Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Jangan Cuma Cari Pencetak Gol, Para Raja Bola Mati Ini Bisa Jadi Mesin Poin di FPL Musim Ini

Jangan Cuma Cari Pencetak Gol, Para Raja Bola Mati Ini Bisa Jadi Mesin Poin di FPL Musim Ini

  • Agustus 10, 2026

Manajer Fantasy Premier League atau FPL 2026/2027 tidak cukup hanya berburu striker tajam atau gelandang dengan statistik gol tinggi, karena bola mati semakin menentukan pertandingan Liga Inggris. Pemain yang menguasai sepak pojok, tendangan bebas, dan penalti kini menawarkan jalur tambahan untuk menghasilkan poin.

Tren tersebut semakin kuat karena lebih dari separuh klub Liga Inggris sekarang memiliki pelatih khusus bola mati. Dalam sepak bola modern yang mengejar keuntungan sekecil apa pun, kemampuan menghasilkan gol dari situasi terencana mulai diperlakukan layaknya senjata utama.

Dilansir Opta Analyst yang bekerja sama dengan Solio Analytics, data Opta digunakan untuk memetakan eksekutor, penerima umpan, serta proyeksi poin FPL 2026/2027. Hasilnya memperlihatkan nama-nama yang berpotensi mempunyai nilai jauh lebih besar daripada sekadar statistik gol biasa.

FPL 2026/2027 Makin Ditentukan Bola Mati

Pentingnya bola mati bahkan terlihat dari perpindahan Austin MacPhee dari Aston Villa menuju Chelsea pada musim panas. Pelatih berusia 46 tahun tersebut direkrut dengan pembayaran klausul pelepasan setelah mendapat persaingan dari beberapa klub Liga Inggris dan Liga Arab Saudi.

Perpindahan seorang pelatih bola mati kini bahkan diberitakan seperti transfer pemain karena pengaruh spesialis tersebut semakin besar. Statistik musim 2025/2026 memberikan bukti kuat bahwa investasi klub dalam aspek ini bukan sekadar tren taktik sementara.

Sebanyak 27,4 persen gol Liga Inggris musim lalu tercipta melalui bola mati nonpenalti, persentase tertinggi kedua sepanjang 34 musim kompetisi. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan 20,6 persen pada musim sebelumnya.

Gol dari sepak pojok juga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah Liga Inggris dengan menyumbang 18 persen dari keseluruhan gol. Pada musim sebelumnya, kontribusi sepak pojok baru mencapai 12,1 persen, memperlihatkan perubahan permainan yang sangat nyata.

Bagi manajer FPL 2026/2027, situasi itu membuat mengetahui siapa penendang bola mati sama pentingnya dengan memahami posisi bermain pemain. Eksekutor sepak pojok memperoleh peluang assist berulang, sementara target utama di kotak penalti mendapatkan tambahan kesempatan mencetak gol.

Arsenal Jadi Raja Bola Mati Liga Inggris

Arsenal menjadi tim terbaik Liga Inggris dari situasi bola mati nonpenalti sepanjang musim 2025/2026. The Gunners mencetak 25 gol melalui sepak pojok, tendangan bebas langsung, tendangan bebas tidak langsung, serta lemparan ke dalam, dengan hanya kebobolan delapan gol.

Selisih positif Arsenal mencapai 17 gol, tertinggi di kompetisi dan menjadi salah satu fondasi keberhasilan mereka meraih gelar. Angka tersebut membuat pemain Arsenal yang terlibat rutin dalam bola mati sangat menarik untuk dipertimbangkan dalam FPL 2026/2027.

Tottenham Hotspur secara mengejutkan menempati posisi kedua meski mengakhiri musim hanya satu tingkat di atas zona degradasi. Spurs menghasilkan selisih positif 10 gol melalui bola mati, memperlihatkan besarnya pengaruh pelatih khusus Andreas Georgson.

Georgson datang bersama Thomas Frank tetapi tetap bertahan di Tottenham melewati sejumlah pergantian manajer. Bahkan terdapat argumen bahwa kualitas organisasi bola mati yang dibangunnya menjadi salah satu alasan Spurs mampu menghindari nasib lebih buruk.

Coventry Bisa Jadi Kejutan FPL 2026/2027

Coventry City membawa reputasi luar biasa dari Championship setelah mencetak 29 gol bola mati nonpenalti dan hanya kebobolan 13 kali. Selisih positif 16 gol tersebut bahkan akan menempatkan mereka di posisi kedua apabila dibandingkan dengan klub Liga Inggris musim lalu.

Tentu sulit berharap Coventry mempertahankan angka sebesar itu setelah promosi karena kualitas lawan meningkat drastis. Namun, keunggulan tersebut membuat pemain bola mati Coventry layak dipantau sebagai opsi murah yang berpotensi memberikan kejutan dalam FPL 2026/2027.

Sebaliknya, Bournemouth, Crystal Palace, dan Liverpool menjadi tiga tim yang masing-masing kebobolan 20 gol melalui situasi bola mati nonpenalti. Palace mencatat selisih negatif sembilan gol, angka terburuk di Liga Inggris sepanjang musim lalu.

Liverpool juga menghadapi pekerjaan besar karena Andoni Iraola membawa staf pelatih bola matinya dari Bournemouth ke Anfield. Mengingat Bournemouth turut bermasalah dalam pertahanan bola mati, kelemahan Liverpool pada aspek tersebut diperkirakan tidak otomatis menghilang.

Bruno Fernandes Jadi Monster FPL 2026/2027

Bruno Fernandes menjadi nama pertama yang wajib dibicarakan ketika membahas pemain bola mati dan FPL 2026/2027. Kapten Manchester United tersebut menghasilkan 21 assist Liga Inggris musim lalu, sekaligus mencetak rekor baru untuk jumlah assist dalam satu musim kompetisi.

Produktivitas tersebut membuat harga Bruno mencapai 12 juta pound dalam permainan, menjadikannya pemain termahal kedua. Solio memproyeksikan sang gelandang menghasilkan rata-rata 6,12 poin per pertandingan selama enam pekan pertama.

Hanya Erling Haaland yang mempunyai proyeksi lebih tinggi dengan 6,57 poin per laga, meski striker Manchester City dihargai sangat mahal sebesar 15,5 juta pound. Perbandingan itu memperlihatkan mengapa Bruno tetap menjadi aset premium yang sangat menarik.

Bola mati menjadi salah satu sumber utama produktivitas Bruno setelah mencatat 11 assist dari situasi tersebut pada 2025/2026. Jumlah itu menyamai rekor Steven Gerrard untuk assist bola mati terbanyak dalam satu musim Liga Inggris.

Tujuh dari 11 assist tersebut berasal dari umpan pertama ketika Bruno mengambil sepak pojok atau tendangan bebas tidak langsung. Angka itu memberikan bukti bahwa eksekutor bola mati dapat menghasilkan suplai poin dengan frekuensi yang sulit didapat pemain biasa.

Tren Inswinging Corner Mengubah Strategi FPL

Liga Inggris sekarang sangat menyukai sepak pojok melengkung menuju gawang atau inswinging corner karena dianggap lebih berbahaya. Sepanjang musim lalu terdapat 2.643 sepak pojok inswinging, jauh melampaui hanya 541 tendangan outswinging.

Tren tersebut membuat pemain kidal lebih sering mengambil sepak pojok dari sisi kanan, sedangkan pemain berkaki kanan bekerja dari sisi kiri. Perubahan kecil ini sangat penting bagi manajer FPL 2026/2027 ketika memprediksi pembagian tugas bola mati.

James Garner, misalnya, mengambil 110 sepak pojok untuk Everton musim lalu tetapi hanya 10 di antaranya berasal dari sisi kanan. Kiernan Dewsbury-Hall yang berkaki kiri mengambil seluruh 43 sepak pojoknya dari sisi kanan.

Pola tersebut menjelaskan mengapa keberadaan rekan setim dengan kaki dominan berbeda bisa memengaruhi volume sepak pojok seorang pemain. Kedatangan pemain baru karena itu berpotensi mengurangi ataupun meningkatkan daya tarik aset tertentu dalam FPL.

Prediksi Eksekutor Corner FPL 2026/2027

Solio telah memproyeksikan calon eksekutor utama sepak pojok seluruh klub berdasarkan kaki dominan, peran musim lalu, dan komposisi skuad terbaru. Daftar ini masih dapat berubah sepanjang pramusim apabila transfer baru memengaruhi hierarki bola mati.

  • Arsenal: Declan Rice dari kiri, Bukayo Saka dari kanan
  • Aston Villa: Matty Cash dari kiri, Lucas Digne/John McGinn dari kanan
  • Bournemouth: Alex Scott/Justin Kluivert dari kiri, Marcus Tavernier/David Brooks dari kanan
  • Brentford: Mathias Jensen/Mikkel Damsgaard dari kiri, Vitaly Janelt/Dango Ouattara dari kanan
  • Brighton: Pascal Groß/Ferdi Kadıoğlu dari kiri, Maxim De Cuyper/Yankuba Minteh dari kanan
  • Chelsea: Reece James/Enzo Fernández dari kiri, Pedro Neto/Estêvão dari kanan
  • Coventry: Matt Grimes/Victor Torp dari kiri, Grimes/Jack Rudoni dari kanan
  • Crystal Palace: Yeremy/Johnson dari kiri, Adam Wharton/Will Hughes dari kanan
  • Everton: James Garner dari kiri, Kiernan Dewsbury-Hall dari kanan
  • Fulham: Saša Lukić/Alex Iwobi dari kiri, Lukić/Oscar Bobb dari kanan
  • Hull: Regan Slater/Ryan Giles dari kiri, Mohamed Belloumi/Giles dari kanan
  • Ipswich: Marcelino Núñez/Jack Clarke dari kiri, Leif Davis/Núñez dari kanan
  • Leeds: Anton Stach dari kiri, Harry Wilson/Stach dari kanan
  • Liverpool: Dominik Szoboszlai/Cody Gakpo dari kiri, Szoboszlai/Florian Wirtz dari kanan
  • Manchester City: Rayan Cherki/Anderson dari kiri, Phil Foden/Cherki dari kanan
  • Manchester United: Bruno Fernandes dari kiri, Bryan Mbeumo/Luke Shaw dari kanan
  • Newcastle: Bruno Guimarães/Jacob Murphy dari kiri, Lewis Hall dari kanan
  • Nottingham Forest: Neco Williams/Dan Ndoye dari kiri, Omari Hutchinson/Callum Hudson-Odoi dari kanan
  • Sunderland: Enzo Le Fée/Trai Hume dari kiri, Granit Xhaka dari kanan
  • Tottenham: Pedro Porro/Mathys Tel dari kiri, Mohammed Kudus/Porro dari kanan

Anton Stach atau Harry Wilson untuk FPL 2026/2027?

Anton Stach menjadi pengecualian dari tren inswinging karena gelandang Leeds tersebut mengambil jumlah sepak pojok yang relatif seimbang dari kedua sisi. Sebanyak 52 persen umpan silang corner Leeds berbentuk inswinging, dibandingkan rentang 69 hingga 96 persen milik 19 klub lainnya.

Kedatangan Harry Wilson berpotensi mengubah situasi karena pemain Wales tersebut merupakan salah satu kaki kiri paling berbahaya di Liga Inggris. Proyeksi Solio bahkan sudah menempatkan Wilson sebagai kandidat utama pengambil sepak pojok Leeds dari sisi kanan.

Stach juga sangat berbahaya dari tendangan bebas langsung setelah mencetak tiga gol melalui skema tersebut musim lalu. Namun, kehadiran Wilson dapat mengurangi volume tendangan bebas maupun sepak pojok yang sebelumnya menjadi sumber nilai terbesar gelandang Leeds tersebut.

Stach dibanderol 6 juta pound dalam FPL 2026/2027, sedangkan Wilson sedikit lebih mahal dengan harga 6,5 juta pound. Musim lalu Stach menghasilkan 4,9 poin per starter, hampir identik dengan Wilson yang membukukan 5,0 poin.

Solio memproyeksikan Wilson menghasilkan 3,70 poin per laga selama 10 pekan awal, sementara Stach berada sangat dekat pada angka 3,63. Ketidakpastian menit bermain Wilson membuat persaingan keduanya masih perlu dipantau sepanjang pramusim.

Dominik Szoboszlai Bisa Jadi Wajib Punya

Dominik Szoboszlai menjadi pemain berikutnya yang nilai FPL 2026/2027 sangat bergantung pada perubahan hierarki bola mati Liverpool. Musim lalu ia mengambil sepak pojok dari dua sisi, berbagi tugas kiri bersama Cody Gakpo dan kanan bersama Mohamed Salah.

Kepergian Salah dan rumor Gakpo menuju Tottenham seharusnya meningkatkan volume sepak pojok Szoboszlai secara signifikan. Namun, kedatangan Iraola bersama staf bola matinya dapat mengubah pola karena Bournemouth sangat bergantung pada skema inswinging musim lalu.

Bournemouth menggunakan inswinging corner pada 96,4 persen kesempatan, angka tertinggi di Liga Inggris dan sedikit mengungguli Arsenal. Filosofi tersebut membuat pemilihan eksekutor Liverpool perlu diperhatikan dengan serius sebelum manajer mengunci skuad FPL 2026/2027.

Solio sementara menempatkan Szoboszlai sebagai kandidat paling mungkin mengambil sepak pojok dari kedua sisi. Liverpool juga kekurangan pemain kidal berkualitas setelah kepergian Salah, sehingga gelandang Hungaria tersebut mungkin tetap mempertahankan sebagian besar tugasnya.

Szoboszlai Berharga 7 Juta Pound

Szoboszlai sudah masuk hampir separuh tim FPL 2026/2027 dan hanya dihargai 7 juta pound, membuatnya terlihat sangat menarik. Solio menempatkannya di peringkat keenam proyeksi poin per pertandingan selama 10 pekan awal dengan angka 4,91.

Cole Palmer yang berharga 9,5 juta pound hanya sedikit lebih tinggi dengan proyeksi 4,98 poin, sementara Antoine Semenyo seharga 8,5 juta berada pada 4,79. Szoboszlai juga memperoleh peluang poin melalui gol, bola mati, dan mekanisme DEFCON.

Tendangan bebas langsung membuat profilnya semakin menarik karena ia melakukan 14 percobaan musim lalu, terbanyak di antara seluruh pemain. Szoboszlai menghasilkan empat gol, membuktikan bahwa volume tendangan bebasnya juga diikuti kualitas eksekusi sangat tinggi.

Dalam satu musim Liga Inggris, hanya David Beckham pada 2000/2001 dan Laurent Robert pada 2001/2002 yang pernah mencetak lebih banyak. Keduanya menghasilkan lima gol tendangan bebas, hanya satu lebih banyak dibandingkan koleksi Szoboszlai musim lalu.

Szoboszlai bahkan berpotensi memperoleh sebagian tugas penalti apabila kondisi kebugaran Alexander Isak membuat sang penyerang tidak selalu tersedia. Kombinasi tersebut menjadikan gelandang Hungaria salah satu aset yang memiliki paling banyak jalur untuk menghasilkan poin.

Declan Rice Tetap Raja Bola Mati Arsenal

Declan Rice memimpin Arsenal musim lalu dalam hampir semua kategori bola mati dengan 95 sepak pojok dan 130 tendangan bebas tidak langsung. Ia juga mencatat 45 umpan silang tendangan bebas, lima free-kick langsung, serta 24 lemparan ke kotak penalti.

Namun, sistem Nicolas Jover sangat ketat terhadap pemilihan sisi sehingga Rice mengambil 87 sepak pojok dari kiri dan hanya delapan dari kanan. Bukayo Saka mengambil 65 corner kanan, sedangkan Noni Madueke melakukan 38 tanpa satu pun dari kiri.

Arsenal mencetak rekor Liga Inggris dengan menghasilkan 19 gol dari sepak pojok musim lalu sehingga hampir tidak mempunyai alasan mengubah struktur tersebut. Namun, potensi kedatangan Bruno Guimarães tetap dapat memengaruhi pembagian bola mati dalam FPL 2026/2027.

Di antara tujuh pemain Arsenal dan Newcastle yang mengambil minimal 20 sepak pojok musim lalu, umpan Guimarães paling sering menghasilkan tembakan. Rata-ratanya satu tembakan setiap 1,9 sepak pojok, memperlihatkan kualitas pengiriman yang sangat tinggi.

Bruno Guimarães Bisa Ikut Ambil Penalti

Guimarães juga mencetak dua gol dari dua penalti bersama Newcastle pada musim 2025/2026. Arsenal sebelumnya mengandalkan Saka yang mencetak satu dari satu penalti serta Viktor Gyökeres yang sempurna melalui tiga kesempatan.

Dengan menit bermain Saka berpotensi dikelola dan Gyökeres mungkin berbagi waktu bersama Kai Havertz, Arsenal bisa membutuhkan eksekutor penalti ketiga. Ketidakpastian inilah yang membuat proyeksi FPL 2026/2027 terus berubah mengikuti transfer dan perkembangan pramusim.

Igor Thiago Layak Seharga 8 Juta Pound?

Igor Thiago menjadi salah satu striker yang menarik perhatian setelah mencetak 22 gol Liga Inggris musim lalu, hanya kalah dari Haaland dengan 27. Performa tersebut membawanya masuk skuad Brasil untuk Piala Dunia dengan mengungguli João Pedro.

Namun, apabila penalti dikeluarkan dari perhitungan, João Pedro justru mencetak 15 gol dibandingkan 14 milik Thiago. Fakta tersebut penting karena sebagian besar nilai penyerang Brentford dalam FPL 2026/2027 bergantung pada kesempatan mengeksekusi penalti.

Thiago kini dihargai 8 juta pound dan menjadi penyerang termahal ketiga bersama beberapa pemain lain, hanya di bawah Haaland serta Alexander Isak. Haaland dibanderol 15,5 juta, sedangkan Isak memiliki harga 9 juta pound.

Thiago mengambil sembilan penalti musim lalu dan berhasil mencetak delapan di antaranya, jumlah yang sangat sulit terulang secara konsisten. Hanya Cole Palmer dan Bruno Fernandes yang juga mengambil lebih dari lima penalti selama kampanye tersebut.

Sepanjang sejarah Liga Inggris, hanya terdapat delapan kejadian ketika seorang pemain mengambil lebih dari sembilan penalti dalam satu musim. Statistik tersebut menjelaskan mengapa proyeksi Solio lebih konservatif terhadap potensi penalti Thiago musim depan.

Haaland dan Bruno Diprediksi Dapat Lebih Banyak Penalti

Solio memprediksi Haaland, Bruno Fernandes, Cole Palmer, dan Pascal Groß mendapatkan penalti lebih banyak daripada Thiago sepanjang 10 pekan pertama. Proyeksi untuk Groß mempertimbangkan perubahan Brighton setelah Danny Welbeck tidak lagi menjadi pilihan utama.

Meski demikian, Thiago masih terlihat cukup layak karena hampir pasti bermain 90 menit dan tidak menghadapi ancaman rotasi besar. Ia bahkan diproyeksikan mengungguli Isak selama 10 pekan awal meskipun harganya satu juta pound lebih murah.

Menariknya, Iliman Ndiaye dari Everton justru diproyeksikan memperoleh poin lebih tinggi daripada Thiago dalam rentang yang sama. Harga Ndiaye dua juta pound lebih murah, sehingga selisih dana tersebut dapat digunakan memperkuat posisi lain dalam skuad FPL 2026/2027.

Bek Mana yang Paling Berbahaya dari Corner?

Selain mengetahui eksekutor, manajer FPL 2026/2027 perlu mengidentifikasi pemain yang paling sering menjadi target pengiriman bola mati. Pascal Struijk menjadi pemain yang mencatat sentuhan pertama terbanyak dari umpan silang sepak pojok sepanjang musim lalu dengan 19.

Struijk, yang kini bergabung dengan Brighton dari Leeds, melepaskan 16 tembakan dari situasi tersebut tetapi tidak menghasilkan satu gol pun. Angka itu menunjukkan potensi ancaman udara besar meskipun konversinya musim lalu masih jauh dari ideal.

Gabriel Magalhães justru menghasilkan angka yang mungkin lebih rendah daripada perkiraan karena hanya melakukan sentuhan pertama dalam 13 sepak pojok. Bek Arsenal seharga 8 juta pound tersebut menghasilkan delapan tembakan dan satu gol dari peluang tersebut.

Virgil van Dijk menjadi pemain paling efektif setelah mencetak empat gol usai menjadi penerima pertama umpan silang corner. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di Liga Inggris, membuat kapten Liverpool tetap berbahaya meski bermain sebagai bek tengah.

Malick Thiaw Punya xG Bola Mati Tertinggi

Data expected goals dari bola mati nonpenalti juga menghasilkan beberapa nama menarik untuk FPL 2026/2027. Malick Thiaw milik Newcastle berada di posisi teratas dengan 4,7 xG, memperlihatkan besarnya kualitas peluang yang diperolehnya.

Casemiro, yang sudah meninggalkan Manchester United, berada di urutan berikutnya dengan 4,1 xG dari bola mati. Bek Manchester City Marc Guéhi menempati posisi ketiga dengan 3,7 xG, menjadikannya kandidat lain yang patut diperhatikan.

Bola Mati Bisa Jadi Kunci Menang FPL 2026/2027

Ketika hampir sepertiga gol Liga Inggris mulai berkaitan dengan situasi bola mati, mengabaikan eksekutor corner dan free-kick menjadi risiko besar. Manajer FPL 2026/2027 perlu melihat jalur mendapatkan poin, bukan sekadar jumlah gol musim sebelumnya.

Bruno Fernandes menawarkan kombinasi assist, free-kick, dan corner, sementara Szoboszlai berpotensi memperoleh volume bola mati jauh lebih besar setelah kepergian Salah. Rice tetap menjadi pusat skema Arsenal, sedangkan Van Dijk menawarkan ancaman gol dari sisi penerima.

Perubahan transfer juga harus terus dipantau karena satu pemain baru dapat mengubah hierarki sepak pojok, tendangan bebas, ataupun penalti. Solio karena itu menggunakan model dinamis yang memperbarui proyeksi berdasarkan komposisi tim dan informasi terbaru sepanjang pramusim.

Strategi tersebut dapat menjadi pembeda ketika mayoritas manajer FPL 2026/2027 hanya mengejar nama populer dengan statistik gol tinggi. Dalam musim ketika revolusi bola mati terus berkembang, pemain yang berdiri di belakang bola mungkin justru menjadi sumber poin paling konsisten.

Real Madrid dikabarkan masih merencanakan tiga transfer baru setelah mendatangkan enam pemain pada bursa musim panas.

Belum Puas, Real Madrid Masih Rencanakan Tiga Transfer Pemain Baru

10 Agu 2026
Virgil van Dijk menyambut rencana kedatangan Ronald Araujo ke Liverpool saat Andoni Iraola mulai membangun era baru di Anfield.

Virgil van Dijk Sambut Ronald Araujo yang Segera Merapat ke Liverpool

10 Agu 2026

Piala Dunia 2030 Diguncang Krisis Spanyol-Maroko, Status Tuan Rumah Mulai Dipertanyakan

10 Agu 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.