Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Kebangkitan Como 1907, dari Serie D hingga Liga Champions: Uang Indonesia, Kejeniusan Fabregas, dan Kritik di Italia

Kebangkitan Como 1907, dari Serie D hingga Liga Champions: Uang Indonesia, Kejeniusan Fabregas, dan Kritik di Italia

  • Oktober 21, 2026

Kebangkitan Como 1907 menjadi salah satu kisah paling mengejutkan dalam sepak bola Eropa setelah klub milik pengusaha Indonesia itu berhasil melangkah dari kasta keempat Italia menuju panggung Liga Champions hanya dalam tujuh tahun.

Perjalanan tersebut mencapai titik bersejarah ketika Como bersiap menjamu Manchester United pada pertandingan ketiga fase liga UEFA Champions League 2026/2027, Rabu (21/10/2026), di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang berada di tepi Danau Como.

Namun, keberhasilan tim ini tidak sepenuhnya disambut pujian karena besarnya investasi pemilik klub, dominasi pemain asing, serta perubahan identitas tim memunculkan perdebatan mengenai arah perkembangan sepak bola Italia.

Berdasarkan analisis Opta Analyst, transformasi Como memperlihatkan bagaimana kekuatan finansial, manajemen profesional, dan pendekatan taktik modern mampu mengubah nasib sebuah klub dalam waktu relatif singkat.

Stadion Giuseppe Sinigaglia dahulu hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan Serie D, kompetisi kasta keempat Italia yang jauh dari kemewahan sepak bola elite Eropa dan perhatian jutaan penggemar internasional.

Kini, stadion berkapasitas 13.602 penonton tersebut menjadi panggung Liga Champions, mempertemukan Como dengan Manchester United yang sebelumnya lebih akrab menghadapi klub Italia di San Siro, Olimpico, Delle Alpi, dan Artemio Franchi.

Keunikan stadion yang berdiri dekat Danau Como dengan latar Pegunungan Alpen menghadirkan daya tarik tersendiri, meskipun kapasitas dan fasilitasnya masih tergolong sederhana dibandingkan markas klub-klub besar Eropa.

Pengelola Como melakukan renovasi stadion menjelang musim 2026/2027, termasuk mempercepat sejumlah pekerjaan pada musim panas agar Giuseppe Sinigaglia memenuhi persyaratan UEFA untuk menggelar pertandingan kompetisi antarklub Eropa.

Perubahan tersebut mencerminkan kebangkitan Como 1907 yang berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan infrastrukturnya, sebuah kondisi yang sekaligus memperlihatkan tantangan besar dalam menyelaraskan ambisi olahraga dengan kesiapan fasilitas.

Kemajuan Como juga terlihat dalam pemeringkatan kekuatan klub dunia yang disusun Opta, ketika posisinya melonjak dari luar 3.500 besar pada 2019 menjadi peringkat ke-29 pada 21 Oktober 2026.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi tim ini bukan sekadar keberhasilan menembus kompetisi elite, melainkan perkembangan kualitas tim yang mulai diperhitungkan berdasarkan performa dan kekuatan relatif di tingkat internasional.

Perjalanan ini semakin menarik karena Como sebelumnya mengalami masalah keuangan berkepanjangan, termasuk sejumlah kebangkrutan dan degradasi administratif yang membuat masa depan klub sempat berada dalam ketidakpastian.

Kebangkitan Como 1907 akhirnya memperoleh momentum setelah kepemilikan klub berpindah kepada investor Indonesia pada 2019, membuka jalan bagi perubahan pengelolaan yang lebih terstruktur dan ambisi untuk kembali bersaing di Serie A.

Peran Pengusaha Indonesia

Perubahan terbesar dalam sejarah modern Como dimulai pada 2019 ketika kelompok usaha yang berafiliasi dengan Djarum Group mengambil alih klub dan menghadirkan dukungan finansial yang jauh lebih kuat.

Keterlibatan kelompok bisnis Indonesia yang terkait keluarga Hartono membuat Como memiliki pemilik dengan kemampuan modal luar biasa, sehingga rencana pembangunan klub dapat dijalankan melalui investasi jangka panjang.

Kehadiran pemilik baru tersebut langsung mengubah prospek tim ini yang sebelumnya lebih banyak berkutat dengan persoalan kelangsungan operasional, keterbatasan anggaran, dan ketidakpastian mengenai kemampuan bersaing di kompetisi profesional.

Meski demikian, kekayaan pemilik tidak otomatis membuat Como menghabiskan uang dalam jumlah besar sejak awal karena manajemen tetap harus menyusun struktur organisasi, memperbaiki perekrutan pemain, dan membangun fondasi olahraga.

Salah satu figur yang berperan dalam tahap awal transformasi adalah Dennis Wise, mantan kapten Chelsea yang bergabung sebagai konsultan sebelum mendapat tanggung jawab lebih besar sebagai kepala eksekutif dan presiden.

Dalam wawancara dengan The Guardian, Wise menjelaskan bahwa dirinya mendapat kewenangan luas untuk membangun kembali organisasi klub, termasuk menentukan personel yang dibutuhkan dalam setiap bagian operasional.

Wise juga mengungkapkan bahwa kemampuan belanja pemain pada periode awal masih terbatas, sehingga manajemen harus mengandalkan kesepakatan transfer yang efisien dan memanfaatkan banyak pemain berstatus pinjaman.

“Kami pernah memiliki 14 pemain pinjaman sekaligus,” ungkap Wise ketika menjelaskan bagaimana Como harus mengatur keluar masuk pemain sebelum kekuatan finansial klub berkembang dan membuka peluang investasi lebih besar.

Strategi tersebut membantu Como melanjutkan perkembangan setelah promosi dari Serie D menuju Serie C pada 2019, sebelum menjalani dua musim di kasta ketiga dan kemudian kembali ke Serie B pada 2021.

Promosi menuju Serie B memiliki arti penting karena pendahulu badan hukum klub pernah dilikuidasi pada 2005, sementara kesempatan tampil pada tingkat tersebut sebelumnya sangat terbatas setelah berbagai krisis.

Kebangkitan Como 1907 memasuki fase baru ketika manajemen mulai memanfaatkan jaringan sepak bola internasional untuk mendatangkan figur terkenal, bukan hanya sebagai pemain tetapi juga bagian dari proyek pengembangan klub.

Pada 2022, Cesc Fàbregas bergabung setelah menjalani karier bersama Arsenal, Barcelona, Chelsea, dan tim nasional Spanyol, sekaligus mengambil kepemilikan saham minoritas yang memperkuat keterlibatannya dalam proyek Como.

Tidak lama kemudian, mantan penyerang Arsenal dan tim nasional Prancis, Thierry Henry, turut berinvestasi sehingga Como semakin mendapat perhatian internasional berkat keterlibatan dua mantan pemain kelas dunia.

Kehadiran nama besar tersebut memberikan nilai tambah bagi reputasi klub, tetapi keberhasilan sesungguhnya tetap bergantung pada kemampuan manajemen menerjemahkan investasi menjadi kualitas permainan dan hasil pertandingan.

Cesc Fabregas Mengubah Identitas Permainan Modern

Peran Cesc Fàbregas menjadi salah satu faktor penting dalam kebangkitan Como 1907 karena mantan gelandang Spanyol tersebut berhasil membawa pendekatan permainan modern ke klub yang sebelumnya berada di luar persaingan elite.

Setelah pensiun pada akhir musim 2022/2023, Fàbregas memulai perjalanan kepelatihan bersama tim muda dan cadangan sebelum mendapat kesempatan menangani skuad utama sebagai pelatih sementara pada tahun yang sama.

Langkah tersebut sempat menghadapi hambatan administratif karena Fàbregas belum mempunyai lisensi UEFA Pro, sehingga izin khusus yang memungkinkan dirinya menjadi pelatih kepala hanya berlaku selama satu bulan.

Setelah masa pengecualian berakhir, ia secara resmi menjadi asisten Osian Roberts meskipun tetap memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan teknis dan penerapan filosofi permainan tim utama.

Barulah pada musim panas 2024 Fàbregas ditetapkan sebagai pelatih kepala setelah diterima mengikuti program lisensi UEFA Pro melalui Federasi Sepak Bola Italia, mengakhiri persoalan administratif yang sebelumnya membatasi jabatannya.

Sebelum pengangkatannya secara permanen, Fàbregas bersama Roberts berhasil mengantarkan Como finis sebagai runner-up Serie B musim 2023/2024 dan memastikan promosi ke Serie A setelah absen selama 21 tahun.

Keputusan mempercayakan proyek olahraga kepada pelatih muda yang belum memiliki pengalaman panjang akhirnya terbukti memberikan hasil, terutama karena manajemen bersedia mendukung pendekatan taktik dan strategi perekrutannya.

Pada musim pertama setelah kembali ke Serie A, Como mampu menempati peringkat ke-10 sehingga terhindar dari ancaman degradasi dan memiliki dasar yang kuat untuk meningkatkan target kompetitif pada musim berikutnya.

Kebangkitan Como 1907 kemudian mencapai pencapaian lebih tinggi pada musim 2025/2026 ketika mereka finis di posisi keempat Serie A, unggul satu poin atas AC Milan dalam perebutan tiket Liga Champions.

Prestasi tersebut semakin mengesankan karena Como bukan hanya mengandalkan hasil pertandingan tertentu, melainkan memperlihatkan konsistensi organisasi permainan yang mampu bersaing dengan klub-klub berpengalaman di kompetisi domestik.

Sepanjang Serie A 2025/2026, Como memiliki pertahanan terbaik dengan hanya kebobolan 29 gol, sementara produktivitas 65 gol mereka hanya kalah dari Inter Milan yang mencetak 89 gol.

Statistik tersebut memperlihatkan keseimbangan antara kemampuan menyerang dan disiplin bertahan, dua aspek yang menjadi fondasi keberhasilan Fàbregas membangun tim dengan identitas permainan yang jelas.

Dalam penguasaan bola, Como mencatat rata-rata 61,6 persen sepanjang musim, angka tertinggi di Serie A yang menunjukkan keberanian mereka mengontrol jalannya pertandingan menghadapi berbagai karakter lawan.

Intensitas tekanan juga menjadi keunggulan utama karena Como membukukan rata-rata 9,1 operan lawan untuk setiap aksi bertahan, indikator yang menggambarkan agresivitas mereka dalam merebut kembali penguasaan bola.

Pendekatan tersebut menghasilkan 10 gol melalui situasi perebutan bola di area tinggi, membuat Como termasuk delapan tim dari lima liga besar Eropa yang mencapai dua digit dalam kategori tersebut.

Sebagai perbandingan, Paris Saint-Germain menghasilkan 15 gol melalui mekanisme serupa, Bayern Munich mencatat 12 gol, Real Madrid 11 gol, sedangkan Liverpool dan Barcelona masing-masing membukukan 10 gol.

Data tersebut memperlihatkan bahwa gaya bermain Como memiliki kesamaan prinsip dengan klub elite Eropa, terutama dalam memadukan penguasaan bola, tekanan agresif, dan kemampuan memanfaatkan kesalahan lawan.

Nico Paz dan Investasi Transfer yang Membawa ke Liga Champions

Di balik keberhasilan taktik Fàbregas, Como juga melakukan investasi besar untuk meningkatkan kualitas skuad, termasuk mendatangkan pemain muda berbakat yang dinilai mempunyai potensi berkembang menjadi bintang internasional.

Menurut laporan Opta Analyst, pengeluaran transfer Como pada musim panas 2024 melampaui 160 juta euro apabila memasukkan nilai sekitar 60 juta euro yang dilaporkan akhirnya dibayarkan untuk Nico Paz.

Jumlah tersebut sangat besar dibandingkan dua klub promosi lainnya, Parma dan Venezia, yang secara gabungan hanya mengeluarkan sekitar 78 juta euro untuk memperkuat skuad pada periode serupa.

Perbandingan ini memperlihatkan bahwa kebangkitan Como 1907 tidak dapat dipisahkan dari kemampuan finansial pemilik, meskipun besarnya pengeluaran tetap harus diimbangi keberhasilan memilih pemain dan membangun sistem permainan.

Investasi lanjutan pada 2025 semakin memperkecil jarak kualitas dengan klub papan atas Serie A dan membantu Como mengubah status dari tim promosi menjadi pesaing serius dalam perebutan posisi empat besar.

Sosok Nico Paz menjadi simbol perkembangan tersebut karena gelandang asal Argentina itu mampu menghadirkan kreativitas, keberanian membawa bola, serta kontribusi langsung dalam serangan tanpa mengabaikan tanggung jawab bertahan.

Pada Serie A 2025/2026, Nico Paz mencatat 136 percobaan dribel dan hanya kalah dari Kenan Yildiz yang menghasilkan 158 percobaan, menunjukkan besarnya peran pemain Argentina tersebut dalam membongkar pertahanan.

Paz juga menempati peringkat ketiga dalam perebutan kembali bola di sepertiga akhir lapangan dengan 26 kali, sebuah statistik yang menegaskan bahwa kontribusinya tidak terbatas pada kreativitas menyerang.

Dalam kontribusi gol, Paz menghasilkan 18 keterlibatan langsung sepanjang musim, unggul setidaknya empat dari gelandang lain di Serie A dan mempertegas pengaruhnya terhadap produktivitas tim.

Kebangkitan Como 1907 melalui pemain seperti Paz mencerminkan keberhasilan menggabungkan investasi transfer dengan kebutuhan taktik, ketika kemampuan individu diarahkan untuk memperkuat efektivitas permainan secara kolektif.

Dominasi Pemain Asing dan Kritik Proyek Wisata

Meskipun mencatat kemajuan pesat, kebangkitan Como 1907 juga mengundang kritik karena sebagian pengamat menilai kesuksesan mereka terlalu bergantung pada dukungan finansial pemilik yang sangat kaya.

Perdebatan tersebut semakin berkembang karena lokasi klub berada di salah satu destinasi wisata paling terkenal di Italia, sehingga muncul anggapan bahwa Como dikembangkan sebagai proyek bisnis dan pariwisata.

Kritik tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa keberhasilan olahraga hanyalah tujuan sampingan, tetapi memperlihatkan bagaimana pertumbuhan klub yang didukung investor asing dapat memunculkan pertanyaan mengenai identitas lokal.

Persoalan lain yang lebih konkret adalah minimnya kesempatan bermain bagi pesepak bola Italia, terutama ketika Como mengandalkan pemain asing untuk membangun kekuatan utama dalam persaingan Serie A.

Sepanjang musim 2025/2026, pemain berkebangsaan Italia hanya mendapatkan total 14 menit bermain bersama Como, seluruhnya dicatatkan Edoardo Goldaniga dalam kompetisi liga domestik.

Angka tersebut tertinggal 5.485 menit dibandingkan Udinese yang menjadi klub dengan catatan terendah berikutnya, sehingga Como berada pada posisi paling bawah dalam penggunaan pemain lokal.

Pada awal musim 2026/2027, situasinya mulai berubah ketika pesepak bola Italia telah mengumpulkan 313 menit bermain bersama Como hingga data yang dipublikasikan pada 21 Oktober 2026.

Catatan tersebut sudah melampaui Udinese dengan 261 menit serta Venezia dengan 39 menit, meskipun tetap menunjukkan bahwa pemain lokal belum menjadi komponen dominan dalam proyek olahraga Como.

Dalam dua pertandingan pertama Liga Champions musim 2026/2027, Como bahkan tidak menurunkan satu pun pemain Italia dalam susunan sebelas utama, memperlihatkan betapa internasionalnya komposisi skuad mereka.

Menurut Opta, Como menjadi klub kedua yang melakukan hal tersebut dalam dua pertandingan pertama sepanjang sejarah partisipasinya di kompetisi, setelah Sheriff Tiraspol pada musim 2021/2022.

Perdebatan mengenai pemain lokal menghadirkan dilema bagi Como karena manajemen membutuhkan kualitas internasional untuk bersaing di papan atas, tetapi klub juga menghadapi tuntutan mempertahankan hubungan dengan sepak bola Italia.

Di sisi lain, keberhasilan Como membuktikan bahwa investasi yang dikelola dengan sistem perekrutan dan kepelatihan tepat dapat mempercepat perkembangan klub tanpa harus menunggu puluhan tahun.

Namun, keberlanjutan proyek tersebut akan semakin diuji ketika klub harus menyeimbangkan anggaran transfer, kebutuhan pengembangan pemain muda, pembangunan stadion, dan tuntutan mempertahankan prestasi di level tertinggi.

Pertandingan menghadapi Manchester United menjadi simbol penting kebangkitan Como 1907 karena mempertemukan klub yang baru beberapa tahun meninggalkan kasta keempat dengan salah satu institusi terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Laga yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 23.45 WIB tersebut juga menjadi pertemuan kompetitif pertama antara Como dan Manchester United di panggung Liga Champions.

Como memasuki pertandingan setelah meraih kemenangan 4-1 atas RB Leipzig pada laga pembuka kompetisi, sebelum mengalami kekalahan 2-3 ketika bertandang ke markas Feyenoord pada pertandingan berikutnya.

Di kompetisi domestik, Como juga memperoleh modal kemenangan 3-1 atas Fiorentina, dengan Mattia Liberali turut mencetak gol dan memperlihatkan adanya peluang bagi pemain muda Italia untuk berkontribusi.

Sementara itu, Manchester United datang dengan tekanan setelah kalah 0-2 dari Atlético Madrid di Liga Champions dan menghadapi masalah konsistensi hasil pertandingan pada awal musim 2026/2027.

Statistik Opta memperlihatkan bahwa Manchester United hanya memenangkan satu dari 10 pertandingan tandang terakhirnya di Liga Champions, disertai tiga hasil imbang dan enam kekalahan.

Tim asal Inggris tersebut juga hanya membukukan satu pertandingan tanpa kebobolan dalam 15 lawatan terakhir di kompetisi, sebuah kelemahan yang dapat dimanfaatkan Como melalui pendekatan menyerang.

Berdasarkan simulasi superkomputer Opta sebelum pertandingan, Como mempunyai peluang kemenangan 41,7 persen, sedangkan Manchester United memperoleh probabilitas 33,8 persen dan hasil imbang berada pada angka 24,5 persen.

Angka tersebut bukan jaminan hasil pertandingan, tetapi menunjukkan bagaimana kekuatan Como kini dinilai cukup kompetitif untuk menghadapi Manchester United meskipun kedua klub mempunyai sejarah dan reputasi berbeda.

Bagi Fàbregas, pertemuan ini juga menghadirkan cerita tersendiri karena dirinya pernah menghadapi Michael Carrick ketika Arsenal tersingkir dari Manchester United pada semifinal Liga Champions musim 2008/2009.

Ketika itu, Manchester United memenangkan duel dua leg dengan agregat 4-1, sedangkan kini kedua mantan gelandang tersebut kembali bertemu dalam kapasitas sebagai pelatih yang memimpin proyek berbeda.

Lebih jauh, laga tersebut menjadi kesempatan Como untuk mengikuti pencapaian Lazio pada musim 1999/2000 sebagai klub Italia yang berhasil memenangkan dua pertandingan kandang pertama dalam sejarah penampilannya di Liga Champions.

Bagi pendukung setia yang pernah menyaksikan Como terpuruk di Serie D, kedatangan Manchester United menjadi pengalaman emosional karena klub kesayangan mereka akhirnya mampu bersaing menghadapi nama besar Eropa.

Kebangkitan Como 1907 pada akhirnya tidak dapat dijelaskan hanya melalui kekayaan investor Indonesia, sebab kesuksesan itu juga melibatkan keberanian mengambil keputusan, kualitas kepelatihan, dan perencanaan olahraga.

Meski kontroversi mengenai modal besar dan dominasi pemain asing belum sepenuhnya mereda, perjalanan Como menunjukkan bahwa perubahan nasib sebuah klub dapat berlangsung cepat ketika sumber daya dikelola secara konsisten.

Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan tempat di Liga Champions, melainkan memastikan pencapaian tersebut menjadi fondasi jangka panjang sehingga Como tidak bergantung pada satu generasi pemain maupun satu pelatih.

Jika mampu menjaga keseimbangan antara prestasi, investasi, pembinaan pemain, dan identitas lokal, Como berpeluang membuktikan bahwa kebangkitannya bukan sekadar fenomena sesaat dalam sepak bola modern Italia.

Gil Vicente vs Porto

Preview Gil Vicente vs Porto: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
Freiburg vs Bayern Munchen

Preview Freiburg vs Bayern Munchen: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
Dortmund vs Frankfurt

Preview Dortmund vs Frankfurt: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

23 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.