Close Menu
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
  • MASUK
  • Casino
  • Bola Tangkas
  • Slot
  • Togel
    • Keluaran Togel Hari Ini
  • Olahraga
  •  Piala Dunia 2026
Bonanza88Bonanza88
Home - Olahraga - 3 Klub Ini Sukses Back To Back Juara Piala Super UEFA

3 Klub Ini Sukses Back To Back Juara Piala Super UEFA

  • Agustus 13, 2026
3 Klub Back to Back Juara Piala Super UEFA

Berdasarkan catatan resmi UEFA, Piala Super UEFA memiliki sejarah panjang sebagai panggung pertemuan para juara kompetisi antarklub Eropa, tetapi mempertahankan trofi ternyata sangat sulit. Hingga edisi 2026, hanya tiga klub yang pernah memenanginya dalam dua musim berturut-turut.

AC Milan menjadi pelopor pada 1989 dan 1990, kemudian Real Madrid menyamai pencapaian tersebut pada 2016 dan 2017. Paris Saint-Germain akhirnya masuk kelompok eksklusif itu setelah sukses pada 2025 dan mempertahankan gelar pada 2026.

Catatan tersebut terasa istimewa karena format, lawan, dan era sepak bola yang mereka hadapi sangat berbeda. Milan berjaya ketika Piala Super UEFA masih dimainkan dua leg, sedangkan Madrid dan Paris menuntaskan tugasnya dalam pertandingan tunggal.

Dalam daftar kehormatan, Real Madrid tetap menjadi klub tersukses secara keseluruhan dengan enam gelar, sedangkan AC Milan memiliki lima trofi. Paris kini mengoleksi dua gelar, dan keduanya datang secara beruntun dalam dua edisi terakhir.

Tiga Klub Back to Back Juara Piala Super UEFA

KlubEdisi BeruntunLawan Edisi PertamaLawan Edisi Kedua
AC Milan1989 & 1990BarcelonaSampdoria
Real Madrid2016 & 2017SevillaManchester United
Paris Saint-Germain2025 & 2026Tottenham HotspurAston Villa

1. AC Milan, Klub Pertama yang Back to Back

AC Milan menciptakan sejarah sebagai klub pertama yang mempertahankan Piala Super UEFA, memenangi edisi 1989 lalu 1990. Prestasi itu melengkapi dominasi pasukan Arrigo Sacchi yang juga meraih European Cup dalam dua musim beruntun.

Pada Piala Super UEFA 1989, Milan menghadapi Barcelona dalam format kandang-tandang yang masih digunakan saat itu. Leg pertama di Camp Nou berakhir 1-1 setelah penalti Marco van Basten dibalas Guillermo Amor untuk tuan rumah.

Hasil imbang tersebut membuat laga kedua Piala Super UEFA di San Siro menjadi penentu, dan Milan mampu memanfaatkan keuntungan bermain di kandang sendiri. Alberigo Evani mencetak satu-satunya gol untuk memastikan kemenangan 1-0 dan agregat 2-1 atas Barcelona.

Keberhasilan itu menjadi gelar Piala Super UEFA pertama dalam sejarah AC Milan. Rossoneri datang sebagai juara European Champion Clubs’ Cup setelah sebelumnya menghancurkan Steaua Bucuresti 4-0 pada partai final kompetisi utama Eropa.

Satu tahun kemudian, Milan kembali ke Piala Super UEFA setelah mempertahankan gelar European Cup dengan mengalahkan Benfica 1-0. Lawannya adalah Sampdoria, kampiun Cup Winners’ Cup berkat kemenangan 2-0 atas Anderlecht di final.

Duel tersebut juga menciptakan sejarah karena untuk pertama kalinya dua klub dari negara yang sama bertemu dalam Piala Super UEFA. Leg pertama di Genoa berakhir 1-1 setelah Oleksiy Mykhaylychenko mencetak gol sebelum Evani menyamakan kedudukan.

Milan kembali memperlihatkan ketenangan pada pertandingan kedua Piala Super UEFA yang dimainkan di Stadio Renato Dall’Ara, Bologna. Ruud Gullit membuka skor pada menit ke-44, kemudian Frank Rijkaard menambah gol pada menit ke-76 untuk mengunci kemenangan 2-0.

Agregat 3-1 membuat AC Milan menjadi klub pertama yang memenangkan Piala Super UEFA dua musim berturut-turut. Catatan tersebut semakin mempertegas kekuatan generasi Sacchi yang diisi Van Basten, Gullit, Rijkaard, Paolo Maldini, dan Franco Baresi.

Menariknya, Evani memiliki peran penting dalam dua gelar Piala Super UEFA tersebut meskipun nama trio Belanda Milan lebih sering mendapat sorotan. Ia mencetak gol penentu pada 1989 dan gol penyama kedudukan penting dalam leg pertama edisi 1990.

Kesuksesan Milan juga menunjukkan bagaimana Piala Super UEFA pada masa itu membutuhkan konsistensi berbeda dibandingkan format modern. Klub harus menjaga performa dalam dua pertandingan, sehingga kualitas kedalaman skuad dan kemampuan mengelola agregat menjadi sangat menentukan.

2. Real Madrid Menyamai Rekor Setelah 27 Tahun

Butuh 27 tahun sebelum muncul klub lain yang mampu menyamai pencapaian AC Milan dalam Piala Super UEFA. Real Madrid melakukannya pada era Zinedine Zidane dengan menjuarai edisi 2016 dan mempertahankan trofi tersebut setahun kemudian.

Perjalanan dimulai pada Piala Super UEFA 2016 ketika Real Madrid menghadapi Sevilla di Trondheim, Norwegia. Marco Asensio membuka skor pada menit ke-21 lewat tembakan spektakuler, tetapi Franco Vazquez menyamakan kedudukan menjelang berakhirnya babak pertama.

Sevilla kemudian berbalik unggul melalui penalti Yevhen Konoplyanka pada menit ke-72 setelah Vitolo dijatuhkan Sergio Ramos. Madrid terlihat berada di ambang kekalahan sebelum Ramos menanduk umpan Lucas Vazquez pada menit 90+3 dan memaksakan perpanjangan waktu.

Ketika pertandingan Piala Super UEFA hampir menuju adu penalti, Dani Carvajal menjadi pahlawan melalui aksi individu pada menit ke-119. Bek kanan tersebut menerobos pertahanan Sevilla dan mencetak gol kemenangan yang memastikan Madrid menang dramatis dengan skor 3-2.

Kemenangan itu memberi Real Madrid modal untuk kembali memburu Piala Super UEFA pada musim berikutnya. Los Blancos lolos ke edisi 2017 sebagai juara Liga Champions, sedangkan Manchester United datang setelah menjuarai Liga Europa bersama Jose Mourinho.

Final Piala Super UEFA 2017 digelar di Skopje dan memperlihatkan Madrid mengontrol permainan sejak awal. Casemiro membuka keunggulan pada menit ke-24 setelah menyambut umpan Dani Carvajal, sebelum Isco menggandakan skor tujuh menit setelah babak kedua dimulai.

Manchester United sempat menghidupkan pertandingan melalui gol Romelu Lukaku pada menit ke-62. Namun, Madrid mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir dan memastikan Piala Super UEFA kembali berada di tangan mereka untuk musim kedua berturut-turut.

Keberhasilan tersebut menjadikan Real Madrid klub pertama sejak Milan pada 1990 yang memenangi turnamen dua musim beruntun. Los Blancos sekaligus mengoleksi tiga gelar dalam empat edisi, setelah sebelumnya juga menang pada 2014.

Dua kemenangan beruntun itu menggambarkan kekuatan Madrid pada pertengahan dekade 2010-an, terutama kemampuan mereka mengelola pertandingan besar. Tim Zidane memiliki kombinasi pengalaman, kedalaman skuad, serta mentalitas yang membuat mereka tetap berbahaya sampai menit terakhir.

Sergio Ramos dan Dani Carvajal menjadi simbol ketangguhan pada edisi 2016, sedangkan Casemiro dan Isco mengambil peran besar setahun kemudian. Pergantian tokoh penentu tersebut memperlihatkan bahwa Madrid tidak hanya bergantung kepada satu bintang untuk memenangkan pertandingan.

3. Paris Saint-Germain Menjadi Anggota Terbaru

Paris Saint-Germain menjadi klub ketiga yang mampu mempertahankan Piala Super UEFA setelah kesuksesan pada 2025 dan 2026. Pencapaian tersebut sekaligus membawa klub Prancis itu menyamai jejak historis Milan dan Madrid dalam urusan kemenangan beruntun.

Gelar pertama datang pada Piala Super UEFA 2025 setelah Paris menghadapi Tottenham Hotspur di Udine, Italia. Pertandingan berubah menjadi ujian mental besar karena pasukan Luis Enrique tertinggal dua gol sampai memasuki menit-menit akhir laga.

Micky van de Ven membawa Tottenham unggul pada menit ke-39, kemudian Cristian Romero menggandakan keunggulan selepas turun minum. Paris baru memperkecil ketertinggalan melalui tembakan Kang-in Lee pada menit ke-85 dan mendapatkan momentum untuk bangkit.

Gonçalo Ramos kemudian menyamakan skor menjadi 2-2 lewat sundulan pada menit 90+4 setelah menerima umpan Ousmane Dembélé. Karena tidak ada perpanjangan waktu, pertandingan langsung dilanjutkan ke adu penalti untuk menentukan pemenang.

Paris sempat berada dalam tekanan ketika Vitinha gagal mengeksekusi tendangan pertama mereka pada adu penalti. Namun, Lucas Chevalier menggagalkan penalti Van de Ven, Mathys Tel gagal mencetak gol, dan Nuno Mendes memastikan kemenangan 4-3.

Kemenangan tersebut merupakan gelar Piala Super UEFA pertama dalam sejarah Paris Saint-Germain sekaligus yang pertama untuk klub Prancis. Luis Enrique juga meraih trofi keduanya sebagai pelatih setelah sebelumnya memenangi kompetisi bersama Barcelona pada 2015.

Setahun berselang, Paris mendapat kesempatan mempertahankan Piala Super UEFA setelah kembali menjadi juara Liga Champions. Aston Villa menjadi lawan mereka di Stadion Salzburg setelah klub Inggris tersebut memastikan tiket sebagai kampiun Liga Europa.

Paris membuka keunggulan pada menit ke-20 melalui Khvicha Kvaratskhelia yang menerima umpan Désiré Doué sebelum menaklukkan Marco Bizot. Aston Villa membalas menjelang turun minum melalui pemain muda Brian Madjo sehingga pertandingan kembali terbuka.

Doué akhirnya menjadi pembeda pada menit ke-61 dengan mencetak gol yang membawa Paris kembali unggul 2-1. Ia juga terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan karena menyumbang satu gol sekaligus satu assist dalam kemenangan tersebut.

Hasil itu memastikan Paris menjadi klub ketiga sepanjang sejarah yang sukses mempertahankan Piala Super UEFA. Mereka mengikuti AC Milan pada 1989-1990 dan Real Madrid pada 2016-2017, sebuah daftar yang belum pernah diisi klub lain.

Keberhasilan Paris terasa lebih mengesankan karena gelar Piala Super UEFA 2025 dan 2026 diraih melalui dua skenario berbeda. Mereka harus melakukan comeback dramatis dan menang adu penalti melawan Tottenham, kemudian mengatasi Aston Villa melalui kemenangan dalam waktu normal.

Dua trofi tersebut juga mengubah posisi Paris dalam daftar sejarah kompetisi. Mereka kini memiliki dua gelar, sementara Real Madrid memimpin dengan enam dan AC Milan serta Barcelona sama-sama mengoleksi lima kemenangan.

Mengapa Back to Back Begitu Sulit?

Kesulitan mempertahankan Piala Super UEFA berhubungan dengan syarat lolos yang sangat berat. Sebuah klub harus kembali menjuarai kompetisi Eropa pada musim berikutnya agar memiliki kesempatan mempertahankan trofi dalam edisi selanjutnya.

Pada era Milan, jalurnya bahkan berbeda karena juara European Cup berhadapan dengan pemenang Cup Winners’ Cup. Sekarang, Piala Super UEFA mempertemukan juara Liga Champions dengan kampiun Liga Europa dalam satu pertandingan sebelum musim Eropa berjalan penuh.

Perbedaan format juga membuat ketiga pencapaian tersebut mempunyai karakter masing-masing. Milan harus melewati empat pertandingan dalam dua edisi, sementara Real Madrid dan Paris cukup memainkan dua final tunggal untuk mempertahankan gelar mereka.

Namun, format pertandingan tunggal bukan berarti tugas menjadi mudah karena tidak tersedia kesempatan memperbaiki kesalahan pada leg kedua. Madrid dan Paris harus merespons tekanan secara langsung, termasuk ketika tertinggal atau pertandingan memasuki menit-menit menentukan.

Tiga klub itu juga sama-sama memiliki fondasi kuat ketika mencatat sejarah tersebut. Milan dibangun Sacchi, Madrid memiliki generasi juara bersama Zidane, sedangkan Paris berkembang menjadi kekuatan dominan Eropa di bawah Luis Enrique.

Preview Stuttgart vs Viking

Preview Stuttgart vs Viking: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Real Madrid vs Inter Milan

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
Preview Porto vs Manchester City

Preview Porto vs Manchester City: Prediksi Susunan Pemain, Head to Head, dan Jadwal Pertandingan

07 Sep 2026
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Responsible Gambling
© 2026 Bonanza88. ▲

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.