Spanyol memang mengangkat trofi asli setelah menjuarai Piala Dunia 2026, tetapi piala emas tersebut tidak menjadi milik permanen sang juara. Seusai seremoni dan rangkaian perayaan resmi, trofi dikembalikan kepada FIFA untuk disimpan serta digunakan pada edisi berikutnya.
Aturan itu sering menimbulkan pertanyaan karena publik melihat kapten pemenang Piala Dunia 2026 mencium, mengangkat, dan membawa trofi saat pesta kemenangan. Kenyataannya, momen tersebut hanya memberi hak sementara untuk merayakan pencapaian tertinggi dalam sepak bola internasional.
FIFA kemudian menyerahkan FIFA World Cup Winners’ Trophy, yakni replika berlapis emas yang bentuknya menyerupai trofi utama. Replika inilah yang disimpan federasi sepak bola negara juara sebagai pengingat permanen atas keberhasilan mereka.
Trofi Piala Dunia 2026 bukan sekadar hadiah bernilai tinggi, melainkan benda bersejarah yang menghubungkan berbagai generasi juara. Kebijakan kepemilikan FIFA menjaga agar satu trofi asli terus menjadi simbol bersama, bukan koleksi pribadi satu negara.
Spesifikasi Trofi Piala Dunia
Berdasarkan data resmi FIFA, trofi modern memiliki tinggi 36,8 sentimeter dan berat 6,175 kilogram. Piala tersebut dibuat dari emas padat 18 karat, sedangkan bagian dasarnya dihiasi dua lapisan batu malasit berwarna hijau.
Nilai materialnya diperkirakan sekitar 713 ribu dolar Amerika Serikat pada Juni 2026, tetapi angka tersebut dapat berubah mengikuti harga emas. Nilai sejarah, kelangkaan, dan makna simboliknya tentu jauh melampaui harga logam yang digunakan untuk membuatnya.
Desain trofi Piala Dunia 2026 memperlihatkan dua figur manusia yang mengangkat bola dunia di atas kepala mereka. Bentuk itu menggambarkan kemenangan, energi, dan gagasan bahwa sepak bola mampu menyatukan masyarakat dari berbagai negara serta latar budaya.
Seniman Italia Silvio Gazzaniga menciptakan desain tersebut setelah FIFA mengadakan kompetisi untuk mencari pengganti Trofi Jules Rimet. FIFA menerima 53 rancangan dari tujuh negara sebelum akhirnya memilih karya Gazzaniga sebagai simbol baru turnamen.
Trofi Piala Dunia 2026 rancangan Gazzaniga pertama kali digunakan pada turnamen 1974 di Jerman Barat. Tuan rumah menjadi negara pertama yang mengangkat piala baru tersebut setelah mengalahkan Belanda dalam pertandingan final di Stadion Olimpiade München.
Berbeda dari Trofi Jules Rimet, piala modern tidak dapat dimiliki selamanya oleh negara mana pun. FIFA menegaskan bahwa jumlah gelar tidak mengubah status kepemilikan karena trofi asli tetap menjadi aset badan sepak bola dunia.
Trofi Replika untuk Juara Piala Dunia
Juara Piala Dunia 2026 tetap memperoleh kesempatan menyentuh dan mengangkat trofi asli dalam upacara resmi. Namun, akses terhadap benda tersebut dibatasi kepada kelompok tertentu, termasuk juara dunia terdahulu, pejabat FIFA, dan kepala negara.
Pembatasan itu menunjukkan bahwa FIFA memperlakukan trofi sebagai artefak olahraga dengan nilai warisan global. Benda tersebut bukan hanya dipamerkan ketika final, tetapi juga dibawa dalam kegiatan resmi dengan pengamanan dan prosedur ketat.
Setelah seremoni Piala Dunia 2026 selesai, sang juara menerima replika berlapis emas dengan ukuran dan bentuk yang sangat menyerupai piala utama. Trofi pengganti itu dapat dipajang di kantor federasi, museum sepak bola, atau ruang penghargaan negara pemenang.
Perbedaan bahan menjadi pembatas utama antara trofi asli dan trofi pemenang. Piala utama dibuat dari emas padat 18 karat, sedangkan versi yang dibawa pulang juara merupakan replika berlapis emas.
Kebijakan tersebut menjaga kesinambungan Piala Dunia 2026 dengan turnamen-turnamen berikutnya. Setiap kapten juara mendapat kesempatan mengangkat benda yang sama seperti para legenda sebelumnya, sehingga tercipta hubungan langsung antara masa lalu dan masa kini.
Mengapa FIFA Menjaga Trofi Piala Dunia?
Alasan keamanan juga tidak dapat dipisahkan dari keputusan FIFA mempertahankan trofi asli. Dengan nilai ekonomi dan ketenaran yang sangat besar, membiarkan piala disimpan permanen oleh banyak federasi akan meningkatkan risiko kehilangan, pencurian, atau kerusakan.
FIFA memiliki alasan historis yang kuat untuk menjaga trofi Piala Dunia 2026 melalui pengawasan ketat. Pengalaman buruk yang menimpa Trofi Jules Rimet menunjukkan bahwa sebuah benda ikonik tetap dapat hilang meskipun dijaga federasi nasional.
Sejarah Jules Rimet Sebelum Piala Dunia
Trofi pertama Piala Dunia awalnya dikenal dengan nama Victory sebelum kemudian dinamai Jules Rimet. Piala karya pematung Prancis Abel Lafleur itu menampilkan Nike, dewi kemenangan Yunani, yang sedang mengangkat sebuah cawan.
Trofi Jules Rimet dibuat dari perak sterling berlapis emas dan ditempatkan di atas dasar batu lapis lazuli. Uruguay menjadi negara pertama yang menerimanya setelah menjuarai turnamen perdana pada 1930 di Montevideo.
Perjalanan piala tersebut dipenuhi berbagai peristiwa dramatis yang nyaris terdengar seperti cerita film. Pada Perang Dunia Kedua, pejabat sepak bola Italia Ottorino Barassi menyembunyikannya dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur.
Tindakan Barassi dilakukan untuk mencegah trofi jatuh ke tangan pasukan Nazi ketika kondisi Eropa tidak aman. Keberaniannya membantu menjaga salah satu simbol terpenting sepak bola dunia hingga kompetisi internasional kembali berlangsung.
Trofi Jules Rimet kembali menghilang menjelang Piala Dunia 1966 ketika dicuri dari sebuah pameran di Inggris. Piala itu akhirnya ditemukan seekor anjing bernama Pickles, terbungkus koran di bawah pagar tanaman kawasan London selatan.
Kisah Pickles berakhir bahagia, tetapi kejadian tersebut memperlihatkan rapuhnya perlindungan terhadap artefak olahraga. Trofi yang dikenal di seluruh dunia ternyata dapat hilang ketika dipamerkan di tempat umum tanpa sistem keamanan memadai.
Brasil kemudian memperoleh hak menyimpan Trofi Jules Rimet secara permanen setelah menjadi negara pertama yang menjuarai Piala Dunia tiga kali. Keputusan itu diambil seusai keberhasilan mereka mengalahkan Italia pada final 1970 di Meksiko.
Piala tersebut disimpan di kantor Konfederasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro. Namun, pada 1983, pencuri mengambil trofi dari tempat penyimpanan dan benda bersejarah itu tidak pernah berhasil ditemukan kembali.
Penyelidikan tidak pernah memastikan nasib akhirnya, meskipun trofi tersebut luas diyakini telah dilebur dan emasnya dijual. Hilangnya Trofi Jules Rimet menjadi salah satu kehilangan paling terkenal dalam sejarah olahraga internasional.
Sistem Pengamanan Trofi Piala Dunia
Peristiwa itu memperkuat alasan mengapa trofi Piala Dunia 2026 tetap berada dalam penguasaan FIFA. Sistem terpusat memungkinkan pengelola menerapkan standar penyimpanan, pemeliharaan, perjalanan, dan pengamanan yang konsisten terhadap satu benda yang tidak tergantikan.
FIFA bahkan menghentikan kebiasaan meminjamkan trofi asli kepada negara juara setelah restorasi pada 2005. Sejak saat itu, interaksi sang juara dengan piala utama semakin dibatasi pada seremoni serta kegiatan resmi yang mendapat persetujuan.
Kebijakan tersebut bukan berarti pencapaian juara Piala Dunia 2026 menjadi kurang berharga. Gelar, medali, replika resmi, serta catatan sejarah tetap menjadi milik mereka, sedangkan trofi asli berfungsi sebagai simbol abadi kompetisi.
Makna Trofi Piala Dunia bagi Pemain
Bagi pemain Piala Dunia 2026, waktu memegang trofi mungkin hanya berlangsung beberapa menit di tengah sorakan stadion. Namun, foto seorang kapten mengangkat piala emas di atas kepala akan terus hidup dalam ingatan penggemar selama puluhan tahun.
Trofi tersebut pernah diangkat oleh nama-nama besar seperti Franz Beckenbauer, Diego Maradona, Zinedine Zidane, Cafu, Iker Casillas, Philipp Lahm, Hugo Lloris, dan Lionel Messi. Setiap perayaan menambahkan lapisan sejarah baru pada benda yang sama.
Karena itu, mempertahankan satu trofi asli Piala Dunia 2026 membuat simbol kemenangan memiliki garis sejarah yang utuh. Juara baru tidak sekadar menerima piala, melainkan bergabung dalam rangkaian panjang para pemain dan negara terbaik dunia.
Replika resmi tetap memiliki nilai emosional luar biasa bagi federasi dan masyarakat negara pemenang. Benda tersebut menjadi pusat perayaan, dipamerkan kepada publik, dan diwariskan sebagai bukti nyata bahwa tim nasional mereka pernah mencapai puncak dunia.



