Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Skandal Korea Selatan Terbongkar, KFA Dituduh Sediakan Layanan Seks untuk Wasit Asing

Skandal Korea Selatan Terbongkar, KFA Dituduh Sediakan Layanan Seks untuk Wasit Asing

  • Agustus 7, 2026
Skandal wasit di Korea Selatan.

Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan atau KFA menghadapi tekanan baru setelah muncul dugaan pemberian layanan seksual kepada wasit asing pada 2011 dan 2012. Fasilitas itu diduga disiapkan untuk menciptakan keputusan pertandingan yang lebih menguntungkan tim nasional.

Tuduhan tersebut bersumber dari dokumen audit rahasia Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata yang disusun pada 2016. Stasiun televisi JTBC mengungkap temuan lama itu ketika KFA sedang berada dalam sorotan terkait tata kelola organisasi.

Seorang mantan pejabat KFA mengklaim pelayanan kepada perangkat pertandingan asing dilakukan agar mereka lebih ramah terhadap Korea Selatan. Meski demikian, laporan JTBC belum mengonfirmasi secara independen identitas wasit yang disebut menerima fasilitas tersebut.

KFA menanggapi laporan itu dengan menyebut kemungkinan adanya kejadian tidak menyenangkan sekitar 15 tahun lalu. Organisasi tersebut menegaskan kini menjalankan pedoman etika secara ketat dan berusaha mencegah kasus serupa terulang.

Audit Lama Mengguncang Sepak Bola Korea Selatan

Audit pemerintah menyebut pejabat KFA menjamu perangkat pertandingan asing dalam tujuh kesempatan antara Maret 2011 hingga Maret 2012. Rangkaian itu dikaitkan dengan pertandingan kualifikasi Piala Dunia, kualifikasi Olimpiade, serta laga persahabatan internasional.

Laporan tersebut menyebut sekitar 20 perangkat pertandingan terlibat dalam tujuh agenda yang diperiksa. Wasit yang memimpin pertandingan Korea Selatan berasal dari Jepang, Uni Emirat Arab, Iran, Bahrain, dan Uzbekistan.

Pemeriksaan awal sebenarnya bertujuan mengetahui kemungkinan penyalahgunaan kartu kredit perusahaan untuk kebutuhan pribadi. Setelah auditor menemukan pengeluaran yang dinikmati wasit asing, kasus tersebut dilaporkan ditutup tanpa tindakan lanjutan.

Sepanjang tujuh pertandingan yang dikaitkan dengan fasilitas tersebut, Korea Selatan mencatat lima kemenangan dan dua hasil imbang. Namun, rangkaian hasil itu tidak dengan sendirinya membuktikan keputusan wasit telah dipengaruhi atau pertandingan dimanipulasi.

Dokumen itu muncul kembali ketika kepolisian menggeledah kantor pusat KFA dalam penyelidikan terpisah mengenai pengangkatan pelatih tim nasional. Penyelidikan tersebut berkaitan dengan dugaan penyimpangan dan nepotisme dalam proses penunjukan Hong Myung-bo pada Juli 2024.

Hong kemudian mengundurkan diri setelah tim nasional tersingkir pada fase grup Piala Dunia 2026. Mantan pimpinan KFA Chung Mong-gyu juga meninggalkan jabatannya setelah keduanya dimintai keterangan dalam sidang parlemen.

Kementerian menyatakan audit 2016 memang memeriksa dugaan pelayanan kepada wasit, tetapi rincian tidak diumumkan karena kesulitan memverifikasi seluruh fakta. Cho Chung-yun tercatat menjabat presiden KFA ketika peristiwa yang dikaitkan dengan Korea Selatan itu berlangsung.

Tiga Pertandingan Kualifikasi yang Disorot

Salah satu pertandingan yang disorot adalah kemenangan Korea Selatan 2-0 atas Kuwait di Seoul pada 29 Februari 2012. Laga tersebut merupakan bagian dari kualifikasi Asia menuju Piala Dunia 2014.

Menurut audit, kartu kredit KFA digunakan membayar 500.000 won di sebuah panti pijat kawasan Gangnam. Pembayaran tersebut diduga mencakup layanan seksual bagi dua wasit yang bertugas dalam pertandingan Korea Selatan melawan Kuwait.

Kementerian menyimpulkan pembayaran itu bukan sekadar biaya pijat biasa karena tempat sejenis saat itu dikenal menawarkan layanan seksual ilegal dengan biaya tambahan. Temuan tersebut kemudian dicatat sebagai bagian dari dugaan penyalahgunaan pengeluaran organisasi.

Kasus lain disebut terjadi setelah Korea Selatan mengalahkan Oman 2-0 pada 22 September 2011 dalam kualifikasi Olimpiade London. Seorang pegawai KFA diduga membayar 760.000 won di panti pijat Changwon menggunakan kartu perusahaan.

Audit menyimpulkan dana tersebut dipakai menyediakan layanan seksual bagi empat wasit yang terlibat dalam pertandingan. Kemenangan atas Oman menjadi salah satu hasil penting dalam perjalanan Korea Selatan menuju Olimpiade London 2012.

Pembayaran ketiga yang disorot mencapai 198.000 won di sebuah panti pijat Gangnam pada 14 Maret 2012. Auditor menduga fasilitas itu diberikan kepada pengawas wasit ketika Korea Selatan bermain imbang tanpa gol melawan Qatar.

Kesaksian Mantan Pegawai KFA

Seorang mantan pegawai Biro Wasit KFA yang hanya disebut sebagai B mengaku memproses salah satu pembayaran tersebut. Ia menyatakan biaya pijat sudah termasuk layanan seksual dan permintaan pertama datang dari wasit asing.

Dalam wawancara dengan wajah disamarkan serta suara diubah, B mengatakan wasit kerap mengeluhkan kelelahan setelah penerbangan panjang. Menurutnya, pejabat KFA berusaha menyenangkan mereka dengan harapan keputusan pertandingan berpihak kepada Korea Selatan.

B juga mengklaim praktik serupa lebih luas terjadi di negara lain, tetapi tidak memberikan rincian maupun bukti tambahan. Pernyataan tersebut belum dapat dijadikan pembenaran karena setiap upaya memengaruhi wasit tetap bertentangan dengan prinsip integritas pertandingan.

Mantan pegawai KFA lainnya mengatakan wasit asing biasanya datang jauh sebelum pertandingan dan memiliki banyak waktu luang. Pejabat tuan rumah merasa berkewajiban memenuhi permintaan wisata, berbelanja, maupun kebutuhan lain selama mereka berada di Korea Selatan.

Ia mempertanyakan mengapa kasus lama itu baru kembali dibuka, sebab jaksa ketika itu memilih tidak melanjutkan perkara. Namun, keputusan masa lalu tidak menghapus kepentingan publik untuk mengetahui apakah integritas pertandingan pernah dikompromikan.

KFA Mengaku Sulit Memverifikasi Dokumen Lama

Pejabat KFA mengatakan organisasi hanya menyimpan dokumen administrasi selama lima tahun sehingga tidak dapat memverifikasi rincian kejadian. KFA juga menekankan bahwa aturan internal dan pedoman etika telah diperketat sejak dugaan tersebut terjadi.

Jawaban itu belum sepenuhnya meredakan kritik karena masalah utamanya bukan hanya penggunaan kartu perusahaan. Dugaan adanya niat memperoleh keputusan menguntungkan dapat menjadikan kasus tersebut sebagai persoalan integritas sepak bola Korea Selatan.

Belum diketahui apakah FIFA atau Konfederasi Sepak Bola Asia akan membuka pemeriksaan resmi terhadap laporan tersebut. Identitas wasit yang diduga menerima layanan juga belum diumumkan, sehingga setiap pihak tetap harus menghindari kesimpulan sebelum penyelidikan selesai.

Korea Times melaporkan pelanggaran umum dalam Kode Etik FIFA memiliki batas penuntutan lima tahun, sedangkan perkara suap dan korupsi mencapai 10 tahun. Karena peristiwa terjadi pada 2011–2012, peluang sanksi masih bergantung pada klasifikasi perkara.

Risiko Etik dan Dampak Internasional

Pengamat sepak bola Park Moon-seong menilai dugaan tersebut berpotensi memicu kontroversi internasional. Ia menegaskan upaya memengaruhi wasit merupakan pelanggaran serius yang dapat merusak kepercayaan terhadap hasil pertandingan Korea Selatan.

Dalam sepak bola, pemberian fasilitas kepada wasit tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai konflik kepentingan. Keramahtamahan resmi harus memiliki batas jelas agar tidak berubah menjadi gratifikasi yang memengaruhi independensi perangkat pertandingan.

Korea Selatan akhirnya meraih medali perunggu sepak bola putra Olimpiade London 2012 setelah mengalahkan Jepang 2-0. Prestasi itu kini kembali dibicarakan, meskipun tidak ada bukti dalam laporan yang menunjukkan hasil turnamen tersebut dimanipulasi.

Skandal ini menambah tekanan terhadap KFA yang sedang menghadapi pemeriksaan mengenai tata kelola dan penunjukan pelatih. Publik Korea Selatan kini menunggu penjelasan lebih terbuka tentang siapa yang memerintahkan, membayar, serta mengetahui fasilitas tersebut.

KFA perlu membuka informasi sejauh memungkinkan dan mendukung penyelidikan independen apabila bukti masih tersedia. Transparansi menjadi penting untuk memulihkan kepercayaan bahwa pertandingan Korea Selatan diselenggarakan tanpa intervensi terhadap wasit.

Dugaan yang terjadi lebih dari satu dekade lalu tetap relevan karena integritas kompetisi tidak mengenal kedaluwarsa moral. Tanpa penjelasan menyeluruh, kontroversi ini dapat terus membayangi reputasi sepak bola Korea Selatan di tingkat internasional.

Preview PSG vs Slovan Bratislava.

Preview PSG vs Slovan Bratislava: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
Preview Napoli vs Arsenal

Preview Napoli vs Arsenal: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
Preview Liverpool vs Atletico Madrid

Preview Liverpool vs Atletico Madrid: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.