Inggris berhasil menembus perempat final Piala Dunia 2026 setelah melewati tiga pekan penuh kerja keras, kebangkitan, dan drama hingga menit akhir. Namun, perjalanan menuju semifinal tidak akan mudah karena mereka harus menghadapi Norwegia yang sedang tampil berbahaya.
Pertandingan Norwegia melawan Inggris dijadwalkan berlangsung di Miami Stadium pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 17.00 waktu setempat atau Minggu, 12 Juli 2026 pukul 04.00 WIB. Pemenang pertandingan ini akan menghadapi Argentina atau Swiss pada semifinal.
Pasukan Thomas Tuchel dinilai mendapatkan salah satu jalur yang relatif lebih ringan dibandingkan tim-tim unggulan lain. Meski demikian, pertandingan yang mereka jalani tetap tidak terasa sederhana, terutama ketika harus bekerja keras menyingkirkan Meksiko dengan skor 3-2.
Norwegia akan menjadi peningkatan level yang cukup signifikan bagi Inggris. Tim berjuluk The Vikings tersebut memiliki Erling Haaland sebagai mesin gol, didukung pemain berpengalaman di Liga Champions seperti Martin Ødegaard, Julian Ryerson, dan Alexander Sørloth.
Haaland dan rekan-rekannya sudah menunjukkan bahwa mereka mampu menyingkirkan tim besar setelah mengalahkan Brasil pada babak 16 besar. Berdasarkan analisis Opta, terdapat enam hal yang perlu dilakukan Inggris agar dapat meredam Norwegia dan melanjutkan perjalanan ke semifinal.
1. Jangan Hanya Fokus Menjaga Erling Haaland
Menghentikan Erling Haaland tentu menjadi pekerjaan utama pertahanan Inggris. Namun, Morgan Rogers secara terbuka mengakui bahwa sangat sedikit tim yang benar-benar mampu membuat penyerang Manchester City tersebut tidak berkutik.
Haaland telah mencetak 27 gol dalam 14 pertandingan kompetitif terakhirnya bersama Norwegia. Ia selalu mencetak gol dalam seluruh pertandingan tersebut, termasuk pada empat penampilannya di Piala Dunia 2026.
Apabila kembali membobol gawang Inggris, Haaland akan menjadi pemain pertama sejak James Rodríguez bersama Kolombia pada 2014 yang mencetak gol dalam lima pertandingan pertama di satu edisi Piala Dunia. Ia juga bisa menjadi pemain Eropa pertama yang melakukannya sejak Gerd Müller bersama Jerman pada 1970.
Keunikan Haaland terletak pada kemampuannya menghilang dari permainan sebelum tiba-tiba muncul pada momen paling menentukan. Ia hanya mencatat rata-rata 24,8 sentuhan per 90 menit, angka terendah ketiga di antara pemain yang telah bermain sedikitnya 300 menit.
Walaupun jarang menyentuh bola, Haaland sudah mengoleksi tujuh gol dan hanya berada di belakang Lionel Messi dalam daftar pencetak gol. Sebanyak 40,3 persen jarak yang ditempuhnya juga dilakukan dengan berjalan kaki, tetapi pergerakannya berubah sangat eksplosif ketika peluang datang.
Dari 18 tembakan yang dilepaskan Haaland, sebanyak 17 di antaranya dilakukan dengan sentuhan pertama. Satu-satunya tembakan yang tidak langsung dilepaskan berbuah gol keras dari luar kotak penalti ketika Norwegia memperbesar keunggulan menjadi 2-0 atas Brasil.
Haaland juga menghasilkan rata-rata 0,24 expected goals atau xG dari setiap tembakan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara semua pemain yang telah melepaskan sedikitnya 10 tembakan pada Piala Dunia 2026.
Inggris karena itu tidak cukup hanya menempel Haaland menggunakan satu atau dua bek. Pilihan yang lebih realistis adalah mengurangi suplai bola kepadanya dan mencegah Norwegia menciptakan peluang di area yang disukai sang penyerang.
2. Putus Hubungan Martin Ødegaard dengan Haaland
Salah satu jalur utama yang membawa bola menuju Haaland berasal dari Martin Ødegaard. Kapten Norwegia tersebut menjadi pengatur permainan dan pemain paling penting dalam menghubungkan lini tengah dengan sektor serangan.
Ødegaard mencatat satu assist dalam masing-masing dari tiga pertandingan pertamanya di Piala Dunia 2026. Ia menjadi pemain pertama yang melakukan pencapaian itu sejak Michael Ballack bersama Jerman pada edisi 2002.
Hanya Brahim Díaz, Bruno Guimarães, dan Michael Olise yang mengumpulkan assist lebih banyak daripada Ødegaard sebelum perempat final. Catatan itu memperlihatkan bahwa pengaruhnya tidak kalah penting dibandingkan produktivitas Haaland di depan gawang.
Pemain Arsenal tersebut juga sangat efektif membawa bola melewati garis pertahanan lawan. Ia menghasilkan tujuh operan pemecah garis ketika berada dalam tekanan tinggi, yakni saat terdapat pemain lawan dalam jarak maksimal dua meter.
Jumlah itu menjadi yang tertinggi di turnamen bersama Olise dan Enzo Fernández. Namun, Olise sudah memainkan satu pertandingan lebih banyak daripada Ødegaard sebelum berlangsungnya babak perempat final.
Ødegaard turut mencatat 20 operan ke dalam kotak penalti lawan, terbanyak di antara seluruh pemain Norwegia. Umpannya tidak selalu diberikan langsung kepada Haaland, tetapi sering menjadi awal dari peluang yang akhirnya sampai kepada penyerang berusia 25 tahun tersebut.
Inggris harus menutup ruang gerak Ødegaard sejak proses pembangunan serangan dimulai. Apabila Haaland sulit dihentikan secara langsung, Tuchel dapat memutus sumber peluang dengan membatasi waktu dan ruang Ødegaard ketika menguasai bola.
3. Serang Sisi Kanan Pertahanan Norwegia
Inggris tidak boleh menghabiskan seluruh energinya hanya untuk bertahan. Dengan mempertimbangkan ketajaman Haaland, Harry Kane dan rekan-rekannya perlu mempersiapkan skenario untuk mencetak setidaknya dua gol.
Pertahanan Norwegia masih memiliki sejumlah kelemahan yang dapat dimanfaatkan. Mereka mencetak 12 gol dan kebobolan sembilan kali dalam lima pertandingan pertama, dengan kedua tim selalu mencetak gol dalam setiap laga.
Apabila Norwegia menang sambil kembali kebobolan, mereka akan menjadi tim kedua dalam sejarah yang mencapai semifinal setelah mencetak dan kemasukan sedikitnya 10 gol. Sebelumnya, hanya Jerman Barat pada Piala Dunia 1954 yang mencatat pencapaian serupa.
Angka kebobolan tersebut memang membutuhkan konteks. Brasil hanya mencetak gol melalui penalti pada pengujung pertandingan, sementara empat gol lainnya terjadi ketika Norwegia menurunkan sebagian besar pemain pelapis menghadapi Prancis.
Namun, Norwegia juga kebobolan satu-satunya gol Irak di turnamen, dua kali dibobol Senegal, dan sekali kemasukan ketika menghadapi Pantai Gading. Pola kelemahan mereka terlihat cukup jelas melalui serangan dari sisi kanan pertahanan.
Tiga gol dari permainan terbuka yang bersarang ke gawang Norwegia berawal dari umpan silang di sisi kanan. Masing-masing gol tersebut dibuat Irak, Senegal, dan Prancis.
Sebelum perempat final, tidak ada tim lain yang kebobolan lebih banyak dari area tertentu di lapangan. Norwegia juga menghadapi 22 tembakan yang terjadi maksimal 10 detik setelah lawan mengirimkan umpan silang, terbanyak di Piala Dunia 2026.
Kondisi itu cocok dengan salah satu kekuatan Inggris. The Three Lions bersama Mesir menjadi tim dengan gol sundulan terbanyak di turnamen, yakni empat gol.
Inggris juga telah menghasilkan tiga gol melalui umpan silang dari sektor kiri. Anthony Gordon berpeluang memainkan peran penting apabila Tuchel ingin terus menyerang area di belakang bek kanan Norwegia.
4. Menekan dengan Cerdas di Tengah Cuaca Panas
Faktor tempat pertandingan kembali menjadi tantangan bagi Inggris. Pada babak sebelumnya, mereka harus menghadapi ketinggian Mexico City, sementara laga perempat final di Miami akan dimainkan dalam cuaca panas dan lembap.
Suhu ketika pertandingan dimulai pada pukul 17.00 waktu setempat diperkirakan mencapai sekitar 33 derajat Celsius. Tingkat kelembapan yang tinggi dapat membuat suhu terasa mendekati 43 derajat Celsius bagi para pemain di lapangan.
Kondisi tersebut menuntut Inggris menyeimbangkan intensitas permainan dengan pengelolaan energi. Mereka tidak bisa terus menekan tanpa henti karena risiko kelelahan dan kehilangan konsentrasi akan meningkat pada babak kedua atau perpanjangan waktu.
Sejak ditunjuk sebagai pelatih Inggris, Tuchel ingin timnya mengadopsi karakter permainan Liga Inggris. Ia menekankan permainan fisik, langsung, berintensitas tinggi, serta kemampuan merebut bola di wilayah pertahanan lawan.
Pendekatan itu terlihat sepanjang Piala Dunia 2026. Inggris menjadi tim ketujuh paling aktif melakukan pressing dan menempati posisi kedua di antara delapan peserta perempat final, dengan catatan passes per defensive action atau PPDA sebesar 10,2.
Di antara tim yang masih bertahan, hanya Spanyol yang mencatat tekanan lebih agresif dengan PPDA 8,7. Semakin rendah nilai PPDA, semakin sedikit operan yang diizinkan sebuah tim sebelum mencoba melakukan tindakan defensif.
Statistik Inggris juga sedikit dipengaruhi pertandingan melawan Meksiko ketika mereka harus bertahan cukup lama dengan 10 pemain. Pada laga itu, Inggris hanya mencatat 82 tekanan di wilayah permainan lawan.
Hanya dua tim yang pernah menghasilkan tekanan lebih sedikit di wilayah lawan dalam satu pertandingan. Mereka adalah Qatar ketika bermain dengan sembilan pemain melawan Kanada serta Tanjung Verde saat menghadapi Spanyol.
Inggris tetap perlu menekan Norwegia agar Ødegaard dan pemain belakang lawan tidak nyaman mengembangkan permainan. Namun, tekanan harus dilakukan berdasarkan pemicu yang tepat, bukan sekadar berlari terus-menerus mengejar bola.
Ketika menguasai bola, Inggris perlu memperlambat tempo pada momen tertentu untuk memulihkan tenaga. Pengaturan ritme akan sangat penting agar mereka tidak kehabisan energi ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
5. Kuasai Duel dan Bola Kedua
Norwegia bukan tim yang hanya mengandalkan permainan langsung, tetapi mereka tidak ragu mengirimkan bola panjang untuk melewati tekanan lawan. Penempatan Alexander Sørloth yang memiliki tinggi sekitar 195 sentimeter di sisi kanan menjadi bagian dari strategi tersebut.
Hanya Paraguay dengan 49 tendangan gawang dan Australia dengan 28 yang lebih sering mengirimkan bola ke wilayah permainan lawan. Norwegia berada di urutan berikutnya dengan 26 tendangan gawang langsung menuju separuh lapangan lawan.
Kombinasi operan pemecah garis yang paling sering dilakukan Norwegia juga berasal dari kiper Ørjan Nyland kepada Sørloth. Skema tersebut memungkinkan mereka melewati lini pressing dan langsung menantang pertahanan lawan dalam duel udara.
Apabila Inggris menekan terlalu tinggi, Norwegia dapat langsung mengirimkan bola kepada Sørloth atau Haaland. Bek Inggris tidak hanya harus memenangkan duel pertama, tetapi juga memastikan bola pantul tidak dikuasai pemain tengah lawan.
Inggris memiliki tingkat keberhasilan duel sebesar 54,5 persen, terbaik kedua di antara seluruh peserta Piala Dunia 2026. Mereka juga berada di posisi ketujuh dalam duel udara dengan persentase kemenangan 56,7 persen.
Sebaliknya, tingkat kemenangan duel Norwegia hanya mencapai 46,2 persen. Mereka berada di posisi keempat dari bawah dan hanya lebih baik daripada Austria, Selandia Baru, serta Haiti.
Kelebihan statistik itu harus dimanfaatkan Inggris. Akan tetapi, memenangkan sentuhan pertama belum cukup apabila bola kedua kemudian jatuh kepada Ødegaard atau gelandang Norwegia lainnya.
Tiga gelandang Inggris memiliki kemampuan kuat dalam merebut kembali penguasaan bola. Elliot Anderson mencatat 26 pemulihan penguasaan dan berada di posisi ketujuh di turnamen.
Jude Bellingham telah menghasilkan 20 pemulihan penguasaan, sedangkan Declan Rice mencatat 18 meskipun sempat diistirahatkan dalam satu pertandingan. Pekerjaan ketiganya tanpa bola bisa menjadi faktor utama dalam menentukan hasil pertandingan.
6. Manfaatkan Pengalaman di Turnamen Besar
Inggris juga harus menggunakan pengalaman mereka dalam menghadapi tekanan pertandingan fase gugur. Situasi tersebut sangat berbeda dibandingkan satu dekade lalu ketika mereka secara mengejutkan tersingkir dari Islandia pada babak 16 besar Euro 2016.
Setelah Gareth Southgate ditunjuk menggantikan Sam Allardyce, Inggris mulai rutin melangkah jauh di turnamen besar. Mereka mencapai semifinal Piala Dunia 2018 serta final Euro 2020 dan Euro 2024.
Pencapaian terburuk Inggris di Piala Dunia atau Piala Eropa sejak era Southgate adalah tersingkir pada perempat final Piala Dunia 2022. Ketika itu, mereka kalah 1-2 dari Prancis.
Thomas Tuchel kini mewarisi skuad yang sebagian besar sudah memahami tekanan pertandingan besar. Pemain seperti Kane, Bellingham, Rice, Jordan Pickford, dan Bukayo Saka telah berulang kali tampil dalam fase gugur kompetisi internasional.
Pertandingan melawan Norwegia akan menjadi penampilan ke-11 Inggris pada babak perempat final Piala Dunia. Hanya Brasil dan Jerman yang lebih sering mencapai delapan besar, masing-masing sebanyak 14 kali.
Meski lebih berpengalaman, catatan Inggris pada tahap ini tidak sepenuhnya meyakinkan. Mereka hanya memenangi tiga dari 10 perempat final sebelumnya dan kebobolan sedikitnya dua gol dalam tujuh pertandingan.
Norwegia justru baru pertama kali mencapai perempat final turnamen besar. Namun, keberhasilan menyingkirkan Brasil menunjukkan bahwa minim pengalaman tidak membuat pasukan Ståle Solbakken kehilangan kepercayaan diri.
Inggris Tidak Boleh Hanya Memikirkan Haaland
Menghentikan Haaland jelas menjadi bagian terbesar dalam rencana Inggris. Namun, terlalu banyak menaruh perhatian kepadanya dapat memberikan ruang kepada Ødegaard, Sørloth, Antonio Nusa, atau Andreas Schjelderup.
Inggris perlu memutus jalur umpan Ødegaard, menyerang sisi kanan pertahanan Norwegia, dan memanfaatkan kemampuan duel para gelandangnya. Semua itu harus dilakukan sambil mengatur energi di tengah suhu serta kelembapan tinggi Miami.
Pengalaman Inggris memberi mereka keuntungan, tetapi Norwegia memiliki daya ledak yang cukup untuk menghukum setiap kesalahan. Haaland bahkan tidak membutuhkan banyak sentuhan sebelum mencetak gol dan mengubah arah pertandingan.
Karena itu, pasukan Tuchel tidak bisa hanya datang dengan rencana bertahan. Inggris harus berani menyerang, menciptakan peluang dari sisi kiri, dan menjaga kendali terhadap bola-bola kedua.
Apabila enam hal tersebut dilakukan dengan baik, Inggris memiliki peluang besar menembus semifinal. Namun, satu kelengahan terhadap Haaland atau satu operan bebas dari Ødegaard dapat menghentikan ambisi mereka menjadi juara dunia.



