Close Menu
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Togel Hari ini
    • Keluaran Lengkap (Racik)
  • Olahraga
    •  Piala Dunia 2026
Bonanza88
Home - Olahraga - Jérémy Jacquet Langsung Menggila di Liverpool, Statistiknya Bahkan Lampaui Virgil van Dijk

Jérémy Jacquet Langsung Menggila di Liverpool, Statistiknya Bahkan Lampaui Virgil van Dijk

  • Oktober 13, 2026

Liverpool menemukan salah satu kejutan positif pada awal musim 2026/2027 melalui penampilan Jérémy Jacquet, bek muda asal Prancis yang langsung mendapatkan kepercayaan sebagai pemain inti. Meski baru menjalani musim pertamanya di Liga Inggris, kemampuan bertahannya sudah menghasilkan sejumlah statistik mengesankan.

Jérémy Jacquet didatangkan dari Rennes dengan biaya transfer yang dilaporkan mencapai 60 juta pound sterling untuk memperkuat pertahanan Liverpool setelah kepergian Ibrahima Konaté. Investasi tersebut mulai memperlihatkan hasil ketika pemain berusia 21 tahun itu mampu beradaptasi cepat dengan tuntutan permainan Andoni Iraola.

Berdasarkan analisis Opta Analyst, performa Jérémy Jacquet bahkan melampaui sejumlah bek berpengalaman dalam beberapa indikator pertahanan. Keunggulannya terlihat dari persentase kemenangan duel udara, perebutan bola di darat, hingga keberanian membangun serangan.

Namun, perkembangan positif tersebut belum sepenuhnya menjamin kestabilan pertahanan Liverpool, terutama setelah kekalahan 0-3 dari Manchester City pada Minggu, 11 Oktober 2026. Hasil pertandingan itu menjadi pengingat bahwa performa individu harus disertai koordinasi kolektif ketika menghadapi lawan dengan kualitas serangan tinggi.

Statistik Jérémy Jacquet di Liverpool, Ungguli Van Dijk dalam Duel Udara

Perjalanan Jérémy Jacquet menuju Anfield dimulai ketika Liverpool mencapai kesepakatan dengan Rennes pada Januari 2026 untuk memboyong bek tengah tersebut. Transfernya baru diselesaikan pada 1 Juli 2026, setelah sang pemain menuntaskan komitmennya bersama klub Prancis itu.

Liverpool dilaporkan mengeluarkan biaya awal sebesar 55 juta pound sterling dengan tambahan bonus yang dapat meningkatkan nilai kesepakatan menjadi 60 juta pound sterling. Angka tersebut tergolong besar untuk pemain yang saat itu belum memiliki pengalaman panjang di kompetisi papan atas Eropa.

Keputusan perekrutan itu sempat memunculkan pertanyaan karena Jacquet baru mengumpulkan pengalaman terbatas bersama Rennes dan sebelumnya menjalani masa peminjaman di Clermont Foot. Namun, Liverpool melihat kombinasi kemampuan fisik, ketenangan menguasai bola, dan potensi perkembangan jangka panjang dalam diri pemain tersebut.

Jérémy Jacquet sempat mengalami cedera bahu ketika masih memperkuat Rennes setelah kepindahannya ke Liverpool disepakati pada awal tahun. Masalah kebugaran itu kembali memengaruhi persiapan pramusim, tetapi Iraola tetap memberikan kesempatan tampil sebagai starter sejak pertandingan pembuka.

Jacquet dipercaya bermain dalam lima pertandingan pertama Liverpool di Liga Inggris, sekaligus tampil ketika menghadapi Atlético Madrid pada pertandingan Liga Champions. Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa staf pelatih menilainya cukup siap menghadapi persaingan meskipun baru bergabung dengan skuad utama.

Salah satu keunggulan terbesar Jérémy Jacquet terlihat dari kemampuan memenangkan duel udara yang sebelumnya sudah menjadi kekuatannya di Liga Prancis. Pada musim 2025/2026, ia mencatatkan tingkat keberhasilan duel udara sebesar 75,5 persen bersama Rennes.

Catatan tersebut merupakan persentase tertinggi di Ligue 1 musim lalu di antara pemain yang menghadapi setidaknya 40 duel udara sepanjang kompetisi. Konsistensi serupa kemudian terlihat di Liga Inggris ketika Jacquet berhasil memenangkan 10 dari 13 duel udara pertamanya.

Data lima pertandingan awal Liga Inggris 2026/2027, sebelum Liverpool menghadapi Manchester City pada 11 Oktober. Sumber: Opta Analyst.

Persentase berasal dari jumlah duel berbeda pada setiap pemain dan tidak boleh dianggap sebagai ukuran keseluruhan kemampuan bertahan.

Persentase kemenangan duel udara Jacquet mencapai 76,9 persen, lebih tinggi dibandingkan Virgil van Dijk yang membukukan 71,4 persen dalam periode sama. Ia juga mengungguli Ronald Araújo yang mencatatkan keberhasilan sebesar 72 persen dalam perebutan bola udara.

Di antara pemain yang menghadapi minimal 13 duel udara, hanya Harry Maguire dari Manchester United yang mencatatkan persentase lebih tinggi. Bek Inggris tersebut memenangkan 17 dari 22 duel udara, menghasilkan keberhasilan sebesar 77,3 persen pada awal kompetisi.

Keunggulan Jérémy Jacquet tidak hanya terlihat ketika menghadapi bola lambung, tetapi juga dalam perebutan bola saat berhadapan langsung dengan lawan. Ia berhasil memenangkan 19 dari 25 duel darat sehingga mencatatkan tingkat keberhasilan sebesar 76 persen.

Dalam kelompok bek yang menghadapi setidaknya 15 duel darat, hanya James Tarkowski dari Everton yang memiliki persentase kemenangan lebih baik. Tarkowski memenangkan 19 dari 21 duel, sementara Jacquet tetap menunjukkan konsistensi tinggi meski memainkan gaya bertahan lebih agresif.

Statistik tersebut memperlihatkan keberanian Jacquet menghadapi penyerang secara langsung, terutama ketika Liverpool menerapkan tekanan tinggi untuk merebut kembali penguasaan bola. Karakter semacam ini penting dalam permainan Iraola karena bek tengah sering harus meninggalkan garis pertahanan untuk menghentikan serangan.

Opta juga mencatat bahwa Jérémy Jacquet melakukan 15 percobaan dalam kategori true tackles dengan tingkat keberhasilan mencapai 73,3 persen. Tidak ada pemain yang melakukan percobaan sebanyak itu dengan persentase keberhasilan lebih tinggi dalam periode pengamatan tersebut.

True tackles merupakan ukuran yang lebih luas daripada tekel sukses biasa karena memasukkan upaya merebut bola, kegagalan melakukan tekel, serta pelanggaran saat mencoba menghentikan lawan. Pendekatan ini membantu menggambarkan efektivitas tindakan bertahan tanpa hanya menghitung momen ketika pemain berhasil menguasai bola.

Jérémy Jacquet Jadi Pengganti Konaté, Bisa Menjadi Penerus Van Dijk?

Kedatangan Jérémy Jacquet semakin penting setelah Ibrahima Konaté meninggalkan Liverpool untuk bergabung dengan Real Madrid pada musim panas 2026. Kepergian bek tim nasional Prancis itu menciptakan kebutuhan pemain baru yang mampu menjadi pendamping Virgil van Dijk di jantung pertahanan.

Liverpool sebenarnya juga mendatangkan Ronald Araújo melalui kesepakatan peminjaman dari Barcelona, tetapi pemain Uruguay tersebut lebih sering ditempatkan sebagai bek kanan. Situasi tersebut membuat Jacquet memperoleh kesempatan membangun duet bersama Van Dijk dalam sistem pertahanan yang diterapkan Iraola.

Keputusan tersebut tidak sepenuhnya bebas risiko karena Jérémy Jacquet baru berusia 21 tahun dan belum memiliki pengalaman panjang menghadapi tekanan Liga Inggris. Namun, kemampuannya membaca permainan dan memenangkan duel memberikan alasan bagi staf pelatih untuk mempertahankannya dalam susunan pemain utama.

Data Opta menunjukkan bahwa Jacquet mencatatkan rata-rata 2,9 tekel per 90 menit pada awal musim 2026/2027, lebih tinggi dibandingkan Konaté musim sebelumnya. Mantan bek Liverpool itu membukukan rata-rata 1,9 tekel per 90 menit sepanjang kompetisi 2025/2026.

Jacquet juga mempunyai tingkat keberhasilan duel darat sebesar 76 persen, sedangkan Konaté mencatatkan 66 persen pada musim terakhirnya bersama Liverpool. Perbandingan tersebut memberikan gambaran mengenai efektivitas tindakan bertahan, tetapi harus dibaca dengan mempertimbangkan perbedaan periode dan jumlah pertandingan.

Dari sisi intersepsi, Jérémy Jacquet mencatatkan rata-rata 1,7 tindakan per 90 menit, lebih dari dua kali lipat angka Konaté yang mencapai 0,8. Kemampuannya memotong aliran bola menjadi salah satu faktor yang membantu Liverpool menghentikan serangan sebelum berkembang lebih jauh.

Namun, Konaté masih mempunyai keunggulan dalam jumlah duel udara yang dimenangkan setiap pertandingan dengan rata-rata 3,6 dibandingkan 2,2 milik Jacquet. Perbedaan tersebut juga dipengaruhi jumlah duel yang dihadapi serta pembagian tanggung jawab pertahanan dalam sistem permainan masing-masing musim.

Selain kemampuan merebut bola, Jérémy Jacquet menunjukkan kualitas dalam membawa bola ke depan ketika Liverpool berusaha membangun serangan dari lini belakang. Ia mencatatkan rata-rata 9,3 progressive carries per 90 menit, melampaui Konaté yang menghasilkan 8,2 pada musim sebelumnya.

Progressive carries menggambarkan pergerakan pemain membawa bola menuju area lawan sehingga membantu tim melewati tekanan dan mempercepat pembangunan serangan. Kemampuan tersebut memberikan pilihan tambahan bagi Liverpool ketika lawan menutup jalur operan pendek menuju gelandang tengah.

Perbedaan lain terlihat dari jumlah umpan menuju sepertiga akhir lapangan yang dilakukan Jérémy Jacquet selama lima pertandingan awal Liga Inggris. Bek muda tersebut mencatatkan 57 umpan, menjadikannya salah satu pemain bertahan paling aktif dalam mengalirkan bola menuju wilayah serangan.

Hanya Virgil van Dijk dengan 76 umpan dan Jan Paul van Hecke dari Tottenham Hotspur dengan 62 umpan yang mencatatkan angka lebih tinggi. Statistik tersebut memperlihatkan bahwa Jacquet tidak hanya berperan menghentikan lawan, tetapi juga memulai fase menyerang melalui distribusi bola.

Kemampuan mengirim umpan jauh menjadi bagian penting dari permainan Jérémy Jacquet yang sebelumnya sudah terlihat ketika masih memperkuat Rennes. Bersama Liverpool, ia berhasil menyelesaikan 23 dari 36 percobaan umpan jauh dengan jarak minimal 32 meter.

Distribusi tersebut memungkinkan Liverpool memindahkan bola dengan cepat menuju pemain depan tanpa harus selalu mengembangkan serangan melalui rangkaian operan pendek. Karakter permainan ini sesuai dengan pendekatan Iraola yang membutuhkan perpindahan bola cepat setelah tim berhasil melewati tekanan lawan.

Dalam sistem tersebut, pemain bertahan dituntut memiliki keberanian mengambil keputusan sekaligus memahami risiko kehilangan penguasaan bola di area berbahaya. Jacquet menunjukkan kemampuan menjalankan tugas tersebut pada awal musim, meskipun konsistensinya masih perlu diuji menghadapi berbagai karakter penyerang.

Data awal bahkan memperlihatkan tingkat keberhasilan total duel Jérémy Jacquet mencapai 76,3 persen setelah memenangkan 29 dari 38 perebutan bola. Persentase itu menyamai catatan terbaik Van Dijk dalam satu musim Liga Inggris bersama Liverpool ketika tampil pada 2018/2019.

Meski demikian, perbandingan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Jacquet telah menyamai kualitas keseluruhan Van Dijk yang dibangun selama bertahun-tahun. Statistik pemain muda itu masih berasal dari sampel pertandingan terbatas, sedangkan kemampuan bertahan juga dipengaruhi instruksi taktik dan kualitas lawan.

Dipuji Zidane, Jérémy Jacquet Hadapi Ujian Berat Bersama Liverpool

Perkembangan Jérémy Jacquet mendapatkan pengakuan di level internasional setelah dirinya memperoleh panggilan pertama memperkuat tim nasional senior Prancis pada Oktober 2026. Pelatih Zinedine Zidane kemudian memberinya kesempatan bermain dalam pertandingan UEFA Nations League menghadapi Turki dan Italia.

Jacquet tampil mengesankan dalam dua pertandingan tersebut, terutama melalui keberanian meninggalkan posisi untuk menekan lawan dan kemampuannya memenangkan duel. Penampilan tersebut mendapatkan apresiasi langsung dari Zidane yang menyoroti kematangan pemain muda Liverpool dalam menghadapi pertandingan internasional.

“Sangat bagus, sangat, sangat bagus. Berani. Dia tidak takut bergerak jauh dari posisinya. Sangat bagus dalam duel,” ujar Zidane, sebagaimana dikutip Opta Analyst.

Pujian tersebut menjadi dorongan penting bagi Jérémy Jacquet yang baru menjalani musim pertamanya sebagai pemain Liverpool setelah meninggalkan kompetisi Prancis. Namun, cedera ringan membuatnya harus absen pada pertandingan berikutnya menghadapi Italia sehingga kesempatan menambah pengalaman internasional sempat tertunda.

Bersama Liverpool, salah satu penampilan penting Jacquet terjadi ketika menghadapi Bournemouth pada 20 September 2026 dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 1-0. Ia membantu mempertahankan gawang tetap bersih sekaligus memperpanjang rangkaian pertandingan tanpa kebobolan menjadi tiga laga beruntun di Liga Inggris.

Keberhasilan tersebut merupakan catatan tiga clean sheet beruntun pertama Liverpool di kompetisi domestik sejak September 2024, berdasarkan analisis Opta. Performa Jacquet dalam pertandingan itu bahkan mendapatkan pengakuan dari Van Dijk yang menyerahkan penghargaan pemain terbaik pertandingan kepadanya.

Namun, perkembangan positif tersebut menghadapi ujian ketika Liverpool menjamu Manchester City di Anfield pada 11 Oktober 2026. The Reds akhirnya menelan kekalahan 0-3 setelah Ryan Gravenberch menerima kartu merah pada babak kedua, yang kemudian mengubah jalannya pertandingan.

Erling Haaland, Jérémy Doku, dan Rayan Cherki menjadi pencetak gol Manchester City setelah tim tamu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Jacquet bermain selama 88 menit dalam pertandingan tersebut, sehingga hasilnya menjadi bagian dari evaluasi pertahanan Liverpool secara keseluruhan.

Kekalahan itu tidak serta-merta menghapus perkembangan Jacquet, tetapi memperlihatkan bahwa ketahanan sebuah lini belakang tidak bisa hanya bergantung pada duel individu. Pertahanan juga membutuhkan koordinasi posisi, perlindungan gelandang, dan kemampuan menghadapi perubahan situasi selama pertandingan.

Bagi pemain muda, konsistensi sering menjadi tantangan terbesar karena lawan akan semakin memahami kebiasaan serta kelemahan yang muncul sepanjang kompetisi. Jérémy Jacquet masih harus membuktikan kemampuannya ketika menghadapi tekanan berkepanjangan, pertandingan beruntun, dan penyerang dengan karakter berbeda.

Kondisi tersebut membuat pembinaan Iraola dan pengalaman Van Dijk menjadi faktor penting dalam perkembangan Jacquet sebagai bek tengah jangka panjang. Keduanya dapat membantu meningkatkan pengambilan keputusan, terutama saat menentukan kapan harus menekan lawan atau mempertahankan posisi dalam struktur pertahanan.

Hingga 13 Oktober 2026, Jérémy Jacquet telah mencatatkan enam penampilan Liga Inggris bersama Liverpool dengan total 505 menit bermain menurut data Opta. Ia belum mencetak gol maupun assist, tetapi kontribusi utamanya memang terlihat dari kemampuan bertahan dan progresi bola.

Perjalanan Jérémy Jacquet masih berada pada tahap awal sehingga penilaian mengenai potensinya sebagai penerus Van Dijk membutuhkan bukti dalam periode lebih panjang. Meski demikian, kemampuan beradaptasi cepat dan statistik bertahan yang mengesankan memberikan Liverpool fondasi positif untuk membangun pertahanan masa depan.

Jika mampu mempertahankan perkembangan tersebut, Jacquet berpeluang menjadi salah satu investasi penting Liverpool dalam menghadapi regenerasi lini belakang beberapa musim mendatang. Namun, pembuktian sesungguhnya tetap bergantung pada kemampuan menjaga konsistensi ketika menghadapi tekanan pertandingan besar dan tuntutan kompetisi yang semakin tinggi.

Jérémy Jacquet Langsung Menggila di Liverpool, Statistiknya Bahkan Lampaui Virgil van Dijk

13 Okt 2026

Mentalitas Manchester United Dipertanyakan, Statistik Ungkap Masalah Serius yang Sulit Dibantah

13 Okt 2026

Sejarah Colo-Colo: Klub Rakyat Cile yang Lebih Besar dari Sepak Bola, Dari Perlawanan hingga Kejayaan Amerika Selatan

13 Okt 2026
X (Twitter)
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.