Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - Bek Tengah Jadi Biang Kegagalan Penalti di Piala Dunia 2026, Mengapa Masih Dipilih?

Bek Tengah Jadi Biang Kegagalan Penalti di Piala Dunia 2026, Mengapa Masih Dipilih?

  • Juli 9, 2026
Akanji

Adu penalti kembali menjadi panggung penuh tekanan di Piala Dunia 2026. Namun, satu pola mencolok mulai terlihat karena para bek tengah justru menjadi kelompok pemain yang paling sering gagal menjalankan tugas dari titik putih.

Momen itu kembali terjadi ketika Swiss menghadapi Kolombia pada babak 16 besar. Dalam kedudukan 2-2, Manuel Akanji maju sebagai eksekutor dengan kesempatan membawa Swiss unggul 3-2.

Bek Inter Milan tersebut mengambil ancang-ancang cukup panjang, menarik napas beberapa kali, lalu melepaskan tendangan yang melambung jauh di atas mistar. Kegagalan itu menambah panjang daftar bek tengah yang tidak mampu mencetak gol dalam adu penalti Piala Dunia 2026.

Akanji bukan satu-satunya pemain bertahan yang gagal. Lucas Herrington dan Harry Souttar dari Australia, Jonathan Tah dari Jerman, Fabián Balbuena dari Paraguay, serta Davinson Sánchez dari Kolombia juga tidak mampu menyelesaikan penalti mereka.

Dari enam bek tengah tersebut, lima di antaranya bahkan tidak memaksa penjaga gawang melakukan penyelamatan. Tendangan mereka membentur mistar atau melambung keluar dari sasaran.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar menjelang fase akhir turnamen. Mengapa tim masih memberikan tanggung jawab penalti kepada bek tengah ketika catatan keberhasilan mereka terlihat lebih buruk dibandingkan pemain di posisi lain?

Catatan Penalti Manuel Akanji Mengkhawatirkan

Keputusan Swiss tetap memasukkan Akanji dalam daftar penendang penalti cukup menarik perhatian. Mantan pemain Manchester City tersebut telah mengambil empat penalti dalam adu penalti turnamen besar, mencakup Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa.

Dari empat kesempatan itu, Akanji hanya mampu mencetak satu gol. Ia sekarang telah gagal dalam tiga eksekusi terakhirnya di pertandingan turnamen besar.

Beruntung bagi Akanji, kegagalannya melawan Kolombia tidak langsung mengakhiri peluang Swiss. Sebelumnya, Davinson Sánchez juga gagal setelah tendangannya membentur bagian bawah mistar dan tidak melewati garis gawang.

Kegagalan Sánchez membuat kesalahan Akanji tidak menjadi penentu kekalahan. Namun, rangkaian kejadian tersebut semakin memperkuat kesan bahwa bek tengah bukan pilihan paling meyakinkan dalam situasi adu penalti.

Sepanjang sejarah sepak bola, memang terdapat beberapa bek yang dikenal sangat baik dalam mengambil penalti. Sergio Ramos dan Fernando Hierro menjadi dua contoh pemain bertahan yang mampu menjalankan tugas tersebut secara konsisten.

Di luar nama-nama spesialis seperti Ramos dan Hierro, kehadiran seorang bek tengah sebagai eksekutor sering menimbulkan kekhawatiran. Tugas utama mereka adalah mencegah gol, bukan secara rutin berlatih mencetak gol dari titik penalti.

Bek Tengah Hanya Cetak Lima dari 11 Penalti

Data pada Piala Dunia 2026 memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam seluruh adu penalti turnamen, bek tengah memiliki tingkat keberhasilan paling rendah dibandingkan pemain dari posisi lainnya.

Para bek tengah hanya mampu mencetak lima gol dari 11 kesempatan. Angka tersebut menghasilkan tingkat konversi sebesar 45,4 persen.

Dengan kata lain, lebih dari separuh penalti yang diambil bek tengah pada turnamen ini berakhir dengan kegagalan. Jumlah tersebut sangat rendah untuk situasi yang dapat langsung menentukan perjalanan sebuah negara di fase gugur.

Kegagalan mereka juga tidak selalu disebabkan oleh kehebatan penjaga gawang. Banyak eksekusi justru gagal karena tidak mengarah ke gawang, membentur mistar, atau melambung terlalu tinggi.

Pola tersebut menunjukkan persoalan yang mungkin berkaitan dengan teknik dan ketenangan. Para pemain bertahan tidak selalu terbiasa melakukan penyelesaian akhir dalam tekanan sebesar adu penalti Piala Dunia.

Namun, apakah catatan buruk itu hanya terjadi pada edisi 2026? Data historis Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa memperlihatkan bahwa masalah tersebut sudah muncul sejak lama.

Bek Jadi Posisi dengan Konversi Terendah

Jika seluruh adu penalti Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa digabungkan, pemain bertahan memiliki tingkat keberhasilan terendah di antara seluruh pemain lapangan.

Para bek mencetak 110 gol dari 160 eksekusi. Tingkat keberhasilan mereka berada di angka 68,8 persen.

Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan gelandang dan penyerang. Seperti yang dapat diperkirakan, para penyerang menjadi kelompok paling sukses dengan keberhasilan mencetak lebih dari tiga perempat penalti mereka.

Data itu memang tidak memisahkan bek tengah dan bek sayap. Meski demikian, kategori tersebut tetap memberikan gambaran bahwa pemain bertahan secara umum lebih sering mengalami kesulitan dalam adu penalti turnamen besar.

Tanggung jawab utama pemain belakang adalah membaca serangan, menjaga posisi, memenangkan duel, dan mencegah lawan mencetak gol. Mereka tidak mendapatkan kesempatan sebanyak penyerang untuk melatih penyelesaian akhir dalam situasi pertandingan.

Hal tersebut mungkin memengaruhi kualitas teknik ketika harus mengambil penalti. Tekanan mental juga menjadi lebih berat ketika pemain yang jarang mencetak gol diminta menentukan nasib timnya.

Rekor Bek di Piala Dunia Lebih Buruk

Ketika statistik Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa dipisahkan, muncul perbedaan menarik. Para bek tampil jauh lebih buruk dalam adu penalti Piala Dunia dibandingkan ketika bermain di turnamen Eropa.

Khusus pada Piala Dunia, pemain bertahan hanya mencatat tingkat konversi sebesar 62 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah di antara seluruh posisi pemain lapangan.

Sementara itu, para penyerang tetap menjadi kelompok paling sukses dengan tingkat konversi mencapai 73,2 persen. Keunggulan itu cukup masuk akal karena mereka lebih terbiasa melakukan penyelesaian akhir dan menghadapi penjaga gawang.

Secara keseluruhan, tingkat keberhasilan penalti pada adu penalti Piala Dunia berada di angka 68,6 persen. Artinya, hampir satu dari tiga tendangan pada turnamen tersebut berakhir dengan kegagalan.

Piala Dunia menghadirkan tekanan yang berbeda dibandingkan kompetisi lain. Pertandingan disaksikan jutaan orang, membawa nama negara, dan sering hanya memberikan satu kesempatan dalam empat tahun.

Tekanan sebesar itu dapat memengaruhi pemain dari posisi mana pun. Namun, pemain yang tidak rutin melakukan penyelesaian akhir kemungkinan menghadapi kesulitan lebih besar ketika maju sebagai eksekutor.

Bek Justru Tajam di Kejuaraan Eropa

Catatan para bek di Kejuaraan Eropa menunjukkan hasil yang sangat berbeda. Tidak hanya lebih baik, mereka bahkan menjadi kelompok pemain lapangan paling sukses dalam adu penalti.

Para bek memiliki tingkat konversi sebesar 77,9 persen di Kejuaraan Eropa. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan para penyerang yang mencatat keberhasilan 77,8 persen.

Perbedaannya memang sangat tipis, tetapi tetap mengejutkan. Data tersebut menunjukkan bahwa pemain bertahan sebenarnya mampu menjadi eksekutor penalti yang baik dalam kondisi tertentu.

Tingkat keberhasilan seluruh pemain di Kejuaraan Eropa juga lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia. Rata-rata konversinya mencapai 77 persen, jauh di atas angka 68,6 persen pada Piala Dunia.

Artinya, peningkatan tersebut tidak hanya terjadi pada pemain bertahan. Penyerang, gelandang, dan posisi lainnya juga tampil lebih efektif ketika menjalani adu penalti di Kejuaraan Eropa.

Ada sejumlah kemungkinan yang dapat menjelaskan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah tekanan Piala Dunia yang dianggap lebih besar karena statusnya sebagai turnamen sepak bola paling bergengsi.

Kejuaraan Eropa juga secara tradisional memiliki jumlah peserta yang lebih sedikit dibandingkan Piala Dunia. Kualitas pemain dan penendang penalti mungkin menjadi lebih terkonsentrasi karena tim-tim peserta berasal dari kawasan dengan kompetisi domestik yang kuat.

Sebaliknya, Piala Dunia menghadirkan kelompok tim yang lebih luas. Variasi kualitas, pengalaman, dan kebiasaan pemain dalam mengambil penalti kemungkinan ikut memengaruhi tingkat konversi secara keseluruhan.

Teori tersebut belum menjadi jawaban mutlak. Namun, data memperlihatkan satu hal yang jelas, yakni pemain bertahan mengalami lebih banyak kesulitan dalam adu penalti Piala Dunia.

Apakah Tim Harus Mengubah Daftar Eksekutor?

Kegagalan Akanji, Sánchez, dan sejumlah bek tengah lainnya dapat membuat tim-tim perempat final mengevaluasi daftar penendang mereka. Pemain dengan karakter lebih menyerang mungkin seharusnya mendapatkan prioritas.

Dalam adu penalti, pelatih tidak hanya membutuhkan pemain dengan teknik menendang terbaik. Mereka juga harus mempertimbangkan kondisi mental, tingkat kepercayaan diri, pengalaman, dan catatan eksekusi sebelumnya.

Seorang bek tetap dapat menjadi eksekutor apabila memiliki rekam jejak bagus. Namun, memberikan tanggung jawab kepada pemain yang telah berulang kali gagal jelas mengandung risiko besar.

Kasus Akanji menjadi contoh penting. Dengan hanya satu gol dari empat penalti turnamen besar dan kegagalan pada tiga kesempatan terakhir, posisinya sebagai eksekutor layak dipertimbangkan kembali.

Tim juga perlu memperhatikan bagaimana sebuah kegagalan terjadi. Tendangan yang berhasil diselamatkan kiper berbeda dengan eksekusi yang tidak mengarah ke gawang karena masalah teknik atau tekanan.

Kegagalan beruntun para bek tengah pada Piala Dunia 2026 dapat menjadi peringatan. Dalam pertandingan fase gugur yang sangat ketat, satu penalti buruk cukup untuk mengakhiri perjalanan sebuah tim.

Penjaga Gawang Justru Punya Rekor Sempurna

Apabila tim mulai meragukan kemampuan pemain bertahan, terdapat pilihan lain yang cukup menarik. Mereka dapat mempertimbangkan memberikan kesempatan kepada penjaga gawang.

Sepanjang sejarah Piala Dunia putra dan Kejuaraan Eropa, hanya satu penjaga gawang yang pernah mengambil penalti dalam adu penalti. Menariknya, ia berhasil mencetak gol.

Momen tersebut terjadi pada perempat final Euro 2004 antara Portugal dan Inggris. Penjaga gawang Portugal, Ricardo, menjadi tokoh utama dalam salah satu adu penalti paling terkenal sepanjang sejarah.

Ricardo melepas sarung tangannya sebelum menghadapi tendangan Darius Vassell. Ia berhasil melakukan penyelamatan, kemudian maju sebagai penendang berikutnya dan mencetak gol kemenangan Portugal.

Dengan catatan tersebut, penjaga gawang secara teknis memiliki tingkat konversi penalti sempurna sebesar 100 persen dalam sejarah adu penalti Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa.

Tentu saja, jumlah sampelnya hanya satu tendangan sehingga tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan besar. Namun, statistik itu tetap menarik ketika dibandingkan dengan catatan bek tengah di Piala Dunia 2026.

Kolombia mungkin sempat berharap penjaga gawang Camilo Vargas mendapat kesempatan mengambil penalti. Bagaimanapun, rekannya di lini belakang justru gagal ketika Sánchez menghantam bagian bawah mistar.

Pada akhirnya, posisi seorang pemain tidak otomatis menentukan kualitas penaltinya. Namun, ketika bek tengah hanya mampu mencetak lima dari 11 kesempatan di Piala Dunia 2026, para pelatih memiliki alasan kuat untuk mempertimbangkan pilihan lain.

Top Skor Timnas Indonesia di Piala AFF.

3 Striker Timnas Indonesia yang Paling Banyak Cetak Gol di Piala AFF

23 Jul 2026
Thailand di Piala AFF.

Daftar Pemain Thailand yang Sering Bobol Gawang Indonesia di Piala AFF

23 Jul 2026
Roulette Game

Roulette

22 Jul 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.