Pensiun dari sepak bola tidak selalu berarti popularitas dan pemasukan seorang pemain langsung berhenti, terutama bagi mereka yang mampu mengubah reputasi menjadi modal bisnis. Sejumlah mantan pesepak bola bahkan membangun kerajaan usaha yang jauh melampaui dunia olahraga setelah gantung sepatu.
Perubahan ekonomi sepak bola dalam dua dekade terakhir membuat pemain elite memiliki modal, jaringan, serta kekuatan merek pribadi yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, hanya sebagian mantan pesepak bola yang mampu mengubah seluruh keuntungan tersebut menjadi bisnis berkelanjutan.
Menariknya, bisnis yang mereka bangun tidak selalu berhubungan langsung dengan sepak bola karena ada yang memilih industri makanan, properti, pacuan kuda, media, hingga bioteknologi. Sebagian lainnya justru menciptakan kompetisi olahraga baru yang kemudian berkembang menjadi produk hiburan global.
Nama seperti David Beckham atau Gerard Pique mungkin tidak mengejutkan karena kekuatan komersial mereka sudah terlihat ketika masih bermain, tetapi beberapa nama lain mempunyai kisah berbeda. Mathieu Flamini, misalnya, membangun perusahaan kimia hijau yang membuat namanya kini lebih sering dibicarakan dalam dunia bisnis.
Berikut tujuh mantan pesepak bola yang berhasil mengembangkan kehidupan setelah sepak bola menjadi kerajaan bisnis dengan model, skala, serta strategi berbeda, sebagaimana dihimpun dari GOAL dan diperbarui menggunakan laporan perusahaan, Reuters, serta sejumlah sumber terpercaya lainnya.
1. Mantan Pesepak Bola David Beckham, Mengubah Namanya Menjadi Mesin Uang Global
David Beckham bukan sekadar mantan kapten Inggris atau legenda Manchester United karena namanya telah berkembang menjadi merek komersial global selama lebih dari dua dekade. Dari fesyen hingga sepak bola Amerika Serikat, hampir semua bisnis Beckham memanfaatkan kekuatan citra pribadinya.
Beckham menjadi salah satu pemilik Inter Miami dan juga mempunyai investasi di Salford City, klub yang dibangun bersama sejumlah anggota Class of ’92. Ia sekaligus mempertahankan hubungan komersial panjang dengan merek besar seperti adidas, Tudor, Hugo Boss, dan sejumlah perusahaan internasional.
Kerajaan tersebut pernah dikelola melalui Beckham Brand Holdings sebelum struktur bisnisnya berkembang melalui DRJB Holdings, DB Ventures, serta Studio 99. Pada 2022, Authentic Brands Group menjalin kemitraan untuk ikut memiliki dan mengembangkan bisnis merek global mantan pesepak bola tersebut.
Forbes pada Mei 2026 memperkirakan kekayaan Beckham telah mencapai sekitar US$1 miliar, membuatnya masuk kelompok sangat kecil mantan atlet yang menjadi miliarder. Salah satu aset terbesarnya adalah sekitar 26 persen kepemilikan pada Inter Miami, menurut perhitungan Forbes.
Studio 99 juga berkembang menjadi perusahaan produksi serius dengan proyek untuk Netflix, Disney+, Amazon Prime Video, dan ESPN, bukan sekadar perusahaan pengelola citra Beckham. Dokumenter BECKHAM bahkan meraih Emmy serta membantu memperkenalkan sosoknya kepada generasi penggemar yang lebih muda.
Beckham kemudian ikut mendirikan IM8 bersama perusahaan kesehatan Prenetics pada 2024, memperluas bisnisnya menuju pasar suplemen dan wellness global. Forbes melaporkan bisnis tersebut menghasilkan sekitar US$60 juta pada 2025 dan menargetkan pertumbuhan jauh lebih besar sepanjang 2026.
2. Lukas Podolski, Mantan Pesepak Bola yang Sukses Jual Kebab dan Festival Musik
Jika Beckham membangun bisnis dari kekuatan merek internasional, Lukas Podolski justru menemukan kesuksesan melalui produk yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Juara Piala Dunia 2014 bersama Jerman tersebut menjadikan makanan sebagai salah satu fondasi kerajaan bisnisnya.
Podolski membuka bisnis es krim Ice Cream United di Cologne pada 2017 sebelum memperkenalkan Mangal Döner setahun kemudian, ketika dirinya masih aktif bermain. Jaringan kebab tersebut kemudian berkembang hingga memiliki puluhan gerai di berbagai wilayah Jerman.
Portofolio mantan pesepak bola Arsenal dan Bayern Munich itu tidak berhenti di industri makanan karena Podolski juga ikut mengembangkan Glücksgefühle Festival. Festival musik tersebut menjadi salah satu proyek hiburan besarnya sekaligus menunjukkan bagaimana ia mendiversifikasi pemasukan di luar sepak bola.
Podolski kemudian ikut mendirikan Baller League bersama Mats Hummels dan Felix Starck, menghadirkan pertandingan sepak bola enam lawan enam dengan pendekatan hiburan modern. Konsep tersebut akhirnya berkembang keluar Jerman dan memasuki pasar seperti Inggris serta Amerika Serikat.
Langkah paling emosional datang pada Mei 2026 ketika Podolski mengakhiri karier profesionalnya dan menuntaskan pengambilalihan mayoritas saham Górnik Zabrze. Reuters melaporkan kesepakatan dengan pemerintah kota Zabrze membuatnya beralih dari pemain menjadi pemilik klub masa kecilnya.
3. Louis Saha, Mengubah Problem Pesepak Bola Menjadi Peluang Bisnis
Louis Saha mungkin tidak memiliki kekuatan merek sebesar Beckham, tetapi mantan striker Manchester United tersebut menemukan peluang dari persoalan yang dialaminya sendiri sebagai atlet profesional. Cedera berulang membuatnya memikirkan lebih serius kehidupan, investasi, dan karier setelah sepak bola.
Setelah pensiun pada 2013, Saha mengembangkan AxisStars bersama Kate Hamer dan Patrice Arnera untuk membantu atlet dan figur publik mendapatkan akses kepada penyedia layanan terpercaya. Fokusnya mencakup manajemen karier, investasi, dukungan bisnis, hukum, hingga pengelolaan kehidupan profesional.
Situs resmi AxisStars masih mencantumkan Saha sebagai founder sekaligus CEO, sedangkan Kate Hamer menjadi co-founder dan COO perusahaan tersebut. Platform itu dibangun berdasarkan pengalaman langsung Saha menghadapi tantangan karier sebagai pemain sepak bola profesional.
Sejumlah publikasi pernah menghubungkan AxisStars dengan valuasi bernilai miliaran poundsterling, tetapi angka tersebut tidak disertai laporan keuangan publik yang memungkinkan verifikasi independen. Karena itu, nilai perusahaan sebaiknya tidak langsung disamakan dengan kekayaan pribadi mantan pesepak bola Prancis tersebut.
Hal paling menarik dari Saha justru terletak pada model bisnisnya karena ia tidak sekadar menjual nama besar, melainkan berusaha menyelesaikan masalah dalam industri olahraga. Pengalaman buruk selama bermain menjadi dasar lahirnya layanan yang ditujukan membantu generasi atlet berikutnya.
4. Mathieu Flamini, Mantan Pesepak Bola yang Masuk Bisnis Kimia Hijau
Dibandingkan enam nama lainnya, perjalanan bisnis Mathieu Flamini mungkin menjadi yang paling tidak terduga karena mantan gelandang Arsenal dan AC Milan itu memilih industri bioteknologi. Bidang tersebut nyaris tidak memiliki hubungan langsung dengan popularitas maupun pengalaman seorang pemain sepak bola.
Flamini bersama Pasquale Granata membangun GF Biochemicals ketika dirinya masih aktif bermain, dengan fokus mengembangkan bahan kimia berbasis sumber terbarukan. Perusahaan tersebut terkenal melalui produksi levulinic acid yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan berbasis minyak bumi dalam berbagai industri.
Levulinic acid dapat dimanfaatkan dalam pembuatan material, kosmetik, pelarut, hingga berbagai produk kimia yang sebelumnya bergantung pada bahan baku fosil. Karena itulah bisnis Flamini mempunyai posisi unik dibanding kerajaan usaha mantan pesepak bola lain yang umumnya berpusat pada olahraga atau hiburan.
Flamini kemudian menjadi CEO GF Biochemicals pada 2022 dan semakin aktif mengembangkan perusahaan setelah pensiun dari sepak bola. Ambisinya tidak hanya berkaitan dengan keuntungan karena ia berulang kali menempatkan perubahan iklim dan keberlanjutan sebagai alasan utama proyek tersebut.
Namanya pernah disebut memiliki kekayaan hingga sekitar £10 miliar karena besarnya potensi valuasi bisnis tersebut, tetapi Flamini sendiri membantah cara perhitungan semacam itu. Valuasi perusahaan, menurut penjelasannya, tidak dapat begitu saja dianggap sebagai uang atau kekayaan pribadi pemegang saham.
Kisah Flamini tetap luar biasa tanpa membutuhkan label miliarder tersebut karena sangat sedikit pemain elite yang beralih dari ruang ganti menuju industri kimia berkelanjutan. Ia menunjukkan bahwa pendidikan, rasa ingin tahu, dan visi jangka panjang dapat menjadi modal sebesar popularitas sepak bola.
5. Michael Owen, Dari Ballon d’Or Menuju Kerajaan Pacuan Kuda
Michael Owen sudah mempersiapkan kehidupan di luar sepak bola jauh sebelum mengumumkan pensiun karena dirinya membeli Manor House Stables ketika berusia sekitar 22 tahun. Mantan pemenang Ballon d’Or tersebut memang mempunyai kecintaan panjang terhadap dunia pacuan kuda.
Owen mengubah lokasi yang sebelumnya merupakan peternakan sapi perah menjadi fasilitas latihan kuda modern di Cheshire dengan lintasan menanjak dan fasilitas khusus. Dalam perkembangannya, kompleks tersebut menjadi rumah bagi lebih dari seratus kuda pacu berkualitas.
Salah satu kuda paling terkenal yang terkait dengan Owen adalah Brown Panther, yang dikembangbiakkan dan dimilikinya sendiri sebelum meraih sejumlah kemenangan penting. Bisnis tersebut menunjukkan bahwa mantan pesepak bola Liverpool itu tidak sekadar menginvestasikan uang sebagai pemilik pasif.
Data resmi Manor House Stables memperlihatkan operasinya tetap produktif sampai 2026, dengan 41 kemenangan dan hadiah sekitar £1,58 juta hingga 20 Agustus. Setahun sebelumnya, fasilitas tersebut membukukan 71 kemenangan serta prize money sekitar £1,69 juta.
Owen juga mempunyai sumber pemasukan dari properti, aktivitas media, serta berbagai kerja sama komersial yang dibangun sejak masih menjadi bintang sepak bola. Namun, pacuan kuda tetap menjadi investasi paling identik dengan dirinya dan telah bertahan selama lebih dari dua dekade.
6. Gerard Pique, Mantan Pesepak Bola yang Menciptakan Liga Sendiri
Gerard Pique tidak sekadar membeli bisnis yang sudah berjalan karena mantan bek Barcelona tersebut mencoba membangun produk olahraga baru untuk generasi digital. Melalui Kosmos, Pique masuk ke bisnis olahraga, media, hiburan, manajemen kompetisi, dan kepemilikan klub.
Kosmos pernah mencuri perhatian setelah menyepakati kerja sama jangka panjang dengan International Tennis Federation untuk mengubah format Davis Cup, meski hubungan tersebut berakhir pada 2023. Pique juga mengakuisisi FC Andorra dan membantu klub tersebut naik melalui beberapa tingkat kompetisi Spanyol.
Namun, Kings League kemudian berkembang menjadi proyek terbesar mantan pesepak bola Spanyol tersebut dengan konsep tujuh lawan tujuh, streamer terkenal, pertandingan singkat, serta aturan tidak konvensional. Formula itu dirancang untuk menarik penonton muda yang terbiasa mengonsumsi hiburan melalui platform digital.
Reuters pada Februari 2026 melaporkan Kings League mendapatkan pendanaan baru sebesar US$63 juta yang dipimpin Alignment Growth. Suntikan tersebut membuat total pendanaan kompetisi yang didirikan Pique melampaui US$160 juta sekaligus mempercepat ekspansi internasionalnya.
Kings League kini tidak hanya hadir melalui kompetisi awal di Spanyol karena ekosistemnya berkembang menuju berbagai wilayah dan turnamen internasional. Pique juga mengembangkan Queens League dan format lain yang semakin membuat produknya menyerupai sebuah ekosistem olahraga global.
Pique bahkan kembali memperluas portofolionya pada Agustus 2026 dengan menjadi pemegang saham strategis Fyers American Gambits di Global Chess League. Investasi tersebut memperlihatkan ketertarikannya pada olahraga yang dapat dikemas ulang menjadi produk kompetisi serta hiburan digital.
7. Gary Neville, Membangun Bisnis dari Hotel hingga Universitas
Gary Neville mungkin menjadi mantan pesepak bola dengan portofolio bisnis paling beragam dalam daftar ini karena aktivitasnya menyentuh properti, hotel, produksi media, pendidikan, serta sepak bola. Neville sudah mulai membangun jaringan tersebut jauh sebelum menjadi wajah tetap di televisi Inggris.
Bersama sejumlah mitra, Neville terlibat dalam GG Hospitality yang berada di balik Hotel Football dekat Old Trafford serta Stock Exchange Hotel. Ia juga membangun Relentless Group, perusahaan yang mengembangkan berbagai proyek properti dan regenerasi perkotaan di kawasan Manchester.
Neville kemudian memperluas bisnisnya menuju media melalui Buzz16, perusahaan produksi yang berada di balik sejumlah tayangan dan konten olahraga. Salah satu produknya yang paling terkenal adalah The Overlap, yang kemudian berkembang menjadi podcast dan platform percakapan sepak bola populer.
Sektor pendidikan menjadi pembeda lain karena Neville bersama anggota Class of ’92 mendirikan University Academy 92 atau UA92 bersama Lancaster University. Institusi itu menerima mahasiswa pertamanya pada 2019 dan menawarkan pendidikan yang menggabungkan akademik dengan pengembangan keterampilan profesional.
UA92 mencatat perkembangan cukup signifikan karena jumlah mahasiswa sarjananya meningkat dari hanya 83 pada tahun akademik 2019/2020 menjadi lebih dari 1.200 pada 2024/2025. Pertumbuhan tersebut membuat proyek Neville berkembang menjadi institusi pendidikan yang jauh lebih besar dibanding ketika pertama diluncurkan.
Neville juga mempunyai saham di Salford City bersama kelompok Class of ’92 dan tetap mendapatkan pemasukan melalui pekerjaannya sebagai pandit serta komentator televisi. Kombinasi tersebut membuat sumber pendapatannya tidak bergantung kepada satu bisnis maupun reputasi sepak bolanya.
Siapa Mantan Pesepak Bola Paling Sukses dalam Bisnis?
Menentukan siapa yang paling sukses tidak dapat hanya berdasarkan estimasi kekayaan karena struktur aset setiap tokoh berbeda, sementara banyak perusahaan yang mereka miliki bersifat privat. Beckham mempunyai keunggulan dalam nilai merek, sedangkan Flamini beroperasi pada industri dengan potensi teknologi sangat besar.
Pique mungkin menjadi yang paling inovatif karena berhasil menciptakan produk olahraga baru dan menarik pendanaan lebih dari US$160 juta untuk Kings League. Podolski sebaliknya menunjukkan bisnis sederhana seperti kebab dapat tumbuh besar apabila dikembangkan dengan branding, lokasi, dan ekspansi yang tepat.
Owen membuktikan hobi dapat berubah menjadi bisnis berumur puluhan tahun, sementara Neville memperlihatkan kekuatan diversifikasi melalui properti, media, hotel, pendidikan, dan sepak bola. Saha bahkan mengubah persoalan yang pernah dihadapinya sebagai atlet menjadi layanan untuk membantu pemain profesional lainnya.
Namun, Beckham saat ini mempunyai bukti finansial paling kuat karena Forbes pada 2026 memperkirakan kekayaannya mencapai US$1 miliar setelah memperhitungkan Inter Miami dan berbagai aset lainnya. Pendapatan dari merek Beckham sendiri juga dilaporkan meningkat menjadi sekitar US$100 juta pada 2025.
Cerita tujuh mantan pesepak bola tersebut akhirnya memperlihatkan bahwa pensiun bukan selalu akhir dari masa paling produktif seorang atlet, melainkan dapat menjadi permulaan karier kedua. Modal sepak bola memang membantu, tetapi kemampuan membaca peluang menentukan apakah popularitas dapat bertahan menjadi bisnis.
Dari kebab Podolski, laboratorium Flamini, kandang kuda Owen, hotel Neville, teknologi Saha, Kings League milik Pique hingga kerajaan merek Beckham, jalurnya sangat berbeda. Satu persamaan mereka jelas: tujuh mantan pesepak bola ini berhasil menemukan pertandingan baru setelah meninggalkan lapangan.



