Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Kisah Guus Hiddink Jadi Pahlawan Korea Selatan, Dijagokan Jadi Presiden hingga Diberi Vila

Kisah Guus Hiddink Jadi Pahlawan Korea Selatan, Dijagokan Jadi Presiden hingga Diberi Vila

  • Juli 13, 2026
Guus Hiddink

Guus Hiddink memiliki tempat istimewa dalam sejarah sepak bola Korea Selatan. Pelatih asal Belanda itu mengubah Taeguk Warriors dari tim yang tidak pernah lolos fase grup menjadi semifinalis Piala Dunia 2002.

Keberhasilan tersebut membuat Guus Hiddink diperlakukan layaknya pahlawan nasional. Ia mendapat gelar kehormatan, dukungan untuk menjadi presiden, hingga tawaran sebuah vila di Pulau Jeju yang dikenal sebagai pulau vulkanik.

Lebih dari dua dekade berlalu, kenangan mengenai perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia 2002 belum menghilang. Hiddink masih rutin mengunjungi negara tersebut dan selalu menerima sambutan hangat dari masyarakat.

Namun, besarnya penghormatan yang diberikan kepadanya juga sempat membuat sang pelatih merasa canggung. Ia bahkan harus menolak sejumlah hadiah karena merasa tidak mungkin menerima semuanya.

Mengubah Sejarah Korea Selatan

Guus Hiddink menerima pekerjaan sebagai pelatih Korea Selatan pada 2001. Saat itu, negara tersebut belum pernah melewati fase grup sepanjang sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia.

Korea Selatan sebenarnya sudah tampil dalam lima edisi sebelumnya. Namun, mereka selalu tersingkir pada putaran pertama dan belum pernah mencatatkan kemenangan di turnamen tersebut.

Situasinya berubah ketika Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama Jepang pada 2002. Di bawah arahan Guus Hiddink, tim tersebut tampil agresif, disiplin, dan memiliki kondisi fisik yang sangat kuat.

Korea Selatan lolos dari fase grup sebelum menyingkirkan Italia pada babak 16 besar. Mereka kemudian mengalahkan Spanyol melalui adu penalti pada perempat final.

Perjalanan mereka baru berhenti di semifinal setelah dikalahkan Jerman. Korea Selatan juga kalah dari Turki pada perebutan tempat ketiga sehingga mengakhiri turnamen di peringkat keempat.

Meski gagal mencapai final, keberhasilan itu tetap menjadi pencapaian terbesar Korea Selatan dalam sejarah Piala Dunia. Mereka juga menjadi negara Asia pertama yang mampu menembus semifinal.

Dipanggil sebagai “Bos dari Segala Bos”

Kesuksesan di Piala Dunia 2002 membuat popularitas Guus Hiddink meningkat drastis. Penghormatan masyarakat Korea Selatan terhadap mantan pelatih PSV Eindhoven dan Chelsea itu bahkan melampaui urusan sepak bola.

Hiddink mengakui dirinya terkadang merasa tidak nyaman melihat cara masyarakat memandangnya. Ia merasa penghormatan yang diterimanya sudah terlalu besar untuk seorang pelatih sepak bola.

“Mereka memanggil saya dalam bahasa Korea sebagai ‘Bos dari Segala Bos’. Saya berpikir, ‘Ya, sekarang sudah benar-benar cukup,’” kata Guus Hiddink kepada FourFourTwo.

Sebuah surat kabar juga pernah mengusulkan nama Korea untuknya. Nama tersebut adalah Hie Dung-gu, yang kemudian digunakan dalam sejumlah spanduk di stadion.

Salah satu spanduk bahkan menuliskan pesan “Hie Dung-gu untuk presiden”. Sebagian masyarakat mengatakan Hiddink dapat menjadi kandidat presiden yang baik apabila bersedia menjadi warga negara Korea Selatan.

Hiddink hanya menganggap gagasan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Namun, situasi itu memperlihatkan betapa besarnya pengaruh yang dimilikinya setelah Piala Dunia 2002.

Ditawari Vila di Pulau Jeju

Pemerintah Kota Seoul memberikan status warga kehormatan kepada Guus Hiddink. Ia juga menerima berbagai tawaran hadiah sebagai bentuk terima kasih atas keberhasilan tim nasional.

Salah satu hadiah paling menarik adalah sebuah vila di Pulau Jeju. Wilayah tersebut merupakan pulau vulkanik yang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata utama Korea Selatan.

Namun, Guus Hiddink memutuskan tidak menerima vila tersebut. Ia tidak melihat kemungkinan akan menggunakannya setelah kembali bekerja dan menetap di Eropa.

“Saya ditawari berbagai macam hal. Menolak memang dianggap tidak sopan, tetapi saya tidak dapat menerima semuanya,” ujarnya.

“Saya ditawari sebuah vila di Pulau Jeju. Namun, saya tidak membayangkan akan pergi ke sana untuk menghabiskan akhir pekan setelah kembali ke Eropa.”

Keputusan itu tidak mengurangi kedekatannya dengan Korea Selatan. Hiddink tetap menjaga hubungan dengan negara yang membesarkan namanya sebagai salah satu pelatih paling berpengaruh dalam sejarah Piala Dunia.

Rutin Kembali ke Korea Selatan

Meski sudah lama meninggalkan kursi pelatih Taeguk Warriors, Guus Hiddink masih mengunjungi Korea Selatan satu atau dua kali setiap tahun.

Setiap kunjungan selalu disambut dengan tangan terbuka. Masyarakat masih mengingat perannya dalam menciptakan salah satu kisah kejutan terbesar sepanjang sejarah sepak bola.

Hubungan tersebut kemudian berkembang melalui kegiatan sosial. Atas inisiatif pasangannya, Guus Hiddink mendirikan yayasan yang diberi nama Guus Hiddink Foundation.

Yayasan itu telah membantu membangun sejumlah lapangan sepak bola di Korea Selatan. Beberapa fasilitas secara khusus dirancang untuk anak-anak tunanetra.

Lapangan tersebut dilengkapi dinding empuk agar pemain tidak mengalami cedera ketika bergerak. Bola yang digunakan juga berisi lonceng sehingga keberadaannya dapat diketahui melalui suara.

Hiddink pernah mencoba bermain di salah satu lapangan tersebut dengan mata tertutup. Namun, ia mengaku tidak mampu bergerak sedikit pun karena kesulitan menentukan arah.

Rencana Proyek di Korea Utara Gagal

Yayasan Guus Hiddink juga pernah berencana menjalankan program sosial di Korea Utara. Sang pelatih bahkan sudah mengunjungi negara tersebut untuk mempersiapkan proyek.

Truk-truk yang membawa bahan pembangunan telah tersedia. Namun, program akhirnya tidak dapat dilanjutkan karena persoalan politik antara kedua negara.

Hiddink juga mengenang pertandingan persahabatan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang dimainkan di Seoul setelah Piala Dunia 2002.

Malam sebelum pertandingan, kedua tim menghadiri acara makan malam bersama. Namun, delegasi Korea Utara mendapatkan pengawasan keamanan yang sangat ketat.

Menurut Hiddink, pihak keamanan Korea Utara tidak ingin ada pemain yang melarikan diri. Pertandingan tersebut akhirnya berakhir imbang tanpa gol.

“Itu adalah momen yang istimewa. Pertandingannya berakhir 0-0 secara diplomatis,” kata Guus Hiddink mengenang duel tersebut.

Dampaknya Terasa hingga Kampung Halaman

Popularitas Guus Hiddink di Korea Selatan ternyata juga memberikan dampak kepada kampung halamannya di Belanda.

Ia lahir di Varsseveld, sebuah kota kecil yang berada di kawasan pedesaan Belanda. Setelah Piala Dunia 2002, tempat tersebut mulai didatangi wisatawan dari Korea Selatan.

Para pengunjung ingin melihat langsung wilayah tempat sang pelatih dibesarkan. Fenomena tersebut kemudian dimanfaatkan kakak tertua Hiddink sebagai peluang usaha.

Kakaknya menjual toples-toples kecil berisi tanah yang diklaim pernah diinjak Guus Hiddink. Ide unik tersebut ternyata cukup diminati dan menghasilkan penjualan yang baik.

Hiddink tumbuh bersama lima saudara laki-laki. Keluarganya selalu mengikuti perjalanan kariernya, termasuk ketika ia bekerja di berbagai negara dan menangani sejumlah klub besar.

Kakak tertuanya yang menciptakan usaha unik tersebut kini telah meninggal dunia. Namun, cerita mengenai toples tanah itu tetap menjadi bagian menarik dari dampak popularitas Hiddink di Korea Selatan.

Warisan Piala Dunia 2002

Keberhasilan Guus Hiddink bersama Korea Selatan tidak hanya diukur dari hasil pertandingan. Ia juga membantu mengubah mentalitas, standar latihan, dan keyakinan para pemain terhadap kemampuan mereka sendiri.

Sebelum Piala Dunia 2002, Korea Selatan belum pernah memenangi pertandingan dalam turnamen. Beberapa pekan kemudian, mereka mampu mengalahkan negara-negara besar dan mencapai semifinal.

Kemenangan atas Italia dan Spanyol menjadikan perjalanan mereka sebagai salah satu kisah tim nonunggulan paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia.

Pencapaian itu juga menjelaskan mengapa penghormatan terhadap Guus Hiddink begitu besar. Bagi masyarakat Korea Selatan, ia bukan hanya pelatih asing, melainkan simbol dari sebuah perubahan besar.

Kedekatan tersebut terus bertahan meskipun Hiddink kemudian menangani berbagai klub dan negara lain. Pada Piala Dunia 2026, ia bahkan tercatat memimpin Curacao.

Namun, namanya akan selalu dikaitkan dengan kejutan Korea Selatan pada 2002. Itulah turnamen yang membuat pelatih asal Belanda tersebut memperoleh status sebagai putra angkat kesayangan masyarakat.

Dari panggilan “Bos dari Segala Bos”, dukungan untuk menjadi presiden, status warga kehormatan Seoul, hingga tawaran vila di Pulau Jeju, Guus Hiddink mendapatkan penghormatan yang jarang diterima seorang pelatih.

Ia mungkin menolak sejumlah hadiah, tetapi tidak pernah menjauh dari negara tersebut. Melalui kunjungan rutin dan kegiatan yayasan, hubungan Hiddink dengan Korea Selatan tetap terpelihara sampai sekarang.

Lebih dari dua dekade setelah Piala Dunia 2002, warisan Guus Hiddink masih hidup. Ia bukan hanya dikenang karena membawa Korea Selatan ke semifinal, tetapi juga karena menciptakan rasa percaya diri yang mengubah sejarah sepak bola negara tersebut.

Thailand di Piala AFF.

Daftar Pemain Thailand yang Sering Bobol Gawang Indonesia di Piala AFF

23 Jul 2026
Roulette Game

Roulette

22 Jul 2026
5 negara favorit juara Piala AFF 2026.

5 Negara Favorit Juara Piala AFF 2026, Indonesia Nomor Berapa?

22 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.