Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - FIFA Kaji Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim, UEFA dan Concacaf Menolak

FIFA Kaji Piala Dunia 2030 Diikuti 64 Tim, UEFA dan Concacaf Menolak

  • Agustus 7, 2026

FIFA mulai mengkaji kemungkinan memperluas Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 peserta, hanya empat tahun setelah format baru diperkenalkan. Rencana besar tersebut kembali memicu perdebatan mengenai kualitas pertandingan, kepadatan kalender, dan arah pengelolaan sepak bola global.

Edisi 2026 menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti 48 negara setelah sebelumnya memakai format 32 tim sejak 1998 hingga 2022. Penambahan peserta menghadirkan empat grup tambahan sekaligus satu babak gugur baru dalam perjalanan menuju final.

FIFA membuka tender untuk menunjuk lembaga independen yang akan menilai dampak perluasan Piala Dunia 2030. Kajian tersebut diminta mengukur manfaat ekonomi, risiko operasional, serta respons berbagai pihak dalam ekosistem sepak bola.

Gagasan Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta pertama kali didorong secara resmi oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL. Usulan itu dianggap dapat memberi lebih banyak negara kesempatan ikut merayakan edisi satu abad turnamen paling bergengsi tersebut.

Piala Dunia 2030 akan menjadi perayaan 100 tahun sejak turnamen pertama digelar di Uruguay pada 1930. Karena itu, pertandingan pembuka khusus dijadwalkan berlangsung di Argentina, Paraguay, dan Uruguay sebelum rangkaian utama dimainkan di tiga negara lain.

Sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2030 akan diselenggarakan oleh Maroko, Portugal, dan Spanyol sebagai tuan rumah bersama. Apabila jumlah peserta bertambah menjadi 64 tim, tiga negara Amerika Selatan itu berpeluang masing-masing menjadi tuan rumah minimal satu grup.

Presiden CONMEBOL Alejandro Dominguez kembali mengangkat usulan Piala Dunia 2030 tersebut setelah edisi 2026 berakhir. Menurut pihak pendukung, format lebih besar dapat memperluas keterwakilan kawasan sekaligus memperkuat makna simbolis perayaan seratus tahun kompetisi.

Dokumen tender menyebut FIFA ingin mengetahui apakah perluasan Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim dapat memperkuat nilai turnamen. Lembaga terpilih juga diminta menjelaskan bagaimana perubahan tersebut akan dipandang oleh pemain, konfederasi, asosiasi nasional, sponsor, penyiar, dan suporter.

FIFA menetapkan tenggat 7 Agustus 2026 bagi perusahaan riset untuk mengajukan proposal pelaksanaan kajian. Lembaga pemenang dijadwalkan dipilih pada 14 Agustus, kemudian harus menyerahkan analisis akhirnya paling lambat 11 September 2026.

Artinya, lembaga tersebut hanya memiliki waktu sekitar empat pekan untuk menilai perubahan besar pada Piala Dunia 2030. Tenggat sangat singkat itu menimbulkan pertanyaan mengenai kedalaman riset dan keseriusan konsultasi terhadap para pemangku kepentingan.

The Guardian melaporkan asosiasi anggota FIFA bahkan tidak diberi informasi sebelum tender penelitian diterbitkan. Kondisi tersebut memperkuat kritik bahwa proses pengambilan keputusan mengenai Piala Dunia 2030 berjalan terlalu cepat dan kurang melibatkan anggota.

Pendapatan Menjadi Bagian Penting Kajian

Lembaga riset akan diminta menghitung perkiraan pendapatan tiket, sponsor, dan hak siar Piala Dunia 2030 dengan format 64 tim. FIFA juga ingin mengetahui nilai tambahan yang dapat dihasilkan serta apakah keuntungan tersebut mampu dipertahankan dalam jangka panjang.

Dokumen kajian menegaskan peningkatan pendapatan saja tidak cukup untuk membenarkan perubahan format Piala Dunia 2030. Rekomendasi akhir harus menunjukkan bahwa manfaat komersial tidak mengorbankan kualitas produk, kesejahteraan pemain, dan keberlanjutan kalender internasional.

Jumlah peserta yang lebih besar tentu menciptakan tambahan pertandingan, penonton, dan inventaris komersial bagi sponsor maupun penyiar. Namun, peningkatan itu juga menuntut stadion, pusat latihan, transportasi, keamanan, akomodasi, dan tenaga operasional dalam skala jauh lebih luas.

FIFA meminta penilaian mengenai kemungkinan pasar mengalami kejenuhan akibat terlalu banyak pertandingan dalam waktu berdekatan. Kajian juga harus mengukur apakah suporter dan pemegang hak siar tetap memiliki minat tinggi ketika jumlah laga meningkat secara signifikan.

Salah satu kekhawatiran utama adalah penurunan kualitas kompetisi apabila terlalu banyak negara dengan kesenjangan kekuatan besar ikut serta. Format 64 tim berpotensi menghasilkan lebih banyak pertandingan tidak seimbang, terutama pada fase grup Piala Dunia 2030.

Di sisi lain, perluasan Piala Dunia 2030 dapat mempercepat perkembangan sepak bola di negara yang selama ini sulit lolos. Kesempatan menghadapi tim elite, memperoleh pendapatan, serta meningkatkan investasi domestik menjadi argumen kuat dari pihak yang mendukung perubahan.

Lembaga independen juga diminta menganalisis kesejahteraan pemain dan dampaknya terhadap kalender internasional. Tambahan pertandingan berpotensi memperpanjang turnamen atau memadatkan jadwal, ketika pemain telah menjalani musim panjang bersama klub dan tim nasional.

Kompleksitas operasional menjadi persoalan lain karena Piala Dunia 2030 akan berlangsung di enam negara dan tiga benua. Perjalanan lintas wilayah, perbedaan cuaca, zona waktu, logistik, dan kebutuhan pemulihan pemain harus diperhitungkan secara lebih rinci.

UEFA dan Concacaf Menentang Format 64 Tim

UEFA dan Concacaf disebut telah menyampaikan penolakan terhadap perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 peserta. Kedua konfederasi khawatir perubahan terus-menerus dapat menurunkan nilai eksklusif turnamen sekaligus menambah tekanan terhadap kalender sepak bola.

Penolakan tersebut berpotensi memperbesar ketegangan antara FIFA dan konfederasi regional yang memiliki kepentingan kompetisi masing-masing. FIFA dinilai tetap mendorong kajian meskipun keberatan terhadap format Piala Dunia 2030 telah disampaikan secara terbuka.

Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan pada 12 Juli bahwa gagasan perluasan akan dipelajari serta dibahas melalui komite terkait. Pernyataan tersebut muncul ketika spekulasi semakin kuat bahwa Infantino mendukung penambahan peserta untuk edisi seratus tahun.

Kajian Piala Dunia 2030 juga muncul setelah rencana FIFA membentuk anak perusahaan senilai 20 miliar dolar AS bersama investor eksternal. Rencana komersialisasi itu menuai kritik dan mendorong UEFA mengancam memboikot agenda FIFA apabila skema tersebut diteruskan.

Apabila format Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta disetujui, sistem 48 tim hanya akan digunakan satu kali pada edisi 2026. Perubahan cepat tersebut akan terasa kontras dengan format 32 negara yang bertahan selama tujuh edisi sejak 1998 sampai 2022.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan apakah FIFA sudah memiliki evaluasi memadai terhadap sistem 48 tim sebelum mengubah Piala Dunia 2030. Dampak olahraga, komersial, dan operasional format baru seharusnya dapat dinilai setelah digunakan dalam lebih dari satu turnamen.

Perluasan juga dapat mempersempit daftar negara atau kawasan yang mampu menjadi tuan rumah pada masa depan. Tidak semua kandidat memiliki jumlah stadion, infrastruktur, anggaran, dan kapasitas organisasi yang dibutuhkan untuk menangani turnamen sebesar itu.

Pilihan paling realistis kemungkinan mengarah pada lebih banyak penyelenggaraan bersama lintas negara atau kawasan. Model tersebut dapat membagi beban biaya, tetapi sekaligus menciptakan persoalan perjalanan, koordinasi pemerintahan, dan konsistensi pengalaman bagi peserta maupun penonton.

Kajian Piala Dunia 2030 selama empat pekan tersebut belum berarti FIFA telah memutuskan menggunakan format 64 tim. Hasil penelitian masih harus dibahas melalui struktur organisasi sebelum perubahan aturan dan mekanisme kualifikasi dapat ditetapkan secara resmi.

FIFA perlu menentukan jumlah grup, komposisi peserta, skema babak gugur, pembagian kuota konfederasi, dan durasi turnamen. Setiap pilihan akan memengaruhi kalender kualifikasi, pendapatan asosiasi, perjalanan tim, serta jumlah pertandingan yang harus dijalani pemain.

Sampai laporan akhir diserahkan pada 11 September 2026, masa depan format Piala Dunia 2030 masih terbuka. Reuters telah meminta tanggapan resmi dari FIFA, tetapi dokumen sumber tidak mencantumkan jawaban badan sepak bola dunia tersebut.

Perdebatan akhirnya tidak hanya menyangkut apakah 64 negara mampu menghadirkan pesta sepak bola lebih meriah. Persoalan utamanya adalah memastikan perluasan Piala Dunia 2030 benar-benar meningkatkan kompetisi, bukan sekadar memperbesar pendapatan dan pengaruh politik FIFA.

Preview PSG vs Slovan Bratislava.

Preview PSG vs Slovan Bratislava: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
Preview Napoli vs Arsenal

Preview Napoli vs Arsenal: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
Preview Liverpool vs Atletico Madrid

Preview Liverpool vs Atletico Madrid: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

08 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.