutan Masa Depan Timnas
Cerita internasional Brian Madjo tidak kalah menarik karena ia sudah menjalani tiga pertandingan senior bersama Luksemburg pada 2025, semuanya dalam laga persahabatan. Karena belum terikat secara kompetitif, ia kemudian menerima panggilan Inggris U-17 dan langsung mencetak gol pada debut melawan Venezuela.
England Football mencatat Brian Madjo masuk skuad Young Lions pada September 2025 setelah sebelumnya membela Luksemburg di level senior. Perubahan jalur internasional itu membuat Inggris mendapatkan salah satu penyerang muda paling menarik ketika regenerasi posisi nomor sembilan menjadi pembicaraan penting.
Hingga data terakhir yang tersedia, Brian Madjo telah mengemas empat gol dari sembilan penampilan bersama Inggris U-17 setelah sebelumnya mewakili Luksemburg. Jalur tersebut membuat masa depannya menarik karena ia juga memiliki akar Kamerun, sementara Inggris terus memikirkan regenerasi penyerang setelah era Harry Kane.
Tetap terlalu dini menyebut Brian Madjo sebagai penerus Kane atau Lukaku karena satu pertandingan besar tidak cukup membuktikan konsistensi seorang striker. Namun, kombinasi usia, kekuatan, kemampuan menyerang ruang, ketenangan setelah gagal, dan keberanian menghadapi bek elite menunjukkan fondasi yang sangat menjanjikan.
Hal terpenting sekarang adalah memastikan Brian Madjo memperoleh menit bermain yang cukup tanpa membebani perkembangannya dengan ekspektasi berlebihan. Jika Emery mampu menjaga keseimbangan itu, Aston Villa mungkin tidak sekadar memenangkan sengketa registrasi, tetapi mendapatkan penyerang utama masa depan mereka.



