Kritik terbuka Lisandro Martinez terhadap manajemen Manchester United menjadi persoalan serius yang mengungkap ketegangan internal klub, terutama setelah kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid pada pertandingan Liga Champions pekan ini.
Bek asal Argentina tersebut mempertanyakan kebijakan transfer dan kualitas skuad yang tersedia bagi Michael Carrick, sementara sejumlah laporan menyebut keresahannya juga dirasakan pemain lain di ruang ganti Manchester United.
Polemik semakin menarik karena Lisandro Martinez akhirnya meminta maaf dan menerima hukuman denda, tetapi persoalan yang disampaikannya belum sepenuhnya terjawab, mulai dari kegagalan memperkuat pertahanan hingga tekanan finansial klub.
Kekalahan Manchester United dari Atletico Madrid pada Selasa, 13 Oktober 2026, ternyata memunculkan persoalan lebih besar daripada sekadar hasil buruk di lapangan, setelah Martinez secara terbuka mempertanyakan arah kebijakan klub.
Dalam analisis The Guardian, Jamie Jackson mengungkap bahwa kritik sang bek tidak berdiri sendiri karena sebagian pemain juga mempertanyakan strategi perekrutan yang dijalankan manajemen.
Martinez menilai kualitas skuad Manchester United belum cukup kuat untuk bersaing secara konsisten dengan klub-klub papan atas, meskipun tim telah kembali berpartisipasi dalam kompetisi elite Eropa pada musim 2026/2027.
Pemain berusia 28 tahun itu secara khusus menyoroti direktur sepak bola Jason Wilcox, sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap keputusan teknis dan transfer sejak perubahan struktur manajemen Manchester United.
“Kami tidak memiliki skuad terbaik saat ini dibandingkan tim-tim papan atas lainnya. Saya berharap ada investasi lebih besar, 100 persen, dan saya mengharapkan lebih banyak dari direktur teknik kami,” ujar Martinez.
Pernyataan tersebut memperlihatkan kekecewaan seorang pemain senior terhadap kebijakan klub, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana manajemen telah memberikan dukungan kepada Carrick untuk menghadapi persaingan musim ini.
Martinez bahkan mengaitkan buruknya penampilan tim di Madrid dengan kondisi Manchester United secara keseluruhan, sebuah kritik yang secara tidak langsung turut menyasar struktur kepemilikan dan jajaran eksekutif klub.
Kritik tersebut menjadi sensitif karena tidak hanya mempertanyakan kemampuan rekan setim, tetapi juga menyentuh keputusan orang-orang yang menentukan strategi sepak bola, anggaran belanja pemain, dan perencanaan jangka panjang.
Situasi semakin rumit setelah muncul laporan bahwa sejumlah pemain memahami keresahan Martinez, terutama mengenai ketidakseimbangan komposisi skuad yang dinilai belum diselesaikan melalui aktivitas transfer musim panas lalu.
Transfer Manchester United Jadi Akar Kekecewaan Lisandro Martinez
Manchester United menghabiskan sekitar 155 juta poundsterling pada bursa transfer musim panas 2026, tetapi alokasi dana tersebut justru memunculkan pertanyaan karena klub memilih memusatkan perekrutan pada sektor gelandang.
Tiga pemain yang menjadi prioritas adalah Andrey Santos, Youri Tielemans, dan Carlos Baleba, sementara kebutuhan memperkuat lini pertahanan tidak mendapatkan perhatian serupa meskipun telah menjadi persoalan selama beberapa musim.
Keputusan tersebut menimbulkan kebingungan di ruang ganti karena Manchester United masih bergantung kepada sejumlah pemain belakang yang telah lama menjadi bagian dari tim, tanpa pembaruan komposisi secara menyeluruh.
Diogo Dalot, Lisandro Martinez, Harry Maguire, dan Luke Shaw merupakan bagian dari pertahanan Manchester United sejak 2022, sehingga persoalan regenerasi, kebugaran, dan kedalaman skuad semakin sulit diabaikan.
Kondisi tersebut menjadi semakin terlihat ketika Carrick harus menyesuaikan susunan pemain akibat cedera, termasuk menempatkan bek muda Ayden Heaven di posisi bek kiri saat menghadapi Atletico Madrid.
Heaven yang memiliki posisi alami sebagai bek tengah harus mengisi kekosongan akibat absennya Luke Shaw, sementara kegagalan mendatangkan bek kiri baru ikut memperlihatkan keterbatasan pilihan yang tersedia bagi pelatih.
Menurut laporan talkSPORT, Manchester United sebelumnya mempertimbangkan Lewis Hall dan Rayan Ait-Nouri untuk memperkuat sektor tersebut, tetapi upaya perekrutan tidak menghasilkan tambahan pemain yang dibutuhkan.
Kebijakan itu menghadirkan dilema karena penguatan lini tengah sebenarnya juga diperlukan, tetapi perekrutan yang terkonsentrasi pada satu sektor membuat persoalan di posisi lain tetap berpotensi mengganggu keseimbangan permainan.
Dengan kata lain, pengeluaran besar belum tentu menghasilkan skuad kompetitif apabila proses perekrutan tidak mempertimbangkan kebutuhan seluruh posisi, terutama ketika klub harus menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi.
Kritik Martinez menjadi relevan dalam konteks tersebut karena keterbatasan pemain belakang dapat memengaruhi kemampuan Carrick menerapkan sistem permainan, menjaga konsistensi pertahanan, dan mengantisipasi cedera sepanjang musim.
Namun, persoalan transfer Manchester United tidak semata-mata menyangkut jumlah uang yang dikeluarkan, melainkan juga kualitas pengambilan keputusan, ketepatan menentukan prioritas, dan kemampuan menjual pemain untuk memperbesar anggaran.
Jason Wilcox dan Rangkaian Keputusan yang Dipertanyakan
Sebagai direktur sepak bola, Wilcox memiliki kewenangan luas dalam pengambilan keputusan teknis Manchester United, dengan Sir Jim Ratcliffe berada di tingkat lebih tinggi sebagai pengendali kebijakan olahraga klub.
Kedudukan tersebut membuat Wilcox menghadapi tekanan besar ketika hasil pertandingan memburuk, terutama karena kebijakan transfer yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya belum mampu menjawab kebutuhan tim.
Rekam jejak Wilcox juga kembali diperbincangkan setelah sejumlah keputusan penting terkait pergantian pelatih sebelumnya dinilai memperlihatkan ketidakkonsistenan arah kebijakan sepak bola Manchester United dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, ketika Dan Ashworth masih menjalani masa cuti sebelum meninggalkan Newcastle United, Wilcox diketahui terlibat dalam proses pembahasan calon pengganti Erik ten Hag sebelum klub akhirnya mempertahankan pelatih Belanda tersebut.
Ten Hag kemudian memperoleh kontrak baru, tetapi keputusan mempertahankannya tidak berlangsung lama karena Manchester United justru memberhentikannya pada musim gugur 2024 setelah hasil pertandingan kembali mengecewakan.
Persoalan serupa muncul dalam hubungan Wilcox dengan Ruben Amorim, pelatih yang didatangkan untuk menggantikan Ten Hag tetapi kemudian mengalami perbedaan pandangan mengenai pendekatan taktik dan kewenangan teknis.
Amorim sebelumnya mengungkap bahwa Wilcox menginginkannya mengubah formasi 3-4-3, sebuah permintaan yang memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai batas tanggung jawab pelatih dan direktur sepak bola.
Ketegangan tersebut mencuat setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United pada 4 Januari 2026, sebelum Amorim kehilangan pekerjaannya sehari kemudian di tengah meningkatnya tekanan terhadap performa tim.
Sebelum bergabung dengan Manchester United pada April 2024, Wilcox pernah menjabat direktur akademi Manchester City dan direktur sepak bola Southampton sejak musim panas 2023, sehingga pengalaman kepemimpinannya kembali menjadi pembahasan.
Hubungan profesionalnya dengan Omar Berrada, yang sebelumnya sama-sama bekerja di Manchester City, juga mendapatkan perhatian karena keduanya kini menempati posisi strategis dalam struktur pengambilan keputusan Manchester United.
Meski demikian, menempatkan seluruh kesalahan kepada Wilcox berisiko menyederhanakan persoalan karena kebijakan klub tetap dipengaruhi kepemilikan, kondisi keuangan, serta keputusan bersama sejumlah pejabat eksekutif lainnya.
Utang Manchester United Membatasi Ruang Gerak Transfer
Persoalan Manchester United semakin kompleks karena kemampuan klub berinvestasi tidak hanya ditentukan oleh keinginan manajemen, tetapi juga dipengaruhi kewajiban finansial yang telah membebani perusahaan selama bertahun-tahun.
Keluarga Glazer masih menjadi pemegang saham mayoritas, sementara Ratcliffe melalui INEOS menjalankan kendali atas operasional sepak bola, sehingga tanggung jawab terhadap kondisi klub melibatkan kedua pihak dalam struktur kepemilikan.
The Guardian menyoroti beban utang Manchester United yang secara luas disebut melampaui 1,1 miliar poundsterling, sebuah kondisi yang menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan klub mendanai pembangunan skuad secara berkelanjutan.
Namun, angka tersebut perlu dibedakan dari utang bersih keuangan perusahaan karena perhitungan kewajiban yang lebih luas dapat mencakup komponen berbeda, termasuk tagihan transfer yang belum diselesaikan kepada klub lain.
Berdasarkan laporan tahunan Manchester United untuk tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni 2026, perusahaan mencatat utang bersih sekitar 621,7 juta poundsterling dengan posisi kas sebesar 67,2 juta poundsterling.
Laporan yang disampaikan kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat itu juga menunjukkan biaya keuangan bersih mencapai 69,6 juta poundsterling, meningkat dibandingkan 21,2 juta poundsterling pada tahun fiskal sebelumnya.
Kondisi tersebut tidak otomatis berarti Manchester United kehilangan kemampuan membeli pemain, tetapi kewajiban pembayaran dan pengelolaan arus kas menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa agresif klub menjalankan strategi transfer.
Di sisi lain, Manchester United mencatat pendapatan tahunan sebesar 677,6 juta poundsterling pada tahun fiskal 2026, sekaligus membukukan laba operasional sebesar 22,6 juta poundsterling setelah sebelumnya mengalami kerugian operasional.
Catatan itu memperlihatkan bahwa kekuatan komersial Manchester United masih sangat besar, meskipun peningkatan pendapatan belum sepenuhnya menghasilkan kondisi keuangan yang memungkinkan klub melakukan perekrutan tanpa mempertimbangkan kewajiban lainnya.
Perbandingan dengan Manchester City semakin memperjelas persoalan tersebut karena klub rival sekota mengeluarkan sekitar 457,5 juta poundsterling untuk perekrutan pemain, jauh lebih besar daripada pengeluaran Manchester United pada musim panas yang sama.
Manchester City juga mencatat pengeluaran bersih sekitar 175 juta poundsterling, sedangkan Manchester United berada di kisaran 100 juta poundsterling, sehingga kemampuan menghasilkan pemasukan dari penjualan pemain menjadi faktor pembeda penting.
City mendatangkan sejumlah pemain berharga mahal, termasuk Enzo Fernandez, Elliot Anderson, Ayyoub Bouaddi, dan Iliman Ndiaye, meskipun aktivitas transfer besar tersebut juga berlangsung di tengah sorotan terhadap persoalan regulasi klub.
Bagi Manchester United, persoalannya bukan sekadar bagaimana menandingi nilai belanja rival, melainkan memastikan setiap pembelian benar-benar memperbaiki kualitas skuad dan tidak kembali menciptakan beban finansial tanpa hasil olahraga memadai.
Michael Carrick Terjepit, Performa Manchester United Terus Memburuk
Michael Carrick menghadapi situasi sulit karena kritik Martinez secara tidak langsung memberikan pembelaan terhadap pelatih, tetapi hasil buruk tim tetap membuat tanggung jawab teknisnya tidak dapat dilepaskan begitu saja.
Pelatih berusia 45 tahun tersebut sebelumnya membawa Manchester United finis di posisi ketiga Liga Inggris musim lalu, setelah mengambil alih tim pada Januari ketika kompetisi hanya menyisakan 17 pertandingan.
Keberhasilan tersebut sempat membangkitkan harapan mengenai stabilitas Manchester United, tetapi perjalanan awal musim 2026/2027 justru memperlihatkan penurunan performa yang cukup tajam dalam sejumlah pertandingan penting.
Manchester United baru mengumpulkan enam poin dari enam pertandingan Liga Inggris dan menempati peringkat ke-13, sementara catatan keseluruhan musim ini menunjukkan hanya dua kemenangan dari sembilan laga di semua kompetisi.
Situasi itu menjadi semakin mengkhawatirkan karena enam poin dari enam pertandingan merupakan awal musim terburuk Manchester United dalam 40 tahun terakhir, menurut laporan perkembangan klub pada pertengahan Oktober 2026.
Carrick sebenarnya memiliki alasan untuk mengeluhkan keterbatasan skuad, tetapi kesulitan Manchester United menjaga organisasi permainan dan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain juga mengarah pada persoalan pelaksanaan taktik.
Ketika menghadapi Manchester City, Manchester United kalah 0-1 meskipun lawan kehilangan Phil Foden akibat kartu merah pada menit ke-23, sehingga muncul pertanyaan mengenai kemampuan tim mengendalikan pertandingan.
Masalah serupa terlihat ketika Manchester United hanya bermain imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, meskipun memiliki kesempatan memanfaatkan situasi lawan yang harus bermain dengan sepuluh pemain.
Kekalahan dari Hull City, hasil imbang 2-2 melawan Everton setelah gol penyeimbang Ainsley Maitland-Niles, serta tersingkir dari Piala Liga Inggris oleh Brighton semakin memperlihatkan ketidakkonsistenan permainan mereka.
Persoalan tersebut berarti kelemahan Manchester United tidak seluruhnya dapat dijelaskan melalui bursa transfer, karena strategi pertandingan, kesiapan fisik, dan kemampuan merespons perubahan situasi juga memerlukan evaluasi serius.
Statistik Fisik Memperlihatkan Persoalan Manchester United
Masalah Manchester United bukan hanya terlihat melalui jumlah kemenangan, tetapi juga tercermin dalam statistik aktivitas pemain yang menunjukkan mereka tertinggal dari sejumlah pesaing dalam intensitas permainan.
Menurut data yang dikutip The Guardian, pemain Manchester United secara keseluruhan menempuh jarak 671,4 kilometer dalam pertandingan Liga Inggris, menempatkan mereka sebagai tim dengan jarak tempuh kelima terendah.
Sebagai perbandingan, Arsenal mencatat jarak tempuh 716,2 kilometer dan menjadi yang tertinggi dalam periode pengamatan tersebut, sehingga selisihnya memberikan gambaran mengenai perbedaan intensitas aktivitas kedua tim.
Manchester United juga hanya membukukan 581 sprint, angka keempat terendah di kompetisi, sedangkan Brentford menjadi tim dengan jumlah sprint terbanyak setelah mencatatkan 765 aktivitas berlari cepat.
Statistik tersebut tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan kualitas sebuah tim karena gaya bermain memengaruhi kebutuhan berlari, tetapi tetap menjadi indikator penting ketika dikaitkan dengan hasil pertandingan.
Rendahnya intensitas fisik dapat memperburuk kelemahan organisasi permainan, terutama ketika Manchester United kehilangan bola dan harus melakukan transisi bertahan menghadapi lawan yang mampu menyerang dengan cepat.
Di tengah persoalan tersebut, Carlos Baleba justru memberikan sedikit harapan setelah menunjukkan kemampuan merebut bola, melakukan tekanan, dan membantu pergerakan serangan melalui beberapa penampilan awalnya.
Gelandang berusia 22 tahun itu sebelumnya mengalami masalah pergelangan kaki yang menghambat kesiapannya, tetapi penampilan saat menghadapi Tottenham dan Atletico Madrid memperlihatkan potensi kontribusinya terhadap keseimbangan tim.
Lisandro Martinez Minta Maaf dan Didenda, Konflik Ruang Ganti Belum Sepenuhnya Terjawab
Perkembangan penting muncul pada Kamis, 15 Oktober 2026, ketika Martinez bertemu jajaran pimpinan Manchester United bersama Michael Carrick untuk membicarakan kritik yang disampaikannya seusai pertandingan melawan Atletico Madrid.
Setelah pertemuan tersebut, Lisandro Martinez mengunggah pernyataan melalui media sosial yang berisi permintaan maaf karena menyampaikan kekecewaannya pada waktu dan tempat yang dinilai kurang tepat.
“Rasa frustrasi akibat kekalahan membuat saya mengungkapkan perasaan pada waktu dan tempat yang mungkin tidak tepat. Untuk itu, saya ingin meminta maaf,” kata Martinez.
Martinez menjelaskan bahwa pertemuan berlangsung positif karena seluruh pihak dapat bertukar pandangan secara terbuka, sekaligus membahas persoalan yang muncul setelah kekalahan Manchester United pada pertandingan Liga Champions.
Menurut laporan Reuters tertanggal 15 Oktober 2026, klub menganggap persoalan tersebut telah selesai setelah permintaan maaf, sementara tindakan disipliner internal tidak diumumkan secara resmi kepada publik.
BBC Sport melaporkan bahwa Manchester United memberikan hukuman denda kepada Martinez, meskipun besaran sanksinya tidak diungkapkan, sehingga konsekuensi finansial tersebut tetap menjadi bagian dari penanganan masalah internal.
Pemain Argentina itu kemudian menegaskan kembali keyakinannya terhadap rekan setim, Carrick, serta seluruh pihak yang bekerja di Manchester United, sembari menyatakan pentingnya memulihkan persatuan klub.
Permintaan maaf tersebut memperlihatkan upaya meredakan ketegangan antara pemain dan manajemen, tetapi tidak secara otomatis menjawab apakah seluruh keluhan mengenai transfer serta kualitas skuad telah mendapatkan penyelesaian.
Sebelum persoalan Martinez mereda, Amad Diallo juga menjadi sorotan setelah mengunggah pesan bernada keras melalui Snapchat seusai kekalahan dari Atletico Madrid, yang menggambarkan tingginya emosi di lingkungan tim.
Diallo menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang memalukan, tetapi tidak menjelaskan apakah komentarnya ditujukan kepada performa Manchester United, kritik Martinez, atau persoalan lain di dalam klub.
Ketidakjelasan itu membuat unggahan Diallo tidak dapat langsung dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap manajemen, meskipun waktunya memperlihatkan bahwa kekecewaan sedang meningkat setelah serangkaian hasil buruk.
Mantan kapten Manchester United, Roy Keane, bahkan menggambarkan situasi di bekas klubnya sebagai sebuah kekacauan ketika membicarakan polemik tersebut melalui podcast The Overlap bersama sejumlah pengamat sepak bola.
Kritik juga datang dari Wayne Rooney dan Jamie Carragher, yang mempertanyakan kepantasan seorang pemain mengungkap kelemahan skuad serta persoalan manajemen secara terbuka ketika tim membutuhkan stabilitas internal.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan dilema dalam sepak bola profesional karena pemain memiliki kepentingan menyampaikan keresahan, tetapi kritik terbuka dapat memperburuk hubungan kerja dan kepercayaan antarrekan setim.
Masa Depan Lisandro Martinez dan Michael Carrick Jadi Pertaruhan
Persoalan kontrak membuat kritik Lisandro Martinez memiliki dimensi berbeda karena pemain Argentina tersebut sedang memasuki periode penting dalam menentukan kelanjutan kariernya bersama Manchester United setelah musim 2026/2027.
Kontrak Martinez dijadwalkan berakhir pada musim panas 2027, meskipun Manchester United masih memiliki opsi memperpanjang masa kerjanya selama satu tahun tanpa harus langsung menyepakati kontrak baru.
Manajemen hingga kini belum menentukan apakah opsi tersebut akan digunakan, sementara sejumlah laporan menyebut terdapat keraguan mengenai kemungkinan Martinez tetap menjadi bagian dari rencana jangka panjang klub.
Situasi tersebut memunculkan dugaan bahwa kritik sang bek turut dipengaruhi ketidakpastian masa depannya, walaupun belum ada bukti bahwa persoalan kontrak menjadi penyebab utama pernyataan kontroversial tersebut.
Martinez didatangkan dari Ajax pada 2022 dengan biaya yang dilaporkan mencapai 57 juta poundsterling, sehingga kemungkinan kepergiannya tanpa biaya transfer akan memunculkan persoalan tersendiri bagi perencanaan keuangan klub.
Manchester United juga harus mempertimbangkan usia, kondisi kebugaran, kebutuhan regenerasi, dan nilai ekonomis sang pemain sebelum menentukan apakah perpanjangan kontrak lebih menguntungkan dibandingkan mencari pengganti baru.
Bagi Carrick, persoalannya lebih mendesak karena pertandingan melawan Leeds United pada Minggu, 18 Oktober 2026, menjadi kesempatan penting untuk menghentikan penurunan performa sekaligus memperbaiki suasana tim.
Carrick dijadwalkan menghadapi media pada Jumat sebelum pertandingan di Elland Road, dengan keputusan mengenai keterlibatan Martinez menjadi salah satu perhatian setelah polemik yang berlangsung sepanjang pekan.
Di tengah tekanan tersebut, dukungan pemain masih menjadi modal penting bagi Carrick karena Andrey Santos telah menyatakan bahwa skuad tetap mempercayai pelatih, staf kepelatihan, dan kemampuan mereka sendiri.
Namun, kepercayaan tersebut perlu diterjemahkan menjadi perbaikan hasil karena dukungan verbal tidak akan cukup apabila Manchester United terus kehilangan poin serta memperlihatkan persoalan taktik yang sama.
Kasus Lisandro Martinez pada akhirnya memperlihatkan persoalan yang jauh melampaui perselisihan seorang pemain dengan direktur sepak bola, yakni bagaimana Manchester United mengelola hubungan antara investasi, kepemimpinan, dan performa.
Permintaan maaf dapat menyelesaikan urusan disiplin, tetapi kebijakan transfer, beban keuangan, kedalaman skuad, serta konsistensi permainan tetap membutuhkan tindakan nyata agar Manchester United tidak kembali terjebak dalam siklus krisis.


