Luka Modric kembali menjadi sorotan besar ketika Kroasia bersiap menghadapi Portugal di Toronto Stadium pada Kamis, 2 Juli 2026. Duel ini bukan hanya mempertemukan dua kekuatan Eropa, tetapi juga dua maestro veteran yang masih menolak kalah oleh usia.
Di satu sisi ada Cristiano Ronaldo yang tetap menjadi ikon Portugal, sementara di sisi lain Luka Modric masih memegang kendali permainan Kroasia. Pada usia 40 tahun, kapten Vatreni itu terus membuktikan bahwa kecerdasan, disiplin, dan kebugaran bisa memperpanjang karier.
Bintang AC Milan ini datang ke laga ini setelah mencatat sejarah baru di Piala Dunia 2026. Ia menjadi pemain tertua dalam sejarah Piala Dunia yang memberikan assist, tepat pada usia 40 tahun dan 291 hari.
Momen itu terjadi ketika Kroasia menghadapi Ghana pada laga terakhir Grup L. Saat skor masih imbang 1-1 pada menit ke-83, Luka Modric mengirim sepak pojok melengkung yang ditanduk Nikola Vlasic menjadi gol kemenangan.
Gol Vlasic memastikan Kroasia meraih kemenangan 2-1 atas Ghana dan melaju ke fase gugur. Assist itu juga memperlihatkan bahwa kaki kanan mantan bintang Real Madrid ini masih mampu menentukan nasib pertandingan besar di panggung tertinggi.
Kroasia sebelumnya melewati fase grup dengan tekanan besar setelah sempat kalah 2-4 dari Inggris. Mereka kemudian bangkit lewat kemenangan tipis atas Panama sebelum menutup grup dengan kemenangan penting melawan Ghana.
Zlatko Dalic memuji respons timnya dan kembali menegaskan betapa pentingnya sosok gelandang flamboyan ini di ruang ganti. Pelatih Kroasia itu melihat sang kapten masih punya energi, kepemimpinan, dan kualitas untuk memengaruhi arah pertandingan.
Secara fisik, Luka Modric tidak pernah dikenal sebagai pemain dengan tubuh besar atau penuh otot. Bobotnya sekitar 66 kilogram, tetapi tubuh ringan itu justru menjadi salah satu senjata terbesar dalam gaya bermainnya.
Postur ramping membuat pemain yang saat ini dibanderol 6,4 juta euro lebih lincah ketika mengubah arah, menjaga keseimbangan, dan menghindari tekanan lawan. Pusat gravitasinya yang rendah membantu ia melindungi bola dari pemain lebih kuat di ruang sempit.
Ketika menerima bola dengan punggung menghadap gawang lawan, Luka Modric jarang panik meski mendapat tekanan. Ia mampu menahan benturan, memutar badan, lalu mengalirkan bola ke area yang lebih aman atau lebih berbahaya.
Kelebihan itu tidak muncul begitu saja, karena Luka Modric membangun tubuhnya dengan persiapan yang sangat teliti. Sejak 2012, ia bekerja dengan Vlatko Vucetic, akademisi kinesiologi dari University of Zagreb yang menjadi pelatih pribadinya.
Vucetic pernah menjelaskan bahwa mereka menetapkan tiga tujuan utama untuk menjaga karier Luka Modric. Tujuan itu adalah mempertahankan level kebugaran, mencegah cedera, dan memperpanjang masa bermain di level tertinggi.
Awalnya Luka Modric disebut ingin bermain hingga usia 36 tahun, sebuah target yang sudah terdengar ambisius untuk gelandang modern. Namun, ia kini sudah berusia 40 tahun dan tetap menjadi pemain penting bagi klub serta negaranya.
Salah satu rahasia besarnya adalah rutinitas latihan tambahan selama 45 menit sebelum sesi utama. Luka Modric menjalankan program itu hampir setiap hari, bahkan disebut mencapai sekitar 350 hari dalam setahun.
Program tersebut berisi latihan resistance band, penguatan lengan dan bahu, serta latihan inti tubuh dan kaki. Bagi pemain di atas usia 30 tahun, pola seperti ini penting karena massa otot alami mulai menurun.
Vucetic menilai kedisiplinan Luka Modric membuat usia metaboliknya berada di bawah angka usia sebenarnya. Faktor itu tidak berdiri sendiri, karena ia juga menjaga istirahat, pencegahan cedera, dan variasi beban latihan.
Namun, kebugaran Luka Modric bukan satu-satunya alasan ia mampu bertahan selama ini. Kecerdasan motorik, kemampuan membaca permainan, dan keputusan cepat justru membuat ia tidak perlu terlalu sering membuang energi.
Sebelum bola sampai ke kakinya, Luka Modric biasanya sudah memindai ruang, membaca posisi lawan, dan menyiapkan opsi umpan. Karena itu, ia jarang terlambat datang ke area krusial dan tidak perlu berlari tanpa tujuan.
Pemahaman permainan tersebut membuat Luka Modric tetap efektif meski kecepatannya tidak lagi seperti masa muda. Ia mungkin tidak sesering dulu melakukan sprint panjang, tetapi masih sangat mampu mengatur tempo dan membuka jalur serangan.
Saat pemain lain mulai kehilangan ketenangan karena lelah, Luka Modric tetap punya teknik yang bersih. Sentuhan pertama, akurasi umpan, dan kemampuan mempertahankan bola membuat Kroasia selalu memiliki poros permainan yang aman.
Kiprah panjang Luka Modric juga terlihat dari jumlah pertandingan kompetitifnya yang sudah melewati 1.150 laga. Angka itu mencakup karier klub dan tim nasional selama lebih dari dua dekade di level profesional.
Perjalanan itu dimulai dari tanah Balkan bersama Zrinjski Mostar, Inter Zapresic, dan Dinamo Zagreb. Di Dinamo, Luka Modric tampil 128 kali sebelum akhirnya pindah ke Tottenham Hotspur dan mulai dikenal publik Premier League.
Bersama Tottenham, ia mencatat 160 penampilan dan berkembang menjadi gelandang kreatif yang sangat dihormati. Penampilan impresif di London Utara kemudian membuka jalan menuju Real Madrid pada 2012.
Di Real Madrid, Luka Modric membangun salah satu era terbaik dalam sejarah klub. Ia mencatat 597 pertandingan dan meraih 28 trofi, termasuk enam gelar Liga Champions bersama Los Blancos.
Pencapaian itu membuat Luka Modric dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik generasinya. Ia juga menjadi pemain yang mematahkan dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo ketika memenangi Ballon d’Or 2018.
Setelah meninggalkan Real Madrid pada Juni 2025, Luka Modric melanjutkan perjalanan bersama AC Milan. Pada musim pertamanya bersama Rossoneri, ia mencatat 37 penampilan dan tetap menunjukkan kelas di kompetisi besar Eropa.
Di level internasional, Luka Modric menjalani debut untuk Kroasia pada Maret 2006. Dua dekade kemudian, ia sudah mengoleksi lebih dari 200 caps dan tampil di edisi kelima Piala Dunia dalam kariernya.
Catatan cedera Luka Modric juga menjadi bagian penting dari kisah panjangnya. Sepanjang karier profesional yang mendekati 7.000 hari, ia hanya absen sekitar 250 hari karena masalah fisik.
Ia memang pernah mengalami cedera paha pada 2014 yang menyita banyak waktu pemulihan. Namun, sebagian besar gangguan fisiknya hanya berupa cedera kecil dan tidak menghentikan konsistensinya terlalu lama.
Dalam beberapa tahun terakhir, Luka Modric bahkan relatif jarang mengalami masalah serius. Salah satu gangguan terbaru adalah patah tulang pipi pada April, tetapi ia kembali bermain dengan masker pelindung sebelum musim Serie A berakhir.
Kini tubuh kecil namun tangguh itu akan kembali diuji oleh Portugal, tim dengan tekanan tinggi dan kualitas individu besar. Kroasia membutuhkan Luka Modric untuk menguasai lini tengah, menjaga ritme, dan memilih waktu terbaik menaikkan tempo.
Pertarungan melawan Portugal juga akan menjadi duel emosional antara generasi emas yang belum selesai menulis cerita. Bernardo Silva bahkan memuji Luka Modric sebagai idola sepak bola sebelum kedua tim bertemu di fase gugur.
Bagi Kroasia, kehadiran Luka Modric lebih dari sekadar nama besar di daftar pemain. Ia adalah kompas permainan, pemimpin mental, dan pengingat bahwa pengalaman bisa menjadi senjata ketika tekanan turnamen semakin berat.
Rahasia panjang umur karier Luka Modric akhirnya bukan hanya soal genetik atau tubuh ringan. Disiplin latihan, pencegahan cedera, kecerdasan membaca permainan, dan kemampuan beradaptasi membuatnya tetap relevan di usia 40 tahun.
Ketika Kroasia mengejar tiket ke babak 16 besar, semua mata kembali tertuju kepada nomor 10 mereka. Selama Luka Modric masih mampu mengendalikan bola, Kroasia tetap punya alasan untuk percaya pada keajaiban berikutnya.



