Piala Dunia 2026 baru berakhir sekitar dua pekan, tetapi pembicaraan mengenai Piala Dunia 2030 sudah mulai menghangat. Spanyol ditempatkan sebagai favorit utama setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada final dan mengangkat trofi dunia kedua mereka.
Dalam pemeringkatan awal yang disusun ESPN, sebanyak 19 jurnalis diminta menilai kekuatan tim nasional menuju Piala Dunia 2030. Setiap peserta menempatkan negara dari peringkat pertama sebagai kandidat juara hingga posisi ke-15 sebagai calon kejutan.
Spanyol memperoleh 15 suara sebagai pilihan pertama, sedangkan empat suara teratas lainnya diberikan kepada Prancis. Inggris berada di posisi ketiga, disusul Portugal, Brasil, Maroko, dan Argentina yang harus puas menduduki peringkat ketujuh.
Dilansir ESPN, penilaian tersebut mempertimbangkan hasil Piala Dunia 2026, kedalaman pemain, regenerasi, pergantian pelatih, dan potensi perkembangan selama empat tahun mendatang. Daftar ini masih sangat awal karena proses kualifikasi Piala Dunia 2030 bahkan belum dimulai.
1. Spanyol Dijagokan Pertahankan Gelar Piala Dunia
Spanyol menjadi favorit terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2030 setelah tampil sangat solid sepanjang turnamen 2026. La Roja hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan sebelum menundukkan Argentina 1-0 pada laga final.
Perjalanan Spanyol sebenarnya dimulai kurang meyakinkan setelah bermain imbang 0-0 melawan Tanjung Verde. Namun, mereka perlahan menemukan ritme, mengontrol pertandingan, dan menunjukkan kedalaman skuad yang sulit ditandingi negara lain.
Spanyol bahkan tidak terlalu bergantung kepada Lamine Yamal yang memasuki turnamen dalam kondisi cedera. Menit bermain bintang Barcelona tersebut dikelola dengan hati-hati, tetapi kualitas tim tidak mengalami penurunan berarti.
Mikel Oyarzabal mencetak lima dari total 14 gol Spanyol selama Piala Dunia 2026. Rodri memenangkan Golden Ball, Unai Simon mendapatkan Golden Glove, sedangkan Pau Cubarsi terpilih sebagai pemain muda terbaik.
Rodri, Marc Cucurella, dan Pedro Porro juga masuk susunan pemain terbaik turnamen. Deretan penghargaan tersebut memperlihatkan dominasi Spanyol tidak hanya terlihat melalui hasil akhir, tetapi juga kualitas individu pada setiap lini.
Kekuatan terbesar Spanyol menjelang Piala Dunia 2030 adalah sistem pembinaan yang konsisten. Tim nasional kelompok usia muda memainkan pendekatan serupa dengan tim senior sehingga pergantian pemain dapat berlangsung tanpa mengubah identitas permainan.
Belum ada negara yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962. Namun, kualitas, usia pemain, serta kedalaman skuad membuat Spanyol dinilai memiliki kesempatan besar memutus penantian panjang tersebut.
2. Prancis Masih Mengandalkan Kylian Mbappe
Prancis menjadi satu-satunya negara selain Spanyol yang mendapatkan suara sebagai calon juara Piala Dunia 2030. Les Bleus memperoleh empat suara pertama berkat kekuatan individu luar biasa di hampir seluruh posisi.
Kylian Mbappe tetap menjadi pusat kekuatan Prancis setelah mencetak dua gol ketika menghadapi Inggris dalam perebutan tempat ketiga. Tambahan tersebut membuatnya mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan 10 gol sekaligus meraih Sepatu Emas.
Mbappe kini telah mengoleksi 22 gol sepanjang kariernya di Piala Dunia, sebuah rekor pada turnamen putra. Ia mencatatkan rata-rata hampir satu gol dalam setiap pertandingan dan baru berusia 27 tahun pada edisi 2026.
Prancis juga mempunyai komposisi usia yang menjanjikan untuk Piala Dunia 2030. Hanya enam dari 26 pemain mereka yang berusia minimal 30 tahun, sementara dua di antaranya berposisi sebagai penjaga gawang.
Sebanyak delapan pemain Prancis masih berusia di bawah 25 tahun saat tampil di Amerika Utara. Michael Olise, Bradley Barcola, Desire Doue, dan Rayan Cherki diperkirakan memasuki masa terbaik ketika turnamen berikutnya berlangsung.
Masalah Prancis berada pada keseimbangan permainan dan kualitas pertahanan. Spanyol memperlihatkan kelemahan tersebut dengan relatif mudah melewati lini tengah serta pertahanan mereka pada pertandingan semifinal.
Pergantian pelatih juga akan menentukan peluang Prancis pada Piala Dunia 2030. Zinedine Zidane dijadwalkan menggantikan Didier Deschamps, tetapi kemampuan taktiknya bersama tim nasional masih harus dibuktikan.
3. Inggris Kembali Membawa Harapan Besar
Inggris menempati peringkat ketiga dalam daftar favorit awal Piala Dunia 2030. The Three Lions kembali memiliki kumpulan pemain berkualitas, tetapi konsistensi, pemilihan skuad, dan keputusan pelatih masih menjadi persoalan utama.
Thomas Tuchel sempat dianggap sebagai sosok yang dapat mengakhiri kegagalan Inggris sejak menjuarai Piala Dunia 1966. Harapan meningkat setelah mereka mengalahkan Meksiko dalam pertandingan dramatis di babak 16 besar.
Namun, pendekatan Inggris berubah terlalu konservatif ketika menghadapi Argentina pada semifinal. Mereka membuang keunggulan dan akhirnya tersingkir setelah kembali gagal mengontrol tekanan dalam momen penting.
Masa depan Tuchel belum diketahui karena belum ada kepastian apakah ia akan memimpin Inggris sampai Piala Dunia 2030. Kandidat penggantinya juga belum terlihat jelas, baik dari kalangan pelatih lokal maupun asing.
Harry Kane mencetak enam gol pada Piala Dunia 2026, tetapi usianya telah mencapai 32 tahun. Inggris perlu menemukan penyerang baru yang mampu mengambil alih perannya apabila kondisi fisiknya menurun dalam empat tahun berikutnya.
Jude Bellingham tampil luar biasa dengan mencetak tujuh gol dari posisi gelandang paling menyerang. Meski demikian, peran tersebut membutuhkan energi besar untuk membantu serangan dan pertahanan sehingga perlu dikelola ketika usianya bertambah.
Kelelahan pemain Liga Inggris juga menjadi masalah sepanjang turnamen. Bukayo Saka, Declan Rice, Noni Madueke, dan Eberechi Eze terlihat tidak berada dalam kondisi terbaik setelah membantu Arsenal menjuarai liga.
Keputusan tidak membawa Cole Palmer, Phil Foden, dan Trent Alexander-Arnold membuat Inggris kekurangan kreativitas ketika tertinggal. Kekurangan bek sayap berkualitas juga harus segera diperbaiki menjelang Piala Dunia 2030.
4. Portugal Memulai Era Tanpa Cristiano Ronaldo
Portugal berada di posisi keempat dan dinilai memiliki keuntungan besar karena menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030. Mereka akan menggelar turnamen bersama Spanyol dan Maroko dengan atmosfer kandang sebagai modal penting.
Cristiano Ronaldo mengumumkan Piala Dunia 2026 sebagai turnamen terakhirnya sebelum Portugal kalah 0-1 dari Spanyol pada babak 16 besar. Kepergiannya membuka kesempatan membangun tim dengan struktur yang tidak lagi berpusat kepada satu pemain.
Sebanyak 16 pemain Portugal pada edisi 2026 berusia 27 tahun atau lebih muda. Komposisi tersebut memberi peluang menjaga kesinambungan sekaligus menciptakan generasi baru dalam empat tahun mendatang.
Portugal tetap harus mencari pengganti beberapa pemain senior seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Joao Cancelo, dan Ruben Dias. Pengalaman mereka sulit digantikan meskipun Joao Neves serta Vitinha menawarkan masa depan menjanjikan di lini tengah.
Rafael Leao akan berusia 31 tahun ketika Piala Dunia 2030 digelar dan harus segera membuktikan konsistensinya. Joao Felix juga bukan lagi pemain muda setelah berusia 26 tahun pada turnamen terakhir.
Jorge Jesus menghadapi tugas membangun pola permainan yang lebih tajam. Dengan kualitas pemain dan keuntungan menjadi tuan rumah, Portugal memiliki kesempatan realistis mencapai fase akhir Piala Dunia 2030.
5. Brasil Masih Bergantung kepada Kualitas Individu
Brasil menempati peringkat kelima setelah perjalanan mereka pada Piala Dunia 2026 berakhir di tangan Norwegia dalam babak 16 besar. Panel menempatkan mereka antara posisi keempat hingga ke-12 karena besarnya ketidakpastian regenerasi.
Masa depan Carlo Ancelotti menjadi salah satu pertanyaan menjelang Piala Dunia 2030. Pelatih asal Italia tersebut harus menentukan apakah ingin bertahan menjalani satu siklus penuh bersama tim yang terkenal sulit menjaga konsistensi.
Hanya tujuh dari 26 pemain Brasil pada 2026 yang berusia maksimal 26 tahun. Dari kelompok tersebut, hanya Vinicius Junior dan Gabriel Martinelli yang telah mengoleksi lebih dari 20 penampilan internasional.
Savinho belum memenuhi ekspektasi setelah bergabung dengan Manchester City dan terus dikaitkan dengan kepindahan. Andrey Santos juga belum menjadi pemain utama di Chelsea dan masih harus membuktikan dirinya sebagai gelandang box-to-box.
Estevao melewatkan Piala Dunia 2026 karena cedera. Namun, pemain berusia 19 tahun itu dinilai dapat berkembang menjadi pasangan ideal bagi Vinicius di lini serang apabila mampu kembali bugar.
Pertahanan kembali menjadi kekhawatiran utama Brasil. Gabriel Magalhaes dan Marquinhos tidak semakin muda sehingga Selecao harus menemukan generasi bek baru sebelum memasuki Piala Dunia 2030.
6. Maroko Menjadi Wakil Afrika Terkuat
Maroko kembali dianggap sebagai tim Afrika dengan peluang terbesar pada Piala Dunia 2030. The Atlas Lions menduduki peringkat keenam setelah mencapai perempat final pada turnamen 2026.
Kekuatan Maroko terletak pada keberhasilan pembinaan kelompok usia. Tim U-23 mereka menjuarai Piala Afrika U-23 tahun 2023 dan merebut medali perunggu Olimpiade Paris 2024.
Tim U-20 Maroko menjadi juara Piala Dunia U-20 tahun 2025. Sementara itu, tim U-17 memenangkan Piala Afrika U-17 dan mencapai perempat final Piala Dunia kelompok umur pada tahun yang sama.
Sistem pembinaan tersebut terus mengirimkan pemain berkualitas ke tim senior. Ayyoub Bouaddi menjadi salah satu nama yang diperkirakan memegang peran penting selama siklus menuju Piala Dunia 2030.
Masalah utama Maroko berada pada produktivitas. Cedera Ismael Saibari ketika menghadapi Prancis memperlihatkan kurangnya pilihan pencetak gol ketika salah satu pemain utama tidak tersedia.
7. Argentina Menghadapi Regenerasi Besar
Argentina hanya menempati posisi ketujuh meskipun menjadi runner-up Piala Dunia 2026. Panel menilai perjalanan mereka menuju final terlalu sering ditentukan oleh kebangkitan dramatis dan gol-gol pada menit akhir.
Lionel Messi telah berusia 39 tahun ketika pertandingan fase grup berlangsung. Belum diketahui apakah ia akan mencoba tampil sekali lagi pada Piala Dunia 2030 atau mengakhiri perjalanan bersama tim nasional.
Argentina membutuhkan gol bunuh diri pada menit ke-111 untuk mengalahkan Tanjung Verde 3-2. Mereka kemudian mencetak tiga gol setelah menit ke-78 untuk membalikkan ketertinggalan 0-2 melawan Mesir.
Dua gol pada perpanjangan waktu membantu Argentina menang 3-1 atas Swiss. Pada semifinal melawan Inggris, mereka kembali mencetak dua gol setelah menit ke-84 setelah sebelumnya tertinggal 0-1.
Pola tersebut tidak mudah diulangi pada Piala Dunia 2030, terutama tanpa Messi. Julian Alvarez perlu membuktikan mampu menjadi pemimpin serangan, sedangkan Enzo Fernandez harus mengendalikan agresivitasnya di lini tengah.
Hanya tujuh dari 26 anggota skuad Argentina yang berusia maksimal 26 tahun. Angka itu menunjukkan perubahan generasi besar harus dilakukan sebelum turnamen berikutnya berlangsung.
8. Jurgen Klopp Memimpin Kebangkitan Jerman
Jerman menduduki posisi kedelapan setelah tersingkir mengejutkan oleh Paraguay pada babak 32 besar. Pemeringkatan dilakukan sebelum Jurgen Klopp diumumkan sebagai pengganti Julian Nagelsmann.
Klopp dianggap sebagai figur ideal untuk mengembalikan identitas, semangat, dan kepercayaan diri Jerman. Namun, gaya tekanan “heavy metal” miliknya harus disesuaikan dengan waktu latihan yang terbatas di level internasional.
Joshua Kimmich telah berusia 31 tahun dan memiliki 110 penampilan bersama tim nasional. Kepemimpinan serta kemampuannya bermain di berbagai posisi akan sulit digantikan dalam proses menuju Piala Dunia 2030.
Florian Wirtz, Jamal Musiala, dan Aleksandar Pavlovic dapat membentuk trio lini tengah masa depan. Persoalan justru terlihat pada posisi penyerang tengah serta pertahanan.
Kai Havertz masih menjadi pilihan utama meskipun bukan penyerang murni. Jonathan Tah dan Antonio Rudiger mulai menua, sementara Nathaniel Brown menjadi salah satu sedikit kabar positif dari turnamen 2026.
9. Norwegia Sangat Bergantung kepada Erling Haaland
Norwegia menempati peringkat kesembilan setelah mencapai perempat final pada Piala Dunia pertama mereka sejak dekade 1990-an. Erling Haaland menjadi tokoh utama dengan mencetak tujuh gol.
Martin Odegaard mengendalikan lini tengah, sedangkan Oscar Bobb dan Antonio Nusa memperlihatkan potensi besar. Hampir seluruh pemain utama Norwegia diperkirakan masih dapat bermain pada Piala Dunia 2030.
Hanya penjaga gawang Orjan Nyland yang berusia lebih dari 31 tahun pada turnamen 2026. Stabilitas generasi memberi Norwegia kesempatan mempertahankan kerangka tim untuk empat tahun berikutnya.
Tantangan terbesar adalah memastikan tiket lolos. UEFA menerapkan sistem kualifikasi dua tingkat yang mengurangi pertandingan timpang sekaligus memperkecil ruang melakukan kesalahan.
10. Belanda Memasuki Masa Transisi
Belanda berada di posisi ke-10 meskipun tersingkir oleh Maroko pada babak 32 besar. Cody Gakpo, Donyell Malen, dan Brian Brobbey sempat menunjukkan kualitas dalam beberapa pertandingan.
Masalah terbesar Belanda adalah perubahan besar pada tim dan staf pelatih. Mereka masih mencari pelatih baru, dengan mantan manajer Liverpool Arne Slot masuk dalam daftar kandidat.
Virgil van Dijk juga harus segera mendapatkan penerus di jantung pertahanan. Skuad Belanda memiliki tujuh pemain berusia di atas 30 tahun dan hanya enam pemain di bawah 25 tahun.
Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian menjelang Piala Dunia 2030. Pelatih berikutnya harus menjaga hasil jangka pendek sambil mempercepat regenerasi pada beberapa posisi utama.
11. Belgia Belum Kehilangan Daya Saing
Belgia menduduki posisi ke-11 setelah mencapai perempat final Piala Dunia 2026. Generasi emas mereka sebelumnya juga mencapai delapan besar pada 2014 dan finis ketiga pada 2018.
Thibaut Courtois telah berusia 34 tahun, Kevin De Bruyne 35 tahun, dan Romelu Lukaku 33 tahun. Meski demikian, Belgia tetap lolos dari grup yang dihuni Mesir, Iran, dan Selandia Baru.
Belgia kemudian mengalahkan tuan rumah Amerika Serikat 4-1 setelah kontroversi kartu merah Folarin Balogun yang dibatalkan. Sebelumnya, mereka bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan Senegal 3-2.
Generasi berikutnya belum sepenuhnya terbentuk, tetapi Jeremy Doku, Amadou Onana, dan Senne Lammens dapat menjadi fondasi. Belgia harus memanfaatkan mereka untuk menjaga peluang pada Piala Dunia 2030.
12. Italia Diprediksi Mengakhiri Penantian
Italia berada di peringkat ke-12 meskipun gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Azzurri juga tidak tampil pada edisi 2018 dan 2022 setelah selalu gagal melewati pertandingan penentuan.
Pada kualifikasi 2018, Italia finis di bawah Spanyol sebelum kalah agregat 0-1 dari Swedia dalam playoff. Empat tahun kemudian, mereka kalah 0-1 dari Makedonia Utara melalui gol menit ke-90.
Kegagalan berlanjut pada kualifikasi 2026. Italia mengalahkan Irlandia Utara, tetapi kemudian kalah adu penalti dari Bosnia-Herzegovina setelah melewatkan dua dari tiga tendangan.
Panel menilai negara pemilik empat gelar dunia tersebut tidak akan gagal empat kali secara beruntun. Alessandro Bastoni, Riccardo Calafiori, Federico Dimarco, Nicolo Barella, dan Sandro Tonali masih memiliki kualitas.
Moise Kean serta Mateo Retegui dapat menjadi pilihan lini depan meskipun belum konsisten. Roberto Mancini menghadapi tugas menyederhanakan permainan setelah pendekatan terhadap Pep Guardiola tidak menghasilkan kesepakatan.
13. Kolombia Terancam Kehilangan Generasi Senior
Kolombia menempati posisi ke-13 setelah disingkirkan Swiss melalui adu penalti pada babak 16 besar. Mereka tampil kompetitif berkat perpaduan pengalaman dan agresivitas di berbagai lini.
Luis Diaz menjadi ancaman utama dari sisi kiri, sedangkan Daniel Munoz memberikan kontribusi menyerang dan bertahan dari kanan. Jefferson Lerma, Gustavo Puerta, serta Jhon Arias menjaga intensitas lini tengah.
Masalah utama Kolombia menuju Piala Dunia 2030 adalah usia. Mereka menjadi salah satu dari tiga peserta dengan rata-rata umur skuad di atas 30 tahun bersama Panama dan Iran.
Hanya dua pemain dari skuad saat ini yang diperkirakan memasuki usia puncak ketika turnamen berikutnya berlangsung. Regenerasi akan menentukan apakah Kolombia tetap kompetitif atau mengalami penurunan tajam.
14. Jepang Andalkan Kesinambungan Pembinaan
Jepang berada di posisi ke-14 setelah disingkirkan Brasil dalam babak 32 besar. Samurai Biru sebenarnya datang tanpa Wataru Endo, Kaoru Mitoma, dan Takumi Minamino yang absen karena cedera.
Rata-rata usia skuad Jepang mencapai 27,19 tahun dan berada di urutan ke-21 dari 48 negara, dihitung dari termuda. Sebagian besar pemain kunci masih berada pada kurva usia yang baik menuju Piala Dunia 2030.
Hajime Moriyasu dijadwalkan menyerahkan jabatan pelatih kepada Go Oiwa pada musim panas berikutnya. Oiwa sebelumnya menangani tim U-23 dan telah bekerja dengan banyak pemain yang berpotensi naik ke tim senior.
Model tersebut menyerupai jalur Luis de la Fuente bersama Spanyol. Ia pernah melatih tim U-19, U-21, dan Olimpiade sebelum membawa tim senior menjuarai Piala Dunia 2026.
15. Meksiko Tetap Berpeluang Membuat Kejutan
Meksiko melengkapi daftar 15 besar setelah mencapai babak 16 besar Piala Dunia 2026. Javier Aguirre membentuk tim agresif yang efektif melakukan serangan balik dan sulit dikalahkan.
El Tri menjadi satu dari tiga negara yang memenangkan seluruh pertandingan fase grup bersama Spanyol dan Argentina. Mereka kemudian melewati Ekuador sebelum menghadapi Inggris di Stadion Azteca.
Meksiko akhirnya kalah 2-3 dalam salah satu pertandingan paling menarik sepanjang turnamen. Laga tersebut menghadirkan drama, kualitas serangan, dan atmosfer besar dari pendukung tuan rumah.
Rafael Marquez akan mengambil alih tim dengan mengandalkan Edson Alvarez, Roberto Alvarado, dan Julian Quinones. Tantangan utamanya adalah menemukan penyerang baru untuk menggantikan Raul Jimenez.
Negara Lain yang Berpotensi Mengejutkan
Selain 15 negara tersebut, beberapa tim juga mendapatkan suara dari panel. Senegal, Pantai Gading, Amerika Serikat, Swiss, Uruguay, Ekuador, Turki, Kroasia, Swedia, Mesir, Nigeria, dan Australia masuk pertimbangan.
Komposisi kekuatan masih dapat berubah drastis sebelum Piala Dunia 2030 dimulai. Pemain muda dapat berkembang, generasi senior mungkin menurun, sedangkan pergantian pelatih berpotensi mengubah arah sebuah tim nasional.
Untuk saat ini, Spanyol menjadi negara dengan fondasi paling lengkap. La Roja memiliki gelar terbaru, kedalaman pemain, sistem pembinaan berkesinambungan, serta keuntungan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Prancis dan Inggris tetap menjadi pesaing terdekat berkat kualitas skuad mereka. Portugal mendapatkan keuntungan kandang, sedangkan Brasil dan Argentina harus menjalani regenerasi besar agar kembali menjadi kandidat utama juara.
Daftar Favorit Juara Piala Dunia 2030
| Peringkat | Negara | Peringkat FIFA | Hasil Piala Dunia 2026 |
| 1 | Spanyol | 1 | Juara |
| 2 | Prancis | 3 | Semifinal |
| 3 | Inggris | 4 | Semifinal |
| 4 | Portugal | 7 | Babak 16 besar |
| 5 | Brasil | 5 | Babak 16 besar |
| 6 | Maroko | 6 | Perempat final |
| 7 | Argentina | 2 | Runner-up |
| 8 | Jerman | 12 | Babak 32 besar |
| 9 | Norwegia | 19 | Perempat final |
| 10 | Belanda | 9 | Babak 32 besar |
| 11 | Belgia | 8 | Perempat final |
| 12 | Italia | 15 | Tidak lolos |
| 13 | Kolombia | 11 | Babak 16 besar |
| 14 | Jepang | 17 | Babak 32 besar |
| 15 | Meksiko | 10 | Babak 16 besar |



