Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - 5 Pertandingan Sengit Inggris vs Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

5 Pertandingan Sengit Inggris vs Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

  • Juli 13, 2026
Sejarah pertemuan Inggris vs Argentina di Piala Dunia.

Semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan dua negara yang membawa sejarah panjang, luka lama, dan kenangan besar setiap kali memasuki lapangan yang sama. Inggris vs Argentina bukan sekadar pertandingan besar, melainkan rivalitas lintas generasi yang selalu melahirkan cerita.

Jelang pertemuan terbaru di Atlanta, perjalanan masa lalu kembali menjadi bahan pembicaraan karena keduanya sudah lima kali berhadapan dalam turnamen tersebut. Inggris vs Argentina bertemu pada 1962, 1966, 1986, 1998, dan 2002 dengan drama yang berbeda.

Inggris memenangi tiga dari lima pertandingan itu, sedangkan Argentina menang sekali dalam waktu normal dan sekali melalui adu penalti. Namun, angka tersebut belum mampu menggambarkan panasnya Inggris vs Argentina yang dipenuhi kartu merah, kontroversi, dan momen ikonik.

Pertemuan 1966 membentuk permusuhan olahraga yang kemudian semakin tajam setelah Perang Falkland atau Malvinas pada 1982. Konflik selama 74 hari itu meninggalkan korban besar dan membuat Inggris vs Argentina pada 1986 membawa beban emosional jauh lebih berat.

Lionel Scaloni memang meminta semifinal Piala Dunia 2026 dipandang sebagai pertandingan sepak bola biasa, bukan kelanjutan pertikaian politik. Meski demikian, sejarah Inggris vs Argentina tetap sulit dipisahkan dari lima pertemuan yang membentuk identitas rivalitas tersebut.

Inggris vs Argentina dan Rivalitas yang Melampaui Sepak Bola

Persaingan kedua negara tidak lahir hanya dari Perang Falkland atau Malvinas karena gesekan sepak bolanya sudah terlihat sejak 1966. Namun, konflik tahun 1982 menambahkan rasa kehilangan, nasionalisme, dan ketegangan politik menjelang pertemuan mereka empat tahun kemudian.

Perang tersebut berlangsung sejak 2 April hingga 14 Juni 1982, setelah pasukan Argentina menduduki kepulauan yang dikuasai Inggris. Imperial War Museums mencatat konflik selama 74 hari itu menewaskan 649 personel Argentina, 255 personel Inggris, dan tiga penduduk kepulauan.

Karena latar belakang itulah, setiap pertemuan Inggris vs Argentina kemudian terasa lebih besar daripada pertandingan biasa. Para pelatih boleh meredam situasi, tetapi pendukung, media, dan sejarah terus menghidupkan kembali cerita lama ketika kedua tim berhadapan.

Berikut lima pertandingan Inggris vs Argentina yang membentuk salah satu rivalitas paling terkenal dalam sejarah sepak bola internasional. Setiap edisi menghadirkan tokoh, kontroversi, serta akhir berbeda yang terus dikenang hingga menjelang semifinal terbaru.

1. Inggris vs Argentina 1962: Kemenangan Meyakinkan The Three Lions

Pertandingan pertama Inggris vs Argentina berlangsung pada 2 Juni 1962 di Rancagua, Chile, dalam fase Grup 4. Inggris membutuhkan kemenangan setelah kalah dari Hungaria, sedangkan Argentina juga datang dengan ambisi menjaga peluang menuju babak berikutnya.

Ron Flowers membuka skor melalui tendangan penalti pada menit ke-17, lalu Bobby Charlton menggandakan keunggulan menjelang turun minum. Jimmy Greaves menambah gol ketiga sebelum José Sanfilippo mencetak gol hiburan dalam kemenangan Inggris 3-1.

Dibandingkan duel berikutnya, pertemuan Piala Dunia 1962 berjalan lebih tenang dan tidak dibayangi pertikaian politik atau keputusan kontroversial besar. Namun, laga tersebut memperkenalkan sejumlah tokoh seperti Charlton, Greaves, Bobby Moore, dan Antonio Rattín.

Kemenangan itu membantu Inggris melangkah dari fase grup sebelum disingkirkan Brasil pada perempat final. Bagi Argentina, hasil Inggris vs Argentina tersebut menjadi awal dari rangkaian pertemuan yang kemudian berkembang menjadi salah satu rivalitas internasional paling terkenal.

Laga pertama ini mungkin tidak memiliki kartu merah, adu penalti, atau kontroversi besar seperti pertemuan berikutnya. Namun, kemenangan tiga gol Inggris menjadi dasar statistik yang kelak sering dibandingkan ketika rivalitas kedua negara semakin panas.

2. Inggris vs Argentina 1966: Pengusiran Rattín Memicu Permusuhan

Empat tahun kemudian, Inggris vs Argentina bertemu pada perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley dengan suasana jauh lebih tegang. Inggris bertindak sebagai tuan rumah, sementara Argentina membawa gaya bertahan agresif yang membuat pertandingan dipenuhi benturan.

Kontroversi terbesar muncul ketika kapten Argentina Antonio Rattín diusir wasit Rudolf Kreitlein pada babak pertama. Rattín menolak meninggalkan lapangan karena merasa keputusan tidak jelas, sementara kendala bahasa memperpanjang protes dan menghentikan pertandingan beberapa menit.

Pada masa tersebut, wasit belum menggunakan kartu berwarna untuk menjelaskan peringatan atau pengusiran pemain. Rattín diberi tahu secara lisan mengenai keputusan wasit, tetapi komunikasi yang buruk membuat sang kapten menganggap dirinya tidak memahami alasan pengusiran.

Argentina yang bermain dengan sepuluh orang tetap bertahan rapat hingga Geoff Hurst mencetak satu-satunya gol melalui sundulan pada babak kedua. Inggris menang 1-0, melaju ke semifinal, lalu akhirnya menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Ketegangan berlanjut setelah laga ketika pelatih Inggris Alf Ramsey menggambarkan permainan lawan dengan sebutan keras yang memicu kemarahan. Di Argentina, pertandingan Inggris vs Argentina itu dikenang sebagai ketidakadilan yang menanamkan rasa marah selama beberapa dekade.

Insiden Rattín ikut mendorong gagasan penggunaan kartu kuning dan merah agar keputusan wasit lebih mudah dipahami. Ken Aston mengambil inspirasi dari lampu lalu lintas, lalu sistem tersebut diperkenalkan dan digunakan dalam pertandingan internasional modern.

Pertemuan 1966 akhirnya dianggap sebagai titik kelahiran rivalitas sepak bola kedua negara. Inggris mengenangnya sebagai salah satu langkah menuju gelar juara, sedangkan publik Argentina melihatnya sebagai pertandingan yang dipenuhi keputusan merugikan.

3. Inggris vs Argentina 1986: Tangan Tuhan dan Gol Abad Ini

Dua puluh tahun berselang, Inggris vs Argentina kembali terjadi pada perempat final Piala Dunia 1986 di Estadio Azteca, Mexico City. Pertandingan berlangsung empat tahun setelah Perang Falkland atau Malvinas, sehingga tekanan politik menyertai ketegangan sepak bola.

Babak pertama berakhir tanpa gol karena Inggris menjaga pertahanan dengan rapat dan berusaha membatasi pergerakan Diego Maradona. Argentina lebih banyak menguasai permainan, tetapi belum mampu menciptakan keunggulan hingga kedua tim memasuki ruang ganti.

Setelah jeda, Maradona mencoba melakukan kombinasi dengan Jorge Valdano di dekat kotak penalti Inggris. Bola kemudian melambung kembali menuju gawang setelah upaya pembersihan pemain Inggris, sehingga Maradona berlari mengejarnya bersama Peter Shilton.

Maradona melompat dan menyentuh bola menggunakan tangan kiri ketika berduel melawan Shilton. Wasit Ali Bin Nasser tidak melihat pelanggaran tersebut dan mengesahkan gol yang kemudian dikenal sebagai Tangan Tuhan.

Para pemain Inggris langsung melakukan protes karena melihat tangan Maradona lebih dahulu mengenai bola. Namun, pertandingan berlangsung jauh sebelum era VAR, sehingga keputusan wasit tidak dapat diperiksa melalui tayangan ulang di tepi lapangan.

Hanya beberapa menit kemudian, Maradona menggiring bola dari wilayah sendiri, melewati sejumlah pemain Inggris, lalu menaklukkan Shilton. Gol tersebut dikenal sebagai Gol Abad Ini dan memperlihatkan kejeniusan yang sangat berbeda dari kontroversi gol pertamanya.

Gary Lineker memperkecil kedudukan setelah menerima umpan silang John Barnes, tetapi Argentina mempertahankan kemenangan 2-1. Hasil Inggris vs Argentina itu mengantar Maradona menuju semifinal dan akhirnya membawa negaranya menjadi juara Piala Dunia 1986.

Pertandingan ini tetap menjadi babak paling terkenal dalam rivalitas karena menyatukan politik, pelanggaran, dan keindahan sepak bola dalam sembilan puluh menit. Bagi pendukung Inggris, Tangan Tuhan adalah kecurangan, sedangkan Argentina memaknainya sebagai kemenangan simbolis.

4. Inggris vs Argentina 1998: Beckham Diusir, Argentina Menang Penalti

Babak enam belas besar Piala Dunia 1998 mempertemukan Inggris vs Argentina di Saint-Étienne dalam pertandingan yang langsung berjalan liar. Gabriel Batistuta mencetak penalti awal, tetapi Alan Shearer segera membalas dari titik putih setelah Michael Owen dijatuhkan.

Owen yang baru berusia 18 tahun kemudian membawa Inggris unggul melalui lari cepat dan penyelesaian brilian melewati Carlos Roa. Argentina menyamakan skor sebelum jeda lewat skema tendangan bebas cerdas yang diselesaikan Javier Zanetti.

Drama terbesar terjadi pada awal babak kedua ketika David Beckham menendang Diego Simeone setelah dilanggar dan menerima kartu merah. Inggris harus bermain dengan sepuluh orang, sementara Beckham kemudian menjadi sasaran kritik besar dari media negaranya.

Meski kehilangan satu pemain, Inggris bertahan disiplin dan beberapa kali mengancam melalui serangan balik. Sol Campbell bahkan menyundul bola ke gawang, tetapi wasit menganulir gol karena menilai terjadi pelanggaran terhadap Carlos Roa.

Pertandingan Inggris vs Argentina tetap berakhir 2-2 setelah perpanjangan waktu, sehingga tiket perempat final ditentukan melalui adu penalti. David Seaman menggagalkan tendangan Hernán Crespo, memberikan harapan besar kepada Inggris untuk bertahan.

Carlos Roa kemudian menggagalkan eksekusi Paul Ince dan David Batty, sementara para penendang Argentina menjalankan tugas dengan lebih baik. Argentina memenangi adu penalti 4-3 dan kembali menyingkirkan Inggris dalam pertandingan fase gugur.

Kartu merah Beckham menjadi salah satu cerita terbesar setelah turnamen karena sang gelandang dianggap bertanggung jawab atas kekalahan Inggris. Tekanan tersebut mengikuti Beckham selama bertahun-tahun sebelum kesempatan penebusan akhirnya datang pada pertemuan berikutnya.

5. Inggris vs Argentina 2002: Penalti Penebusan David Beckham

Empat tahun setelah malam berat di Prancis, Inggris vs Argentina kembali berlangsung dalam fase grup Piala Dunia 2002 di Sapporo. Argentina datang sebagai favorit juara, sedangkan Inggris membawa keinginan membalas kekalahan dramatis pada pertemuan sebelumnya.

Michael Owen kembali menjadi tokoh penting setelah dijatuhkan Mauricio Pochettino di kotak penalti menjelang turun minum. David Beckham mengambil tanggung jawab dan menendang penalti ke tengah gawang untuk membawa Inggris unggul 1-0.

Gol tersebut menjadi bentuk penebusan pribadi bagi Beckham setelah kartu merahnya pada 1998 membuatnya dihujani kritik. Perayaan emosional sang kapten menjadikan Inggris vs Argentina 2002 sebagai salah satu momen paling penting dalam perjalanan karier internasionalnya.

Argentina menguasai permainan setelah jeda dan memasukkan sejumlah pemain menyerang, tetapi pertahanan Inggris bertahan hingga peluit akhir. Kemenangan itu membantu Inggris lolos, sedangkan Argentina secara mengejutkan tersingkir pada fase grup turnamen tersebut.

Pertemuan 2002 tidak memiliki kekacauan seperti 1966, 1986, atau 1998, tetapi tetap menyimpan tekanan emosional besar. Penalti Beckham menutup sementara rangkaian Inggris vs Argentina dengan cerita penebusan yang terasa sempurna bagi pendukung The Three Lions.

Setelah pertemuan tersebut, kedua negara sempat berhadapan dalam pertandingan persahabatan pada 2005, tetapi tidak kembali bertemu di turnamen besar selama lebih dari dua dekade. Inggris memenangi laga persahabatan itu dengan skor dramatis 3-2.

Inggris vs Argentina Menanti Babak Baru pada 2026

Lima pertandingan tersebut menunjukkan bahwa rivalitas ini berkembang melalui hasil, tokoh, keputusan wasit, dan konteks di luar lapangan. Inggris vs Argentina selalu menemukan cara menghadirkan momen yang bertahan lebih lama daripada skor akhir pertandingan.

Dari Rattín dan Hurst hingga Maradona, Owen, Simeone, serta Beckham, setiap generasi memiliki karakter utama dalam cerita yang berbeda. Itulah sebabnya semifinal Piala Dunia 2026 terasa seperti kelanjutan sejarah, bukan sekadar pertemuan dua tim kuat.

Pertemuan terbaru juga menjadi duel pertama Lionel Messi melawan Inggris sepanjang karier internasionalnya. Argentina berusaha mempertahankan gelar, sedangkan Inggris mengejar final pertama sejak menjadi juara pada 1966.

Pertandingan keenam membuka peluang bagi pemain masa kini menciptakan babak baru yang akan dikenang puluhan tahun mendatang. Apa pun hasilnya, Inggris vs Argentina tetap menjadi salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Sejarah pertemuan Inggris vs Argentina di Piala Dunia.

5 Pertandingan Sengit Inggris vs Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

13 Jul 2026
Julian Alvarez

Julian Alvarez, Bocah Pendiam yang Sejak Kecil Hidup untuk Sepak Bola

13 Jul 2026
Penalti

Muak dengan Adu Penalti, Pria Ini Tawarkan Sistem Baru ke FIFA

13 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.