Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Muak dengan Adu Penalti, Pria Ini Tawarkan Sistem Baru ke FIFA

Muak dengan Adu Penalti, Pria Ini Tawarkan Sistem Baru ke FIFA

  • Juli 13, 2026
Penalti

Adu penalti telah lama menjadi cara paling dramatis untuk menentukan pemenang pertandingan sepak bola. Namun, bagi Tim Farrell, mekanisme itu justru terlalu bergantung pada kegagalan individu dan tidak benar-benar mencerminkan permainan sepak bola.

Drama adu penalti memang disukai penonton, tetapi Farrell menilai dampaknya terhadap pemain sering diabaikan. Satu kegagalan dapat membuat seorang pemain menanggung tekanan, kritik, dan trauma selama bertahun-tahun.

Farrell bukan mantan pemain, pelatih, ataupun pejabat sepak bola. Pria Australia berusia 56 tahun tersebut bekerja di bidang produksi video dan multimedia, tetapi selama hampir dua dekade ia menjalankan misi pribadi untuk mencari pengganti perpanjangan waktu dan adu penalti.

Ia lahir dan besar di Newcastle, Australia, sekitar dua jam perjalanan dari Sydney. Farrell mendukung Newcastle Jets di A-League, bukan Newcastle United yang bermain di Liga Inggris.

Jarak tempat tinggalnya dengan markas FIFA di Zurich, Swiss, sangat jauh. Meski begitu, Farrell tetap mencoba menawarkan gagasan yang menurutnya dapat mengubah cara pertandingan fase gugur diselesaikan.

Menurut Farrell, perpanjangan waktu sering berlangsung membosankan dan menambah beban fisik pemain. Sementara itu, adu penalti terlalu berbeda dari permainan terbuka, minim unsur taktik, dan menempatkan tekanan besar kepada satu pemain yang gagal mencetak gol.

Tekanan tersebut dapat menjadi sangat berat di turnamen sebesar Piala Dunia. Karena alasan itulah Farrell merancang sistem bernama Attacker, Defender, Goalkeeper atau ADG sebagai alternatif adu penalti.

Adu Penalti Juga Berawal dari Sebuah Usulan

Sejarah adu penalti menunjukkan bahwa regulasi besar dapat bermula dari usulan individu. Mekanisme yang sekarang menjadi bagian penting dalam sepak bola itu ternyata tergolong fenomena modern.

Gagasan Farrell mungkin terdengar sulit diterapkan. Namun, adu penalti modern juga lahir setelah seseorang mengirimkan usulan kepada FIFA.

Sebelum 1970, laga fase gugur yang berakhir imbang biasanya diselesaikan melalui pertandingan ulang, pengundian, atau lemparan koin. Delapan edisi Piala Dunia berlangsung tanpa adu penalti, begitu pula banyak kompetisi domestik di berbagai negara.

Tendangan penalti dalam pertandingan sudah diperkenalkan pada 1891. Hukuman itu diberikan kepada tim apabila terjadi pelanggaran atau handball di dalam kotak penalti, dengan eksekusi dilakukan dari jarak 12 yard.

Namun, adu penalti sebagai cara menentukan pemenang baru diterapkan beberapa dekade kemudian. Salah satu peristiwa yang mendorong perubahan terjadi pada perempat final Olimpiade 1968 antara Israel dan Bulgaria di León, Meksiko.

Pertandingan berakhir 1-1 dan para pemain tidak langsung mengetahui bagaimana pemenangnya akan ditentukan. Sebuah sombrero besar kemudian dibawa ke lapangan dengan dua lembar kertas di dalamnya.

Kapten Israel, Mordechai Spiegler, mengambil kertas bertuliskan “OUT”. Israel pun tersingkir tanpa kalah dalam pertandingan, sedangkan Bulgaria melaju dan kemudian meraih medali perak.

Cara penentuan pemenang tersebut membuat jurnalis sepak bola Israel, Joseph Dagan, merasa tidak puas. Dagan lalu bekerja sama dengan pejabat Federasi Sepak Bola Israel, Michael Almog.

Keduanya mengirimkan memo tertulis kepada FIFA yang berisi gagasan mengenai adu penalti. Usulan itu kemudian dibahas dan disetujui oleh International Football Association Board atau IFAB pada 1970.

Museum FIFA mencatat metode serupa pernah digunakan di Uni Soviet untuk menyelesaikan pertandingan imbang sejak 1950-an. Namun, Dagan dan Almog tetap dikenal sebagai pencetus adu penalti modern.

Pada tahun yang sama, Manchester United dan Hull City memainkan adu penalti resmi pertama. Manchester United menang 4-3, sedangkan legenda Old Trafford, George Best, tercatat sebagai pemain pertama yang gagal dalam adu penalti resmi.

Tangisan John Terry Memicu Gagasan Farrell

Farrell mulai serius memikirkan alternatif adu penalti pada Mei 2008. Saat itu, ia bangun pada pagi yang sangat dingin di Melbourne untuk menyaksikan final Liga Champions antara Manchester United dan Chelsea di Moskow.

Bagi penggemar sepak bola di Australia, pertandingan besar Eropa dan Piala Dunia kerap berlangsung tengah malam atau dini hari ketika musim dingin. Farrell mengenang dirinya menonton sambil minum teh di bawah selimut.

Final tersebut berakhir 1-1 setelah perpanjangan waktu. Cristiano Ronaldo membawa Manchester United unggul melalui sundulan pada menit ke-26, sebelum Frank Lampard menyamakan skor menjelang turun minum.

Pertandingan akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Dari sembilan penendang pertama, Ronaldo menjadi satu-satunya pemain yang gagal.

John Terry kemudian maju sebagai penendang kelima Chelsea dengan peluang memastikan gelar Liga Champions pertama bagi klubnya. Namun, kapten Chelsea itu terpeleset di tengah hujan dan tembakannya melebar.

Terry terlihat sangat terpukul. Ia duduk sendirian sambil menundukkan kepala dan menangis.

Empat tendangan kemudian, Nicolas Anelka juga gagal sehingga Manchester United menjadi juara Eropa. Momen tersebut membuat Farrell semakin yakin bahwa adu penalti perlu diganti.

Farrell mengaku bukan pendukung Chelsea ataupun penggemar khusus Terry. Namun, pemandangan seorang pemain menanggung kesedihan besar akibat satu kegagalan membuatnya merasa sepak bola dapat menemukan cara yang lebih baik.

Menurutnya, sistem tersebut dibangun di atas kegagalan. Karena peluang mencetak gol dari titik penalti cukup tinggi, pemain yang gagal akan langsung dianggap sebagai penyebab kekalahan.

Kritik adu penalti itulah yang menjadi dasar utama rancangan Farrell. Ia ingin mengubah cara pandang terhadap pemain yang menjalani penentuan pertandingan.

Farrell ingin membalik logika tersebut. Ia membayangkan sistem dengan tingkat keberhasilan lebih rendah, sehingga pemain yang mampu mencetak gol akan dipandang sebagai pahlawan, bukan pemain yang gagal menjadi sasaran kesalahan.

Sistem ADG Mengadu Penyerang, Bek, dan Kiper

Inspirasi Farrell berasal dari format shootout Major League Soccer yang digunakan pada 1996 hingga 2000. Dalam sistem MLS tersebut, seorang penyerang memulai dari tengah lapangan dan harus mengalahkan kiper dalam situasi satu lawan satu.

Farrell menilai konsep itu lebih dekat dengan permainan sepak bola daripada adu penalti. Ia kemudian menambahkan seorang bek agar duel memiliki unsur bertahan, menggiring bola, pengambilan keputusan, dan taktik.

Dari sanalah lahir Attacker, Defender, Goalkeeper atau ADG. Dalam format ini, seorang penyerang memulai serangan dari jarak 32 yard atau sekitar 29 meter dari gawang.

Seorang bek berdiri sedikitnya 10 yard dari penyerang, sementara kiper menjaga gawang. Penyerang mempunyai waktu 15 detik untuk melewati bek dan mencetak gol.

Apabila penyerang dilanggar, wasit memberikan tendangan penalti. Selain gol atau pelanggaran yang menghasilkan penalti, seluruh hasil lain dihitung sebagai percobaan tanpa gol.

Kedua tim bergantian menyerang dan bertahan. Lima penyerang pertama dari setiap tim ditentukan setelah waktu normal berakhir.

Bek baru dipilih ketika penyerang lawan berjalan menuju titik awal. Setiap bek hanya boleh bertahan satu kali, sehingga pelatih harus menentukan pasangan duel secara cermat.

Tim dapat menurunkan bek terbaik untuk menghadapi penggiring bola terbaik lawan. Namun, mereka juga bisa menyimpan bek tertentu untuk duel lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Format adu penalti dinilainya tidak memberi ruang bagi duel dan penyesuaian strategi. Penendang hanya berhadapan dengan kiper tanpa melibatkan bek atau situasi permainan terbuka.

Unsur tersebut dianggap Farrell tidak ditemukan dalam adu penalti. Sistem ADG tidak hanya menguji ketenangan penyerang, tetapi juga kemampuan menggiring, bertahan, menjaga gawang, serta membaca lawan.

ADG Juga Diusulkan Menghapus Perpanjangan Waktu

Pada awalnya, Farrell hanya menawarkan ADG sebagai pengganti adu penalti. Namun, ia kemudian menilai format tersebut dapat sekaligus menghapus perpanjangan waktu.

Perpanjangan waktu sering menghasilkan pertandingan yang hati-hati dan minim peluang karena kedua tim takut melakukan kesalahan. Tambahan 30 menit juga meningkatkan kelelahan dan risiko cedera pemain.

Menurut Farrell, langkah paling sederhana adalah menghapus perpanjangan waktu. Pertandingan yang imbang setelah 90 menit dapat langsung dilanjutkan dengan ADG.

Dalam skemanya, kedua tim mendapatkan waktu istirahat selama 10 menit. Setelah itu, mereka memainkan ADG yang biasanya selesai dalam waktu sekitar sembilan menit.

Durasi tersebut dinilai membantu mengurangi beban pemain. Stasiun televisi juga dapat memperkirakan waktu berakhirnya siaran dengan lebih pasti dibandingkan pertandingan yang berlanjut ke perpanjangan waktu dan adu penalti.

Penghapusan adu penalti juga dinilai dapat membuat akhir pertandingan lebih menyerupai permainan terbuka. Penyerang, bek, dan kiper tetap harus menggunakan kemampuan utama mereka dalam sepak bola.

Farrell turut memasukkan aspek keadilan ketika ada kartu merah. Apabila satu tim kehilangan pemain, lawan pada akhirnya dapat menghadapi kiper tanpa bek jika duel berlanjut hingga fase sudden death.

Tingkat Keberhasilan Gol Hanya Sekitar 30 Persen

Tingkat keberhasilan tendangan dalam adu penalti modern berada di kisaran 70 persen. Dalam simulasi sistem ADG milik Farrell, peluang mencetak gol diperkirakan hanya sekitar 30 persen.

Angka lebih rendah itu merupakan bagian penting dari gagasannya. Pemain tidak lagi dianggap wajib mencetak gol dalam setiap percobaan.

Ketika seorang penyerang gagal, hasil tersebut dipandang sebagai bagian normal dari duel melawan bek dan kiper. Sebaliknya, pemain yang berhasil mencetak gol akan mendapatkan penghargaan karena benar-benar menciptakan peluang.

Farrell juga berharap tekanan psikologis kepada pemain dapat berkurang. Marcus Rashford, Bukayo Saka, dan Jadon Sancho menerima pelecehan rasial di media sosial setelah gagal dalam adu penalti final Euro 2020 bersama Inggris.

Roberto Baggio juga pernah mengungkapkan bahwa kegagalannya pada final Piala Dunia 1994 terus memengaruhi dirinya selama bertahun-tahun. Farrell meyakini banyak pemain lain mengalami trauma serupa meski tidak pernah membicarakannya secara terbuka.

Menurut Farrell, sepak bola seharusnya tidak menentukan nasib pemain melalui momen yang membuat satu orang memikul seluruh beban kekalahan. Ia menilai ADG dapat mengurangi budaya menyalahkan yang melekat pada adu penalti.

Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan besarnya tekanan dalam situasi tersebut. Jerman untuk pertama kalinya dalam sejarah kalah pada adu penalti Piala Dunia ketika disingkirkan Paraguay.

Farrell Pernah Membawa Proposal ke Markas FIFA

Farrell tidak hanya menyimpan konsep tersebut di rumah. Pada 2010, ketika tinggal di India, ia membiayai sendiri perjalanan ke Zurich untuk menemui perwakilan FIFA.

Sebelum berangkat, ia telah mengirimkan proposal ADG dan meminta kesempatan bertemu. Farrell kemudian memberi tahu FIFA bahwa dirinya akan berada di Swiss dan bersedia menjelaskan gagasannya secara langsung.

Pertemuan itu tidak menghasilkan perkembangan berarti. Farrell merasa FIFA hanya memberikan tanggapan singkat, meski ia mengakui proposalnya ketika itu belum tersusun sebaik sekarang.

Ia menggambarkan suasana markas FIFA setelah Piala Dunia 2010 seperti gedung kosong. Lobi besar hampir tidak berpenghuni, kemungkinan karena banyak pegawai sedang berlibur.

Farrell bertemu dengan kepala bidang perwasitan FIFA. Sebelumnya, ia sempat berkorespondensi dengan seseorang yang diyakininya sebagai sekretaris jenderal pada masa kepemimpinan Sepp Blatter.

Menurut Farrell, pejabat perwasitan tersebut terlihat tidak terlalu ingin mengikuti pertemuan. Meski demikian, ia tidak menyalahkannya dan tetap senang karena setidaknya dapat berbicara langsung dengan seseorang di FIFA.

Farrell menduga gagasannya sempat diperhatikan karena Blatter dikenal menganggap adu penalti sebagai masalah bagi sepak bola. Blatter sendiri menjalani larangan berkegiatan dalam sepak bola terkait kasus korupsi.

Saat meninggalkan kantor FIFA, Farrell tetap merasa puas. Ia kemudian menyadari bahwa rancangan ADG pada masa itu masih belum matang dan membutuhkan banyak perbaikan.

Teknologi Membuat Sistem ADG Lebih Sederhana

Konsep awal Farrell meminta penyerang memulai serangan dari garis tengah. Jarak tersebut membuat percobaan berlangsung lebih lama dan tingkat keberhasilan gol menjadi lebih rendah.

Ia sebenarnya tidak ingin menambahkan tanda permanen baru di lapangan. Menurut Farrell, bentuk lapangan harus dipertahankan dan penambahan titik sekecil tanda penalti pun akan sulit diterima.

Perkembangan teknologi kemudian memberi jalan keluar. Wasit kini menggunakan semprotan penghilang atau vanishing spray, sehingga titik awal sejauh 32 yard dapat dibuat sementara tanpa mengubah lapangan.

Farrell menghitung jarak tersebut sebagai posisi awal paling ideal. Dengan demikian, format ADG bisa diterapkan menggunakan perlengkapan yang sudah tersedia dalam pertandingan modern.

Menjelang Piala Dunia 2022, Farrell kembali mengembangkan proposalnya. Ia menggunakan perangkat lunak kecerdasan buatan untuk menjalankan simulasi dan menguji berbagai kemungkinan dalam sistem ADG.

Namun, hingga Juli 2026, konsep tersebut belum pernah diuji secara resmi di lapangan. Farrell telah menghubungi sejumlah klub A-League, tetapi belum ada yang bersedia membantu menggelar percobaan.

Ia juga pernah berbicara dengan seseorang di IFAB yang menyukai proposal tersebut. Meski begitu, sistem ADG belum pernah masuk dalam pembahasan resmi para pembuat regulasi sepak bola.

Mungkinkah Adu Penalti Benar-Benar Diganti?

Adu penalti tetap menjadi aturan resmi hingga kini. Belum ada tanda bahwa FIFA atau IFAB akan segera menggantinya dengan format lain.

Farrell menyadari ADG masih berupa teori. Namun, berbagai penolakan tidak membuatnya berhenti menghubungi FIFA dan IFAB.

Ia bertekad terus menawarkan konsep tersebut sampai otoritas sepak bola bersedia membahas dan mengujinya. Farrell menggambarkan dirinya sebagai orang yang gigih dan tidak mudah menyerah.

Menurutnya, sepak bola pernah memiliki tiga cara utama untuk menyelesaikan pertandingan imbang, yaitu aturan gol tandang, perpanjangan waktu, dan adu penalti. Ketiganya mempunyai kekurangan.

Aturan gol tandang telah dihapus dari banyak kompetisi. Farrell memperkirakan perpanjangan waktu juga dapat menghilang pada masa mendatang, sehingga sepak bola hanya akan menyisakan adu penalti.

Nasib adu penalti belum akan berubah hanya karena satu proposal. Farrell tetap membutuhkan dukungan klub, pemain, FIFA, dan IFAB agar sistem tersebut dapat diuji secara nyata.

Apakah ADG akhirnya menjadi pengganti adu penalti masih belum dapat dipastikan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar pernah dimulai dari sebuah memo sederhana yang dikirimkan kepada FIFA.

Adu penalti pun tidak lahir melalui proses singkat. Gagasan tersebut membutuhkan pembahasan panjang sebelum akhirnya disetujui dan digunakan secara resmi.

Farrell kini berharap gagasannya mendapatkan kesempatan serupa. Baginya, tujuan utama bukan menghilangkan drama, melainkan menciptakan penentuan pemenang yang lebih dekat dengan sepak bola, lebih taktis, dan tidak dibangun dari penderitaan satu pemain.

Sejarah pertemuan Inggris vs Argentina di Piala Dunia.

5 Pertandingan Sengit Inggris vs Argentina Sepanjang Sejarah Piala Dunia

13 Jul 2026
Julian Alvarez

Julian Alvarez, Bocah Pendiam yang Sejak Kecil Hidup untuk Sepak Bola

13 Jul 2026
Penalti

Muak dengan Adu Penalti, Pria Ini Tawarkan Sistem Baru ke FIFA

13 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.